Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Komunitas

KKP Latih Masyarakat Olah Mie Rumput Laut

Mie dari bahan dasar rumput laut. (Foto: dok. KKP)

KKP menggelar pelatihan membuat mie menggunakan rumput laut. Pelatihan disambut antusiasi oleh masyarakat luas. Tercatat sebanyak 804 peserta dari beragam profesi di seluruh wilayah Indonesia mengikuti pelatihan tersebut.

JAKARTA - KABARE.ID: Di tengah keterbatasan kegiatan ekonomi imbas pandemi Covid-19, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) terus melakukan terobosan-terobosan guna menghidupkan ekonomi masyarakat. Salah satunya melalui penyediaan berbagai pelatihan sektor kelautan dan perikanan daring gratis.

Kali ini, Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BP3) Medan bekerja sama dengan Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Winner Perkasa Indonesia Unggul menyelenggarakan “Pelatihan Membuat Mie Rumput Laut”. Pelatihan disambut antusiasi oleh masyarakat luas. Tercatat sebanyak 804 peserta dari beragam profesi di seluruh wilayah Indonesia mengikuti pelatihan.

Kepala BRSDM Sjarief Widjaja mengungkapkan, rumput laut (algae) merupakan salah satu produk perikanan unggulan Indonesia yang menjanjikan untuk dikembangkan sebagai peluang usaha. Sedikitnya terdapat 550 jenis rumput laut dari sekitar 8.000 jenis yang ada di dunia dapat tumbuh dengan baik di wilayah Indonesia. Hal tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu produsen rumput laut nomor satu di dunia, khususnya untuk jenis Eucheuma cottoni.

“Produksi rumput laut nasional tahun 2019 mencapai 9,9 juta ton. KKP menargetkan produksi ini meningkat hingga 10,99 juta ton pada tahun 2020 dan 12,33 juta ton pada tahun 2024,” ujarnya, pada Kamis (23/7/2020).

Rumput laut Indonesia pun memiliki pasar yang besar. Berdasarkan data FAO (2019), Indonesia menguasai lebih dari 80 persen pangsa pasar ekspor. Beberapa negara peminat di antaranya ialah Tiongkok dan Filipina. Baru-baru ini, Vietnam juga membuka pasarnya menjadi potensi ekspor baru.

Pada tahun 2019, nilai ekspor rumput laut Indonesia mencapai USD324,84 juta. Angka ini tumbuh 11,31 persen dibanding tahun sebelumnya yang mencapai USD291,83 juta. Adapun selama tahun 2014-2019, ekspor rumput laut nasional tercatat tumbuh rata-rata sebesar 6,53 persen per tahun.

“Meskipun begitu, patut disayangkan bahwa rumput laut yang kita ekspor saat ini umumnya masih berupa bahan baku mentah atau produk bernilai tambah rendah. Untuk itu, pelatihan membuat mie rumput laut kali ini diharapkan dapat berkontribusi sebagai terobosan untuk meningkatkan nilai tambah rumput laut,” kata Sjarief.

Tak hanya itu, Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP) Lilly Aprilya Pregiwati berharap agar pelatihan ini dapat menjadi peluang usaha baru bagi masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19. Kendati pembatasan sosial masih berlaku di beberapa daerah, ia mendorong agar masyarakat tetap produkif dan aktif berkarya.

“Dengan pengetahuan dan keterampilan mengolah mie rumput laut, diharapkan pelatihan ini dapat mendijadikan peluang usaha baru bagi masyarakat Indonesia,” ucapnya.

Sejalan dengan itu, Ketua P2MKP Winner Perkasa Indonesia Unggul, Maria Gigih, selaku pelatih dalam pelatihan kali ini menyatakan bahwa rumput laut memiliki potensi pasar yang besar. Dalam pengalamannya menekuni usaha rumput laut selama lebih dari dua puluh tahun, rumput laut selalu memiliki peminat yang tingg terutama untuk ekspor. Hal ini terbukti dari rata-rata volume ekspor usahanya yang mencapai 100 ton/bulan dengan omzet sekitar Rp3 miliar.

Kendati demikian, ia berharap agar rumput laut Indonesia dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat luas. Pasalnya, selama ini serapan pasar ekspor masih jauh lebih tinggi dibandingkan serapan dalam negeri. “Saya berharap supaya serapan rumput laut dalam negeri itu meningkat. Jadi tidak hanya besar di ekspor, tapi orang dalam negeri tidak kenal,” tutur Maria.

Untuk itu, ia berharap agar pelatihan mie rumput laut kali ini menumbuhkan wirausaha-wirausaha baru di tengah masyarakat.

Pelatihan ini mendapatkan apresiasi dari para peserta yang hadir. Peserta asal Binjai Baru, Sumatera Utara, Nova Kurniasari, mengungkapkan bahwa dirinya mendapat pengetahuan dan keterampilan baru untuk mendiversifikasi produk perikanan. Ia pun terinspirasi untuk memulai usaha mie rumput laut dalam dalam waktu dekat.

Peserta lainnya asal Kudus, Jawa Tengah, Mariam menyatakan akan memproduksi mie rumput laut sebagai menu tambahan di warung makan miliknya guna menambah penghasilan tambahan. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post