Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Lukisan Raden Saleh "Perkelahian dengan Singa", Menjadi Favorit

Lukisan Raden Saleh "Perkelahian dengan Singa" (1870) yang terkenal dengan "Antara Hidup dan Mati", salah satu ikon yang difavoritkan pengunjung. (Foto: kabare.id/ysh)

Tahukah Anda berapa tahun usia lukisan Raden Saleh yang menjadi favorit pengunjung Pameran Seni Koleksi Istana itu? Hampir satu setengah abad.

JAKARTA-KABARE.ID : Lukisan cat minyak di atas kanvas ukuran 184 X 271 cm, tahun 1870, goresan maestro Raden Saleh ini, bersama karya pelukis asal Tomohon, Sulut / mantan Gubernur DKI Henk Ngantung "Memanah" (1944) dan pematung Hongaria Zsigmon Kisfaludi Stróbl "Pemanah" (1919), merupakan ikon-ikon Pameran Seni Koleksi Istana Kepresidenan Republik Indonesia 2018.

Pameran bertajuk "Indonesia Semangat Dunia", yang berlangsung  selama 27 hari (3-31 Agustus 2018) di Galeri Nasional Indonesia, digelar oleh Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Pariwisata, Badan Ekonomi Kreatrif, dan dukungan Mandiri Art.

Menurut Ketua Penyelenggara Rika Kiswardani yang sehari-hari menjabat Deputi Bidang Administrasi dan Pengelolaan Istana, Sekretariat Presiden, para pengunjung yang berjumlah 36.570 pengunjung, lebih memfavoritkan lukisan "Perkelahian dengan Singa" atau "Antara Hidup dan Mati". dibanding lukisan  "Memanah" dan patung "Pemanah". 

Seperti ditulis dalam katalogus pameran oleh kurator Watie Moerany dan Amir Sidharta, lukisan ini menggambarkan seekor kuda hitam yang berguling di tanah dengan sorot mata yang panik dan ngeri. Otot-ototnya tampak menegang karena punggungnya diterkam seekor singa. Penunggangnya seorang Badawi ikut terjatuh, namun berusaha melawan dengan menembakkan senjata api dari jarak dekat ke arah sang hewan buas. Sementara tu seorang yang berkulit gelap yang tampaknya adalah pembantu Badawi jatuh terkapar, mungkin mati. 

"Kemungkinan-kemungkinan antara hidup dan mati yang tercipta dari adegan dramatis dalam lukisan-lukisan inilah yang menjadikan karya Raden Saleh istimewa... Tema perjuangan mempertahankan hidup ini beberapa kali diangkat sang perupa dalam lukisan-lukisannya," tulis kurator.

Sepuluh tahun kemudian, setelah menyelesaikan lukisan itu, Raden Saleh wafat di Bogor, tepatnya 23 April 1880. Tempat pemakamannya.yang beberapa tahun lalu dipugar oleh Galeri Nasional Indonesia, tidak begitu jauh jaraknya dengan Istana Bogor, "rumah" sehari-hari bagi lukisan lukisan ini maupun lukisan-lukisan lain, yang dulu dikumpulkan oleh Bung Karno, dan kini menjadi koleksi Istana Kepresidenan RI. 

Di Bawah Bayang-bayang Penjajah

Raden Saleh, antara tahun 1863-1866. (Foto : Dok Rijkmuseum)

 

Raden Saleh Syarif Bustaman, begitu nama lengkapnya, adalah seorang Jawa keturunan Arab, kelahiran Terboyo, dekat Semarang, tahun 1811. Ia diasuh pamannya, Bupati Semarang. Sejak kecil bakatnya menonjol, dan luwes bergaul dengan orang Belanda. Ia dipercaya membantu pelukis Belgia A.A.J. Payen, yang didatangkan dari Belanda untuk melukis pemandangan Hindia Belanda.

Pada usia 18 tahun (1829) Raden Saleh dikirim ke Eropa oleh pemerintah Hindia Belanda, untuk belajar seni lukis. Di sana ia mengembangkan kemampuan artistiknya, dan mulai menemukan gayanya sendiri yang dilatarbelakangi pengalaman emosionalnya sebagai orang Jawa yang hidup di bawah bayang-bayang penjajah.

Singkat cerita, saat menetap di Den Haag ia berkesempatan mempelajari banyak binatang buas, terutama singa, milik pawang hewan terkenal Pierre Henry Martin. Sadar akan kelemahan melukis tema sejarah sebagai trasisi Eropa dan lebih unggul menggarap emosi, Raden Saleh memilih tema perburuan, dan mulai 1842 mengeksplorasi komposisi baru : seekor kuda, dengan penunggang di pinggungnya yang diterkam singa. Diilhami lukisan Horace Vernet "Mazape (and the Wolves) (1826), dan karya George Stubbs "A Lion Attacking a Horse (1765). Dari sini membuahkan karya baru "Penunggang Kuda dari Arab Diterkam Singa". Setelah kembali ke Hindia Belanda pada 1852, ia melukis "Perkelahian dengan Singa" (1870) yang terkenal dengan "Antara Hidup dan Mati" tersebut, yang reproduksi fotonya bisa Anda nikmati sekarang ini.

Yusuf Susilo Hartono

 

Yusuf Susilo Hartono

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post