Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Kompetisi UOB 2018 Tetap Kukuh di Jalur Seni Lukis

Peluncuran Kompetisi UOB POY 2018 di Galeri Nasional Indonesia, Selasa, 15/5/2018. Dari kiri: Pustanto (Kepala GNI), Maya Rizano, dan Pardi Kendy dari UOB Indonesia. (Foto: kabare.id/ysh)

Meski dunia seni rupa Indonesia dan dunia sudah berkembang sedemikan jauh, tapi kompetisi UOB Painting of the Year (POY) 2018 tetap kukuh di jalur seni lukis.

JAKARTA, KABARE ID :  Bertempat di Gedung Serba Guna Galeri Nasional Indonesia, Selasa (15/5/2018) UOB Indonesia meluncurkan UOB POY 2018. Kegiatan ini merupakan salah satu kompetisi tahunan, menuju pasar seni rupa Indonesia dan Asia Tenggara. Kompetisi untuk artis pemula dan profesional  yang ke-8 ini,  berlangsung tanpa tema, untuk memberi kekebasan kreatif peserta.

Di Asia Tenggara, kompetisi seni lukis ini telah berlangsung selama 35 tahun. Berawal di Singapura sejak 1982, kemudian meluas ke Thailand sejak 2010, dan Malaysia serta Indonesia sejak 2011. Saat Indonesia melangsungkan peluncuran UOB POY 2018, di Singapura, Thailand dan Malaysia juga berlangsung hal yang sama.

Soal kekukuhan pilihan kompetisi UOB-POY pada seni lukis yang bisa dibilang sudah kuno alias konservatif ini, adalah soal pilihan.  Jika hal itu ditelisik, mungkin ada hubungannya dengan kekukuhan nilai yang menjadi acuan PT Bank UOB yang berkantor pusat di Singapura. "Bank UOB itu konservatif dan konsisten," ujar Maya Rizano Head of Corporate Communication UOB Indonesia.

Menjawab pertanyaan wartawan, dalam bincang-bincang ringan dengan media ibukota, Maya menjelaskan bahwa  pemikiran untuk melebarkan fokus tidak hanya di seni lukis saja, memang ada. Namun ia belum bisa menjelaskan seperti apa dan kapan akan dilakukan. Paling tidak untuk sekarang ini, seni lukis dalam kompetisi UOB, acuannya tidak sempit. Dalam arti mediumnya tidak hanya kanvas kain saja, tapi sudah fleksibel, merambah ke kayu, batu, bahkan besi.

Dalam kompetisi ini terdapat dua kategori : profesional dan pendatang baru. Pendaftaran dibuka hingga 3 September 2018.  Dewan Juri untuk tahun ini perupa Entang Wiharso, kolektor Wiyu Wahono dan penulis seni rupa Bambang Bujono. Dijadwalkan, penganugerahan pemenangnya berlangsung pada tanggal 16 Oktober 2018 di Jakarta. Dilanjutkan pameran 50 Finalis UOB POY di Gedung A Galeri Nasional Indonesia, 8-19 November 2018, dikoratori  oleh Bambang Asriani Widjanarko.

Pemenang UOB POY Indonesia akan bertarung  dengan pemenang Malaysia, Singapura dan Thailand, memperebutkan gelar UOB Southeast Asian Painting of the Year untuk karya terbaik di regional Asia Tenggara. Sementara itu para pemenang UOB POY Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand, mengikuti program residensi selama satu bulan di Fukuoka Asian Art Museum di Jepang.

 

Jembatan

Diskusi ringan dengan nara sumber Bambang Bujono (kanan), Maya Rizano (kiri) dan moderator Bambang Asiri Widjanarko (tengah). (Foto: kabare.id/ysh)

 

Menurut  penulis seni rupa Bambang Bujono (Bambu), dewasa ini di Indonesia terdapat beberapa jenis kompetisi. Selain UOB, sebelumnya pernah ada Philip Morris Art Award yang digelar YSRI bersama Philip Morris (sejak 2013 menjadi Gudang Garam Arts Award), Jakarta Art Award yang digelar Gubernur DKI Fauzi Bowo, Indofood Art Award, dll. Secara umum kompetisi-kompetisi tersebut berperan sebagai "jembatan", terutama bagi artis pemula ke medan seni rupa.

Hal tersebut dibenarkan Maya, dengan pengalaman kompetisi  UOB. Dengan peserta lebih dari 1000 dari seluruh Indonesia, pada setiap kompetisi, banyak sekali muncul wajah baru.  Dan setelah mereka masuk final, apalagi menang, mereka langsung diperhitungkan (pasar di Tanah Air). Misalnya Henryette Louise YT, pemenang Gold dari pendatang baru UOB POY 2016. Tidak hanya sampai disitu, perupa profesional Indonesia yang menang di tingkat Asia Tenggara, misalnya Anggar Prasetyo (2016), juga disambut medan sosial seni rupa Asia Tenggara. Karya mereka tak henti menjadi pembicaraan para pengamat dan peminat seni lukis.

Direktur Channels UOB Indonesia Pardi Kendy dalam sambutannya mengatakan secara konsisten UOB mendukung perkembangan seni lukis di Asia Tenggara. Melalui perhelatan seni tahunan ini pihaknya berharap dapat menciptakan wadah berkarya yang positif dan berkelanjutan.

Tahun ini, UOB POY Indonesia didukung dengan program lokakarya seni untuk 200 anak pinggiran, melibatkan nara sumber dari para pemenang UOB. Selain itu  diskusi keliling di Bentara Budaya Jakarta (24 Mei), ITB Bandung (28 Juni), Bentara Budaya Yogyakarta (12 Juni) dan Bentara Budaya Bali (28 Juli). (ysh)

Yusuf Susilo Hartono

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post