Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Komunitas Salihara Genap 10 Tahun Menjelajah Dunia Kreatif Seni

GM bersyukur dengan 10 tahun Komunitas Salihara menjelajah kreatif seni. (Foto: Kabare.id/ysh)

Goenawan Mohamad (GM) memotong pucuk tumpeng, lalu diberikan kepada warga termuda komunitas Salihara. Sebagai tanda syukur, atas ulang tahun ke-10 komunitas Salihara.

JAKARTA-KABARE.ID:  Sebelum acara potong tumpeng dan santap malam bersama dengan menu soto Banyumas, Rabu (8/8/2018) malam, ratusan penonton dan undangan, menyaksikan "Cablaka". Tarian kontemporer garapan Otniel Tasman, dimainkan dia di dalam kotak hitam Teater Salihara.

Karya terbaru koreografer Otnel Tasman (Indonesia), ini merupakan bagian dari SIP FEST (Salihara International Performing Arts Festival) bertajuk "Seni Senang" (Happy Go Artsy), yang berlangsung  4 Agustus - 9 September 2018.

"Cablaka" yang dimainkan oleh Otnel Tasman bersama empat penari akademis selama 60 menit, dengan romantisme gaya sub-urban, bertolak dari kosa gerak lengger Banyumasan dan pentas dangdut koplo.  Sarat nuansa dialog antara tradisi, baik secara gerak maupun simbol. Berbasis iringan musik calung dan dangdut, dengan cengkok karakteristik vokal Banyumasan.

Dalam khasanah tari konteporer, Otniel Tasman dikenal sebagai koreografer yang banyak menjelajah dan memperluas bentuk tari bersumber dari tradisi Banyumas, yang diinterpretasi secara kontemporer. Tahun lalu, ia tampil di Europalia Arts Festival (deSingel, Belgia) memainkan salah satu karya terkuatnya "Nosheheorit" (2017).

Terima kasih pada Ali Sadikin

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid (kiri), dan Wapres ke-11 Budiono, memberi karangan bunga pada koreografer, penari, dan musisi "Cablaka". (Foto: Kabare.id/ysh)

 

Dalam pidatonya dihadapan Wapres ke-11 RI Budiono dan Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid dan para penonton yang lain, GM mewakili para pendiri mengucap bersyukur, bahwa Komunitas Salihara telah sampai 10 tahun, dalam melakukan penjelajahan kreatif di dunia seni, yang nyaris mustahil.

GM berterima secara khusus kepada mantan Gubernur Ali Sadikin, yang meletakkan batu pertama pembangunan gedung Komunitas Salihara yang terletak di Jl.Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada 8 Agustus 2008 yang lalu.

Bang Ali, di mata GM, sosok yang tidak pandai bicara, akan tetapi ia bekerja dengan gigih dan berani, dalam menentang kemandekan. Bang Ali pula yang membangun Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM), yang pengelolaannya diserahkan kepada seniman, melalui wadah Akademi Jakarta, Dewan Kesenian Jakarta, manajemen TIM, dan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (sekarang Institut Kesenian Jakarta/IKJ).

Sebagai Gubernur, lanjut GM, Bang Ali tahu bahwa ada jenis-jenis kesenian yang sulit dijual, namun itu penting dan harus dirawat dan dikembangkan. Untuk itulah Pusat Kesenian dibangun dan pemerintah mendukungnya.

Sayangnya, tandas GM yang kita kenal luas sebagai tokoh wartawan, sastrawan, budayawan ini, elit politik dan birokrasi saat ini, buta huruf pada kesenian. Kalaupun mereka tahu, kesenian sebagai alat pariwisata, alat dakwah, bahkan klangenan.

Kesenian yang tak gampang dijual dan dimengerti publik, akan tetapi tidak mudah diruntuhkan dan ogah dijinakkan itu, yang kemudian dirawat dan dikembangkan di Komunitas Salihara selama satu dasawarsa belakangan ini. Dikemas dalam berbagai program: pameran, pertunjukan, diskusi, hingga festival.

Bersamaan dengan ulang tahun ini, dokumentasi digital yang terdata rapi selama 10 tahun tersebut, dibukukan oleh Jilal Mardani dkk. Tujuannya,  untuk memudahkan bagi siapa saja, terutama peneliti, yang ingin mengapresiasi secara lengkap gerak langkah Salihara. (ysh)

Yusuf Susilo Hartono

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post