Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Wisata_Kuliner

Legenda Desa Adat di Pulau Samosir

Foto: Detik.com

Berkunjung ke Sumatera Utara, tentu Danau Toba menjadi salah satu destinasi wisata pilihan. Pengalaman menjelajah Indonesia bakal semakin lengkap dengan mendatangi Pulau Samosir.

SAMOSIR - KABARE.ID: Pulau vulkanik yang membentang di tengah Danau Toba itu menjadi destinasi wisata yang menarik karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan sejarah yang disampaikan turun-temurun. Perjalanan dimulai dari Huta Siallagan yang terletak di daerah Ambarita, Kecamatan Simanindo, Pulau Samosir.

Dalam bahasa Batak, huta berarti kampung, sedangkan Siallagan merupakan nama raja. Maka Huta Siallagan kini menjadi kampung adat Batak yang dibangun di area bekas kerajaan. Kampung didirikan oleh keluarga Batak bermarga Siallagan, hingga kemudian salah satu anggotanya memimpin dengan nama Raja Siallagan.

Deretan rumah adat Bolon akan langsung menyambut usai menjalani pemeriksaan protokol kesehatan. Tak jauh, ada patung kayu yang menari-nari. Patung itu diberi nama Sigale-gale, dan ternyata menyimpan cerita khusus. 

Patung Sigale-gale dipercaya merupakan perwujudan Manggale, anak Raja Rahat. Manggale dituturkan sebagai sosok penjunjung kebenaran, ia disegani dan dicintai rakyat karena ketangkasan berperang. Sayang, Manggale meninggal di medan tempur.

Tak tahan melihat kesedihan raja, seorang tabib mengusulkan untuk mengadakan upacara dan memahat kayu menjadi patung dengan rupa wajah Manggale. Tujuannya, agar raja bisa melepas rindu kepada Manggale.

"Sigale-gale itu artinya lemah gemulai, makanya dia (patung) bisa luwes mengikuti musik yang ada. Waktu itu (menurut kepercayaan), kalau dia mendengar musik, dia langsung menari. Tidak pakai tenaga orang, waktu itu mistis," tutur Markito Simatupang, pemandu Tari Sigale-gale, sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia, Senin (12/10/2020).

Seiring perkembangan agama di Tanah Toba, Patung Sigale-gale kini menggunakan mekanisme tali tertentu, mirip seperti konsep boneka marionette. Konon, jumlah tali yang menggerakkan Sigale-gale berjumlah sama dengan urat yang ada di tangan manusia.

Dari cerita tentang Patung Sigale-gale, spot yang juga menarik perhatian di Huta Siallagan adalah kisah Kursi Batu Parsidangan. Terdiri dari kursi-kursi dan meja batu yang telah ditempeli lumut, area ini menimbulkan kesan tersendiri. Terlebih, hikayat mengatakan persidangan ini sebagai titik awal peradaban penegakan hukum.

Tokoh adat Siallagan Gading Jansen Siallagan mengungkapkan, kejahatan yang terjadi kawasan kerajaan disidangkan di Kursi Batu Parsidangan. Kejahatan kecil akan diganjar hukuman pasung, tetapi bila raja dan petinggi adat menentukan pelanggaran yang dilakukan termasuk kejahatan besar, maka si terdakwa dijatuhi hukuman pancung.

Layaknya persidangan yang kini umum dikenal, area Kursi Batu Parsidangan juga memiliki kursi batu khusus raja, keluarga raja, dukun, algojo, penasehat korban, penasehat terdakwa, serta terdakwa itu sendiri. Menurut Gading, tak perlu heran jika banyak orang keturunan Batak yang memilih profesi pengacara.

Untuk mengenal lebih dalam tentang suku Batak, sempatkan diri berkunjung ke kawasan kerajinan tenun ulos Huta Raja, di Desa Lumban Suhi-suhi, Kecamatan Pangururan. Di sana, wisatawan bisa langsung menyaksikan cara pembuatan kain ulos, lengkap dengan alat tenun.

Seiring perkembangan zaman, ulos yang dulu hanya diserahterimakan sesama orang Batak, kini menjadi simbol kasih sayang, doa, dan penghormatan secara umum. 

Anda pun bisa merasakan sambutan hangat Desa Huta Siallagan dengan mengunjungi Pulau Samosir. Jangan lupa tetap menerapkan protokol kesehatan kala berwisata, yakni dengan memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, dan menjaga jarak. (*)


Sumber: CNN Indonesia

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post