Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Main Teater Dulmuluk, Seniman Sumsel Bawa Cerita LRT dan Jalan Tol

Seniman di Sumatera Selatan bawa cerita LRT dan jalan Tol dalam pentas teater Dulmuluk. (Foto: BPMI)

Layaknya ludruk, ketoprak atau srimulat di Jawa Timur, teater dulmuluk di Sumatera Selatan jadi sarana kesenian tradisional yang digemari masyarakat. Baru-baru ini, Sanggar Seni Harapan Jaya Plaju mementaskan teater dulmuluk yang di dalamnya ada cerita tentang pembangunan jalan told an proyek LRT.

JAKARTA-KABARE.ID: Baru-baru ini, sejumlah seniman dari Sanggar Seni Harapan Jaya Plaju bersama pegawai Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Kantor Staf Presiden mementaskan teater dulmuluk dalam rangka menyampaikan program pembangunan pemerintahan Presiden Joko Widodo – Wapres Jusuf Kalla di Benteng Kuto Besak.

Kito wong Plembang harus berterimakasih pada pemerintahan Pak Jokowi, karena kita sekarang punya kereta LRT, jalan tol, dana desa dan juga pembangunan-pembangunan lain,” kata seorang pemeran dulmuluk, seperti dilaporkan dalam keterangan resmi Biro Pers Istana, Selasa (5/2/2019).

Sambil menyebarkan informasi positif tentang capaian program pemerintahan Jokowi-JK, para pemain teater dulmuluk bernyanyi riang membawakan lagu Ayam Jago.

Gok ayam jagok, pegi nyangkok balek bekokok
Gok ayam jagok, gawe mak itu idak semekok
Gok ayam jagok, kalu kelakar semalem sontok
Gok ayam jagok, nak begawe jadi ngantok…

Baca juga: Pentas Teater Nyanyi Sunyi Revolusi: Menghidupkan Kembali Amir Hamzah, Penyair yang Teguh pada Kebajikan

Nama teater dulmuluk bermula dari nama pemeran utamanya, Raja Abdulmuluk Jauhari. Kesenian ini dibawa oleh Wan Bakar, seorang pedagang keliling berketerunan arab yang merantau ke Palembang pada tahun 1850-an. Wan Bakar tinggal di Kampung Tangga Takat atau daerah 16 Ulu.

Saat berjualan rempah-rempah dan hasil hutan, Wan Bakar kerap membacakan kitab hikayat, termasuk kitab syair Abdulmuluk dari Singapura bertuliskan huruf Melayu atau kitab Arab gundul. Lama kelamaan, para penggemar cerita ini membuat perkumpulan dan mementaskan kisah Dulmuluk.

Ciri-ciri pementasan dulmuluk yakni hanya dimainkan oleh pria, termasuk memerankan figur perempuan. Selain itu, dialognya kerap menggunakan pantun, syair, disertai nyanyian dan tarian yang bisa membuat para penonton terpingkal-pingkal. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post