Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Marga Iwari, Penghuni Asli Kampung Manopi yang Hampir Punah

Sungai Wanayo yang mengalir membelah kampung Manopi di Teluk Kuri Pasai. (Foto. Era/kabare.id)

Semenanjung Wasior dan Wondiboi memiliki banyak sejarah dan kulutur budaya yang beragam.

WONDAMA – KABARE.ID: Kampung Manopi (Wondamawi) adalah sebuah kampung di Distrik Wasior, Kabupaten Teluk Wondama yang berada di pesisir Teluk Wondama. Kampung ini didiami oleh berbagai suku seperti Suku Wondama, Suku Papua Lain, Jawa, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Sumatera dan lain sebagainya.

Semenanjung Wasior dan Wondiboi memiliki banyak sejarah dan kulutur budaya yang beragam. Di antara etnis dan kelompok suku yang hidup di sana terdapat komunitas marga asli yang merupakan penghuni asli. Mereka pada masanya hidup dan bermasyarakat di kampung Manopi dan dataran semenanjung Manopi atau Wondamawi di bawah gugusan pengunungan Wondiboi. Adapun Marga Iwari adalah komunitas marga asli yang hidup dan mendiami kawasan Manopi dan sekitarnya. 

Dalam sebuah kesempatan seorang keturunan asli marga Iwari, Ibu Yurike Waprak/Iwari menuturkan bahwa Iwari berarti tempat tinggal atau rumah turun temurun. Moyang dari marga Iwari adalah Kubusirai yang juga merupakan titisan dari moyang Kuripasai (Legenda Kuri dan Pasai).

Kubusirai adalah seorang laki-laki yang gagah perkasa. Ia berasal dari gunung yang keluar ke lembah di pesisir pantai Wondamawi dekat kali (sungai) Wanayo sekitar Manopi. Daerah itu kemudian disebut sebagai Wondamawi yang diartikan sebagai orang dari gunung.

Kubusirai juga mengujungi wilayah Teluk Wondama. Dalam perjalanannya, Kubusirai menemukan beberapa pulau (tempat) indah di Teluk Kuri Pasai. Tempat-tempat tersebut pun diberi nama Pulau Iwari, Pulau Masasi, dan Pulau Woroi.

Kubusirai kemudian melanjutkan perjalanan  ke dataran teluk yang didiami oleh Marga Ayomi. Dari sana, Kubusiarai membawa sebagian penghuni kampung itu ke pulau Yopmeos, tinggalah Marga Ayomi di pulau itu. Setelah itu Kubusirai meninggalkan pulau Yopmeos dan pergi ke sebuah pulau di tengah laut yang bernama pulau Mendose Musinam Roeswar. Ia menyusuri pulau itu dan mendapati sebuah puncak yang sangat tinggi. Dari atas puncak gunung itu Kubusirai dapat menyaksikan keindahan Teluk Indah Kuripasai.

Kubusirai kemudian memutuskan untuk kembali ke dataran “tanah besar” yaitu tanah airnya di kampung Wondamawi (Manopi), tempat di mana pertama kali Kubusirai menginjakan kaki di dataran itu. Di kampung itu Kubusirai lalu mendirikan sebuah rumah. Ia pun berkebun, berburu dan hidup di situ.

Di tanah itu mengalir air (sungai) yang kemudian dipakai oleh Kubusirai dan marga Iwari serta keturunannya. Air kali (sungai) itu kemudian dinamainya Kali Maniwi. Di kampung itu marga Iwari tidak sendiri, Kubusirai juga mempunyai istri yang bersal dari Maniwak yang bernama Wawinai dan mempunyai lima orang putra.

Di kampung Manopi/Wondamawi ini, Kubusirai dan keturunannya, yaitu Keturunan Iwari hidup dan bernak pinak. Marga Iwari sendiri kini hampir punah, hanya beberapa keturuanan aslinya yang masih mewarisi marga keturnannya ini. 

Adanya perang suku dan faktor lain membuat keturunan Kubusirai Iwari ini terus berkurang, di samping proses kawin keluar dengan suku-suku lain di sekitar Manopi seperti Tandia, Maniwak, Dusner, dan lain-lain. Kini pengguna Marga Iwari sudah sulit kita jumpai. Hanya beberapa dari kominitas marga ini yang masih ada. Itupun jumlah sangat sedikit. (era)***

 

 

Sember : Yurike Waprak, SH (Dok. Para-para Adat Tingkat Distrik Wasior, 26 Oktober 2008)
Pewarta:
Era / kabare.id

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post