Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
KABAR

Lika Liku Eva Dawalul Membawa Bordir ke Pentas Dunia

Eva Dawalul bersama koleksi karya bordirnya yang dipamerkan di pameran Inacraft 2019, di Hall B booth 76-77. (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

Sebelum terkenal seperti sekarang, Eva Dawalul hanyalah seorang pebisnis konfeksi. Ia bahkan pernah kena tipu yang menyebabkan bisnisnya hancur. Setelah bangkit, Eva punya cita-cita untuk membawa bordir Tasikmalaya ke kancah dunia.

JAKARTA-KABARE.ID: Eva Dawalul, pemilik bisnis bordir ternama di Tasikmalaya ikut berpameran di Jakarta International Handicraft Trade Fair (Inacraft), yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center (JCC), pada 24-28 April 2019.

Kehadiran Eva dengan lini fashionnya Dawalul di Inacraft 2019 difasilitasi oleh Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Tasikmalaya. Selain Eva, ada juga pengusaha kelom geulis, batik, payung geulis, makanan olahan, ayaman bambu, dan produk kayu olahan.

“Alhamdulillah kita dipercaya sama Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Tasikmalaya, untuk tampil di pameran Inacraft 2019,” ujar Eva saat mengawali pembicaaran dengan kabare.id, Rabu (24/4/2019).

Sejumlah karya bordir Eva yang ditampilkan dalam pameran Inacraft kali ini adalah blazer, dress, long coat, dan tunic. Bahannya terdiri dari double hicon, organza, sifon, hingga sutra.

Bicara tentang ciri khas, Eva menuturkan, karyanya didisain unik, etnik, full collor, dan full bordir. “Pengerjaannya juga unik, kami menggunakan mesin bordir manual yang dikombinasikan dengan karya kreatif tangan yang hanya disulam. Sehingga karya yang dihasilkan sulit untuk ditiru oleh orang lain. Karena zaman sekarang, tiru-meniru sudah lumrah, ya,” ujarnya.

Pembuka jalan

Eva Dawalul bersama koleksi karya bordirnya yang dipamerkan di pameran Inacraft 2019, di Hall B booth 76-77. (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien) 


Dawalul adalah nama yang disematkan oleh orangtua Eva dengan artian pembuka jalan. Nama itu juga yang ia gunakan untuk lini busanaya sebagai pembuka jalan kesuksesan. Hingga saat ini Eva telah memiliki 38 karyawan. Targetnya dalam dua tahun ia memiliki 100 karyawan.

“InsyaAllah, aku dengan senang hati dan ikhlas menjadi pembuka jalan orang untuk mencari rezeki,” ujarnya. Jalan itu juga termasuk untuk orang-orang yang ingin mengikuti langkahnya untuk mengembangkan bisnis bordir ke level yang lebih tinggi.

Bisnis ‘batik sulam’ Eva sudah terbilang sukses. Ia memiliki pusat produksinya sendiri yang terletak di Jalan Asrama Nyantong 39A, Tasikmalaya. Sebulan ia bisa meproduksi 350 karya dengan kisaran harga Rp1,5 juta hingga Rp10 juta.

Sebagai orang asli Kawalu yang menjadi pusat bordir Tasikmalaya, Eva sudah mengenal hiasan benang tersebut sejak kecil. Keluarganya pun berkecimpung dalam usaha penjualan kain bordir.

Pernah kena tipu dan berhasil bangkit

Pengunjung melihat karya bordir Eva Dawalul yang dipamerkan di pameran Inacraft 2019, di Hall B booth 76-77. (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien) 


Lini fashion Dawalul bukan bisnis pertama bagi Eva. Awalnya, ia menekuni bisnis mukena pada tahun 2004 silam. Mukena produksinya dijual di Pasar Tanah Abang dan Thamrin City, Jakarta.

Kala itu bisnisnya cukup sukses. Akan tetapi, kemudian muncul musibah. "Ada orang bayar pesanan ke saya, pakai giro, tapi gironya kosong. Usaha saya habis," tutur Eva. (kompas.com, 29 Agustus 2017)

Dari musibah tersebut, sekitar Rp700 juta melayang. Tidak hanya itu, Eva juga kehilangan beberapa tokonya lantaran terlilit utang. Bisnis mukena yang selama ini ditekuni Eva terpaksa harus berakhir.

Ia pun sempat mengalami titik nadir dalam hidup, trauma berbisnis karena tertipu. Perlahan, ia bangkit dengan menerima pesanan jahitan di sekitar rumahnya. Semakin berkembang, usaha jahit Eva kian besar dan menerima banyak pesanan dari beragam latar belakang.

Dawalul bahkan sudah tiga kali berpartisipasi di ajang Indonesia Fashion Week (IFW). “Dawalul Bordir sudah tiga kali berturut-turut mengikuti IFW. Dua tahun pertama difasilitasi oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya. Tahun ini (2019) kita mandiri,” ujar Eva. (radartasikmalaya.com, 20 Maret 2019).

Dawalul ada di Amerika

Salah satu detail motif bordir karya Eva Dawalul yang dipamerkan di pameran Inacraft 2019, di Hall B booth 76-77. (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien) 


Usai mengalami kejatuhan, Eva menyadari dirinya harus bertransformasi. Dari sekedar menjalani bisnis konfeksi menjadi orang yang membawa bordir ke kancah dunia. “Saat jatuh, aku belajar dari pengalaman. Aku gak bisa berhenti hanya bikin mukena, apalagi kalau bicara konfeksi itu banyak orang yang juga bikin. Aku harus gali karya, inspirasi, dan ternyata benar benar di sini (fashion),” ujarnya.

Eva menyakini bahwa bordir Tasikmalaya bisa mendunia. Bisa untuk kalangan orang banyak, tidak hanya untuk kalangan orang tua saja yang berkutat di kebaya dan mukena. “Bordir Tasikmalaya bisa masuk ke fashion dunia, fasion zaman now,” ujarnya.

Terbaru, Dawalul akan berada di Amerika dalam rangka kerja sama dengan Kai Chandra, seorang produser di Amerika. Menariknya, Kai Chandra merupakan anak bangsa yang juga berdarah Sunda, sama seperti Eva.

Saat ditanya apa target selanjutnya, Eva menjawab singkat, “Aku (Dawalul) ada di Amerika, outletku sudah ada di sana,” ujarnya penuh semangat. (bas) 

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post