Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Wisata_Kuliner

Kopi Toratima, Hasil Fermentasi Kelelawar Hingga Tikus

Foto: Instagram @toratimacoffee

Desa Porelea punya sajian kopi eksotis kelas satu bernama kopi toratima. Biji kopinya merupakan hasil fermentasi kelelawar, tikus, atau tupai.

SULTENG – KABARE.ID: Desa Porelea terletak di pegunungan bagian selatan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Desa Porelea masih terisolasi dari daerah luar. Akses cuma jalan setapak yang muat satu sepeda motor, diapit tebing dan jurang.

Mayoritas penduduk desa Porelea adalah petani. Budidaya tanaman padi dilakukan melalui sistem perladangan di lahan kering lereng gunung dan perbukitan dengan kemiringan ekstrem.

Di samping berladang, penduduk juga membudidayakan kopi dan cokelat. Kopi asal Porelea dinamakan kopi toratima. Komi mereka sangat khas, karena masih diolah secara tradisional. Biji kopinya merupakan hasil fermentasi kelelawar, tikus, atau tupai.

Hewan-hewan itu memakan biji kopi yang sudah matang, mengunyah dan menelan kulit kopi yang manis, lalu memuntahkan biji kopi dalam keadaan sudah terkupas (sudah jadi beras-kopi) dan berwarna putih. Kopi ini tinggal disangrai dan ditumbuk. Aromanya lebih wangi dan rasa lebih enak dibanding kopi yang dipetik.

Baca juga: Sroto Klamud, Soto Unik dari Purbalingga

Pengolahan kopi toratimo tak tersentuh mesin. Dijemur di bawah matahari dan disangrai di atas wajan tanah liat dengan bahan bakar kayu bakar. Saat proses menyangrai, wanginya menguar ke seantero desa.

Sebelum tahun 2012, kopi toratima tidak dijual, melainkan hanya untuk konsumsi sendiri, sebagai sajian bagi tamu adat, serta suguhan utama dalam upacara-upacara adat.

Namun sejak desa Porelea punya industri penggilingan kopi, pemasaran kopi dari Porelea telah memasok kebutuhan kopi desa-desa tetangga di Pipikoro hingga ke Desa Gimpu di Kulawi Selatan. Sejak 2013, kopi dari Porelea dijual dengan merk Kopi Pipikoro seharga Rp6 ribu per kemasan 100 gram.

Kopi Pipikoro dijual dalam tiga varian, yakni kopi original, beraroma jahe, dan beraroma kayumanis. Dua aroma ini didapat dari jahe dan kayumanis yang ikut disangrai bersama kopi.

Baca juga: Mie Ongklok, Kuliner Khas Wonosobo yang Menggiurkan

Kelebihan Kopi Pipikoro adalah organik, ditanam tanpa pestisida dan tanpa pupuk kimia. Bubuknya murni 100 persen kopi tanpa tambahan jagung atau beras sangrai. Jenisnya robusta sehingga relatif aman di lambung. Wanginya khas berasal dari kayu bakar saat menyangrai. Kopi ini pun diyakini sebagai obat sakit kepala.

Tak heran, orang yang biasanya “alergi kopi”, bisa minum kopi hasil bumi Porelea ini pagi, siang, sore, malam seperti penduduk Porelea pada umumnya, tanpa timbul keluhan pusing, kembung, atau diare.

Dari Kopi Pipikoro kita mengenal kopi berkualitas baik yang diolah sejalan dengan ramahnya alam. (*/bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post