Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
KABAR

Legenda Munculnya Batu Belimbing di Toboali

Foto: istimewa

Di Toboali, Bangka Selatan, terdapat batuan granit dengan ukuran besar yang menyerupai buah belimbing. Menurut legenda setempat, batuan ini muncul setelah dua orang pahlawan desa meninggal dan disemayamkan di lokasi tersebut.

JAKARTA – KABARE.ID: Legenda itu mengisahkan dua orang sahabat di sebuah kampung di tepi pantai sebelah barat kota Toboali. Dua sahabat itu adalah Bang Belim dari Suku Melayu dan Ko Abing dari Suku Tionghoa.

Mereka tumbuh bersama layaknya saudara. Kebiasaan mereka sejak kecil adalah menikmati matahari terbenam, setiap sore di sebuah batu besar yang menghadap langsung ke arah matahari terbenam. Batu itu seolah menjadi saksi persahabatan mereka.

Pada suatu ketika, terjadi wabah penyakit di kampung mereka. Korban jiwa terus berjatuhan dan keadaan semakin memprihatinkan. Bang Belim dan Ko Abing pun tak luput dari serangan penyakit aneh tersebut.

Suatu malam, keduanya bermimpi bahwa ada seorang tabib sakti di seberang lautan yang dapat menyembuhkan penyakit mereka itu. Tanpa berpikir panjang, kedua sahabat itu pun berlayar dengan perahu untuk mencari tabib sakti tersebut.

Setelah berlayar seharian, mereka menemukan tabib sakti itu. Sang tabib memberikan mereka obat berupa sejenis buah berbentuk unik. Buah tersebut bergurat-gurat, harum dan jika dilihat dari atas tampak seperti bentuk bintang.

Sang tabib mengizinkan Bang Belim dan Ko Abing membawa sebanyak yang mereka mampu untuk menyembuhkan penduduk desa. Satu butir buah tersebut dapat menyembuhkan hanya satu orang saja.

Sekembalinya di kampung, Bang Belim dan Ko Abing membagikan buah unik tersebut ke seluruh warga kampung. Ajaib! Penyakit itu langsung sembuh seketika.

Buah itu hampir habis dibagikan, hanya tersisa dua buah saja. Cukup untuk menyembuhkan kedua sahabat tersebut. Namun ternyata masih ada warga yang belum mendapatkannya.

Akhirnya, Bang Belim dan Ko Abing merelakan dua buah terakhir itu untuk seorang ibu dan anaknya. Bang Belim dan Ko Abing pun tidak tertolong. Keduanya wafat pada hari yang sama dan ditangisi seluruh warga kampung.

Sebelum meninggal kedua sahabat itu meminta agar dimakamkan bersama di tempat mereka berdua menikmati indahnya matahari terbenam. Warga kampung pun memenuhi permintaan terakhir kedua pahlawan itu.

Tujuh hari setelah pemakaman, ribuan burung walet tiba-tiba terbang dan bermain di atas langit, seolah-olah memberitahukan kabar gembira. Tiba-tiba seseorang berteriak “Ada batu besar di makam Bang Belim dan Ko Abing”.

Seluruh warga kampung berbondong-bondong menuju tempat kedua sahabat dimakamkan. Entah dari mana, tiba-tiba muncul sebuah batu raksasa di makam Bang Belim dan Ko Abing.

Ajaibnya lagi, batu itu berbentuk menyerupai buah ajaib yang menyembuhkan wabah penyakit di kampung itu. Oleh warga kampung, buah ajaib itu akhirnya diberi nama Belimbing dari gabungan nama kedua sahabat sejati itu.

Hingga kini, batu – batu besar itu berdampingan dengan batu besar yang merupakan tempat Bang Belim dan Ko Abing menikmati indahnya matahari terbenam sepanjang masa. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post