Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Wisata_Kuliner

Masjid Raya Baiturrahman, ‘Landmark Aceh’ yang Kokoh Diterjang Tsunami

Masjid Raya Baiturrahman. (Foto: Pixabay)

Masjid Raya Baiturrahman adalah pusat perjuangan, pendidikan agama Islam dan rumah perlindungan warga Aceh yang dibangun di abad 16. Masjid tangguh ini pernah menghadapi pembakaran pada masa kolonial Belanda tahun 1873 hingga tsunami di tahun 2004.

ACEH – KABARE.ID: Bila Anda bepergian ke Provinsi Aceh, salah satu tempat yang wajib dikunjungi adalah Masjid Raya Baiturrahman.

Masjid Raya Baiturrahman memiliki gaya arsitektur masjid yang indah dan memiliki nilai seni yang tinggi. Tak heran bila masjid ini disebut sebagai salah satu masjid terindah di Indonesia. Bahkan ada yang membandingkan keindahannya dengan Taj Mahal di India.

Masjid ini berlokasi sangat strategis, persis di jantung Kota Banda Aceh. Saking besarnya kubah dengan ketinggian menara yang mencapai 35 meter, dari kejauhan kita sudah bisa melihat masjid kebanggaan masyarakat Aceh ini.

Masjid Raya Baiturrahan memiliki luas sekitar 4 hektar. Halamannya yang luas beralaskan marmer. Di bagian lain, terhampar pula halaman berumput hijau serta tanaman hias dengan beraneka bunga yang cantik.

Kolam air mancur di tengah area halaman depan makin memperindah tampilan masjid. Anda akan merasakan suasana sejuk dan segar saat berada di area masjid bergaya kesultanan Turki Utsmani ini.

Selain itu, di area halaman masjid ini juga terpasang payung-payung elektrik berukuran raksasa. Payung ini membuat jemaah dan pengunjung merasa teduh dan terlindung dari terik matahari ataupun saat hujan. Payung raksasa seperti ini juga terdapat di Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi.

Pada 2016, Masjid Raya Baiturrahman berhasil meraih prestasi berupa penghargaan daya tarik wisata terbaik dalam kompetisi Wisata Halal Nasional serta kompetisi Wisata Halal Dunia.

Pernah dibakar Belanda

Di balik kemegahannya, Masjid Raya Baiturrahman memiliki kisah sejarah yang panjang. Masjid ini merupakan saksi perjuangan masyarakat Aceh melawan penjajahan Belanda.

Masjid Baiturrahman dibangun di masa Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam sekitar tahun 1621. Ketika itu, Masjid Kesultanan Aceh ini menjadi salah satu pusat pembelajaran agama Islam. Konon, masjid ini banyak dikunjungi orang dari seluruh penjuru dunia yang ingin belajar agama Islam.

Ketika agresi Belanda datang, masjid kebanggaan Kesultanan Aceh ini menjadi markas perang sekaligus benteng pertahanan rakyat Aceh. Masjid ini juga dijadikan tempat menyusun strategi dan taktik perang untuk melawan Belanda.

Pada tahun 1873, Belanda membakar Masjid Raya Baiturrahman. Hal ini tentu membuat masyarakat Aceh marah dan melakukan perlawanan lebih keras terhadap Belanda.

Bahkan, salah seorang wanita pejuang Aceh, Cut Nyak Dhien, di depan masjid yang sedang terbakar dengan lantang membangkitkan semangat rakyat Aceh untuk melawan Belanda.

Sebagai langkah antisipasi meredam kemarahan masyarakat Aceh, Belanda mulai membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman pada 1879. Pada waktu itu, pihak Belanda meminta maaf dan juga menyadari akan pentingnya keberadaan masjid bagi masyarakat Aceh.

Kokoh diterjang tsunami 2004

Mungkin masih jelas dalam ingatan kita, pada 26 Desember 2004, gelombang tsunami setinggi lebih dari 20 meter menghancurkan Aceh. Meski saat itu kondisi Aceh porak-poranda, tetapi Masjid Raya Baiturrahman tetap berdiri kokoh.

Bahkan, Masjid Raya Baiturrahman menjadi lokasi bagi masyarakat Aceh berlindung dan tinggal. Sekaligus, menjadi tempat evakuasi jenazah para korban tsunami.

Ya, dibalik keelokannya, Masjid Raya Baiturrahman punya banyak cerita sejarah. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post