Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Pendidikan

Manfaat Kesenian Bagi Tumbuh Kembang Anak

Ilustrasi: anak Indonesia bermain permainan tradisional. (Pixabay/dennies)

Tugas otak kiri itu menjawab satu-satunya jawaban yang benar, tetapi otak kanan bertugas untuk memberikan serangkaian alternatif jawaban. Kemampuan otak kanan akan berkembang jika dilatih dengan berkesenian.

JAKARTA-KABARE.ID: Belum lama ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy meresmikan Festival Lomba Seni Siswa Nasional yang digelar di Pangkalpinang dan Banda Aceh pada 26 Agustus - 1 September 2018.

Dalam pembukaannya, Mendikbud mengatakan festival lomba seni ini digelar untuk mendorong siswa mengamalkan Pancasila dalam wujud seni dan mendorong sikap kreatif sehingga dapat memperkuat karakter siswa.

Menanggapi pernyataan Mendikbud, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi atau yang lebih akrab dengan nama Kak Seto mengatakan, seni sangat penting dalam memperkuat karakter anak.

“Kita ini kadang-kadang terlalu berpikir logika saja, tetapi kurang berpikir kreatif. Jadi terlalu mengandalkan otak kiri yang semua serba eksak tapi kurang otak kanan yang unsur art atau seni,” kata Kak Seto saat dihubungi Kabare.id melalui sambungan telepon, Kamis (30/8/2018).

Kreativitas, kata Kak Seto, juga bagian dari kemampuan otak kanan yang berkaitan dengan seni, unsur-unsur perasaan, keindahan, dan sebagainya. “Jadi saya kira benar sekali bahwa seorang siswa selain juga belajar matematika, fisika, dan sebagainya yang serba eksak, juga (harus) belajar unsur seni.. agar bisa menciptakan sesuatu yang baru," katanya.

"Kalau otak kiri itu menjawab satu-satunya jawaban yang benar, tetapi otak kanan memberikan serangkaian alternatif jawaban,” sambung Kak Seto .

Seni melawan kecanduan gawai

Penari cilik menarikan tari Guel dari Gayo, Aceh Tengah. (Instagram/kemdikbud)

 

Kak Seto menambahkan, seni juga bisa dijadikan alat untuk melawan kecanduan gawai pada anak jika dikaitkan dengan sesuatu yang sifatnya fisik, gerakan-gerakan, termasuk olahraga.

“Makanya kemarin pada waktu Hari Pendidikan Nasional saya berhasil membujuk Presiden dan para menteri bermain gembira bersama dengan anak-anak di halaman Istana Merdeka. Itu intinya memerangi (kecanduan) gawai pada anak,” kata Kak Seto.

Pertama, sesuatu yang sifatnya kecanduan itu jelek, sesuatu yang berlebihan itu jelek, apa saja. Bermain itu bagus, tetapi bermain terus dan lupa yang lain itu juga jelek. Belajar bagus, tetapi kalau belajar terus itu merupakan sesuatu yang lain, katanya.

Kedua, penggunaan gawai (yang berlebihan) membuat anak jadi egoistis, membuat anak jadi kurang pergaulan, membuat anak jadi tidak bergerak. Jadi terus saja diam, akhirnya tidak sehat. Jadi banyak hal-hal yang negatif kalau itu berlebihan.

Untuk mencegah hal itu, pemberian gawai pada anak harus sesuai dengan umurnya. Usahakan anak baru diizinkan bermain gawai jika sudah di atas sekolah dasar (SD). “Jadi sebaiknya anak-anak SD itu banyak bermain, banyak bergerak, banyak berkesenian, dan banyak berolahraga,” kata Kak Seto.

Gawai memang mempunyai sejumlah manfaat, tetapi juga banyak sisi negatifnya. Kak Seto menyarankan, agar anak tidak diberikan gawai sebelum kemampuan tanggung jawab anak tumbuh. Biasanya kemampuan tanggung jawab anak tumbuh pada saat pra-remaja atau saat masa SMP.

Ilustrasi: anak kecanduan gawai. (Istimewa)

 

Lalu bagaimana jika si anak sudah terlanjur kecanduan dan sulit untuk dilarang bermain gawai? Menurut Kak Seto, orang tua juga jangan sekedar melarang, tetapi juga menghentikan dengan memberi contoh keteladanan.

Tunjukkan bahwa orang tua juga tidak tergantung pada gawai dengan cara puasa atau diet gawai. Misalnya menerapkan gerakan “1821” yakni dari jam 18:00 sampai 21:00 semua gawai termasuk televisi dimatikan.

Lantas aktivitas apa yang bisa dilakukan jika semua gawai dimatikan? Menurut Kak Seto orang tua bisa mengajak anak mendongeng, bercerita, bermain, berdialog, berdoa, beribadah, dan sebagainya.

“Dengan begitu anak bisa merasakan kehadiran orang tua dan merindukan suasana kehangatan. Kalau orang tuanya tidak hadir, hanya bisanya membentak, melarang, menyuruh-nyuruh, ya anak jadi melawan akhirnya,” kata Kak Seto yang baru saja memberikan seminar di KBRI London dan KBRI Paris mengkampanyekan pendidikan yang penuh dengan kekuatan cinta.

Dalam seminar itu, Kak Seto juga mencanangkan Gerakan “Sasana” saya sahabat anak, mulai Presiden Sahabat Anak, Menteri Sahabat Anak, Duta Besar Sahabat Anak, hingga ayah dan bunda menjadi sahabat anak. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post