Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Pendidikan

Mahasiswa UNY “Sulap” Limbah Tebu jadi Batu Bata Tahan Gempa

Foto: Batu bata dari limbah ampas tebu buatan mahasiswa UNY, Yogyakarta, Selasa (9/6/2020). (Dok Humas UNY)

Batu bata tahan gempa dan ramah lingkungan ini berhasil meraih dana penelitian dari Fakultas MIPA Universitas Negeri Yogyakarta.

JAKARTA – KABARE.ID: Sekelompok mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) membuat batu bata yang disebut tahan gempa. Batu bata ini dibuat dari ampas tebu yang diambil dari limbah pabrik gula Madukismo Bantul Yogyakarta.

Dikutip dari keterangan tertulis Humas UNY, Selasa (9/6/2020), kelompok itu terdiri dari tiga mahasiswi yakni Rania Nova Dechandra, Siti Vera Lestari dan Wahyuni Eka Maryati dari Prodi Pendidikan Matematika.

Latar belakang penelitian ini yakni Indonesia berada pada jalur cincin api dunia (ring of fire) yang menyimpan kerawanan terhadap ancaman gempa bumi. Untuk itu diperlukan bahan bangunan tahan gempa.

Rania menjelaskan abu ampas tebu (AAT) dipilih karena selain jumlahnya yang cukup melimpah, juga mengandung banyak senyawa yang berpotensi untuk digunakan sebagai bahan pengganti semen.

"Abu ampas tebu ini banyak mengandung senyawa silika (SiO2) yang dapat bereaksi dengan Ca(OH)2 yang dihasilkan dari reaksi pencampuran semen dan air sehingga dapat menghasilkan zat perekat seperti semen," kata Rania.

Rania melanjutkan, setelah AAT melalui proses pembakaran pada suhu 600 derajat celsius selama 2 jam, didapatkan hasil bahwa AAT mengandung 71 persen SiO 2; 2,5 persen Al 2 O 3; 8,2 persen Fe 2 O 3; 3,6 persen CaO, dan 14,7 persen lain-lain.

Menurut American Standart for Testing Material (ASTM), kandungan silika harus memenuhi syarat di atas 70 persen sehingga dapat disimpulkan bahwa AAT setelah pembakaran paling memenuhi syarat sebagai bahan bangunan.

Siti Vera Lestari menambahkan, dalam pembuatan batu bata tahan gempa dan ramah lingkungan tersebut, mereka menggunakan bentuk segienam atau heksagonal karena secara matematika bentuk heksagonal memerlukan lahan lebih hemat 13 persen. Selain itu, dengan bentuk ini juga menghasilkan lebih banyak batu bata sekitar 15 persen dibanding bentuk segiempat.

"Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa bentuk heksagonal memberikan hasil yang lebih baik dibanding bentuk segi empat. Bentuk segi enam yang disusun bersama-sama mempunyai tingkat kerekatan yang lebih tinggi," kata Siti. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post