Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Komunitas

Komunitas Seni Singgung Sempitnya Lahan Pertanian di Bali

Ilustrasi: instagram/agusjhidhos.

Komunitas Seni Gegutuk Menur menampilkan garapan bertajuk "Wong Tani" dalam ajang "Bali Mandara Mahalango V" untuk menyentil semakin sempitnya lahan pertanian di Pulau Dewata.

BALI-KABARE.ID: Pembina Komunitas Seni Gegutuk Menur, I Gede Tilem Pastika mengatakan, keberadaan lahan di Bali saat ini sudah mulai menipis.

“Inilah yang kami coba sentil melalui garapan Wong Tani," kata Tilem di sela-sela pementasan di Taman Budaya, Denpasar, Senin malam (30/7/2018), seperti dikutip Antaranews.com.

"Wong Tani" mengisahkan seorang pria yang menjadi juragan tanah dan mempunyai tanah luas yang digarap oleh petani di desanya. Namun, salah seorang anaknya nekat menjual sertifikat tanah karena tidak ingin bertani.

"Dia sebagai generasi muda tidak mau bertani, itu juga menandakan bahwa generasi muda sekarang lebih memilih pekerjaan di luar bidang agraris," kata Tilem.

Akhirnya anak tersebut mendapatkan hukuman dari "gamang-gamang" atau makhluk penghuni tanah itu.

Garapan dramatari yang melibatkan 70 anggota komunitas dari Banjar Tamiang, Desa Kapal, Kabupaten Badung, tersebut menggaet beberapa pihak seperti Puri Keramas Tangeb, Sekdut Bali, dan Sanggar Mangu Sancaya.

Komunitas yang mulanya terbentuk karena kesenian kecak ini menguatkan garapannya melalui unsur tari, drama, dan nyanyian, sehingga garapannya pun ibarat sebuah drama musikal. (bas)
 

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post