Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
BISNIS

Kisah Gadis Borneo Buka Restoran di Paris

Salah satu sudut restoran Borneo di Paris. (Foto: http://borneoparis.com)

Menteri Pariwisata Arief Yahya dibuat kagum dengan kehadiran Borneo a Paris, sebuah restoran di Paris milik Melda Indriyani Kaunang, yang berasal dari Balikpapan, Kalimantan Timur.

PARIS-KABARE.ID: Restoran yang berada di Marche Vaugirard 30-32 Boulevard de Vaugirard, 75015 Paris itu, membuat Menpar Arief Yahya kagum karena sang pemilik ikut melayani sendiri para tamu yang datang ke restorannya.

“Saya bangga! Ada anak muda Indonesia yang gigih, bermental kuat, berani menjadi entrepreneur di Kota Paris dengan membuka restoran masakan Indonesia,” ujar Menpar dalam keterangan resminya, belum lama ini.

Mendirikan restoran Indonesia di Paris bukan hal mudah. Melda mengaku dia sudah 15 kali ditolak bank untuk mendapatkan kredit usaha restorannya.

Baca juga: Mie Instan dan Kopi Indonesia Ikut Memeriahkan Pameran Pariwisata di Serbia

Kala itu dia mengajukan kredit 100 ribu Euro, dengan tenor selama 4 tahun. Dua tahun lamanya, dia berusaha dari satu bank ke bank yang lain untuk mendapatkan modal itu.

Selain itu, untuk mendapatkan izin usaha restoran di Paris juga tidak mudah. Harus memiliki banyak standar dan selalu dikontrol oleh pemerintah. Hal ini dipersulit manakala Melda tidak punya basic pengalaman di bisnis restoran.

“Saya bisa membayangkan, betapa gigihnya Melda. Perempuan, harus menghidupkan bisnisnya, menjaga customersnya, membayar tenaga kerja dan pajak-pajaknya, persiapan inventory-nya, variasi menu yang periodic, sampai financing-nya. Saya salut dan bangga,” kata Menpar Arief Yahya.

“Kini restorannya cukup luas, 100 meter persegi, dan selalu ramai saat makan siang dan makan malam,” jelas Menpar Arief Yahya.
 

Menteri Pariwisata Arief Yahya dan pemilik restoran Borneo a Paris, Melda Indriyani Kaunang. (Foto: Instagram Borneo a Paris)


Dalam kunjungan itu, Menpar Arief Yahya sempat mencicipi hidangan rendang, nasi goreng, soto, gado-gado dan sate. Hampir semua hidangan dipuji rasanya. Menpar juga sempat mencoba tahu penyet dengan sensasi sambal yang pedas.

“Apakah orang Prancis doyan pedas?” Tanya Menpar pada Melda.

“Yang datang ke sini, suka pedas. Dulu rendang saya buat tidak terlalu pedas, takut orang sini sensitif perutnya, eh ada yang protes. Katanya mereka pernah ke Indonesia dan merasakan rendang itu ada pedasnya,“ jelas Melda.

Melda juga menjelaskan, porsi makanannya tergolong super besar. “Ini porsi untuk ukuran perut orang Prancis yang besar. Dulu pernah saya buat dengan porsi makanan ala orang Indonesia, mereka juga komplain, karena harus mencari makanan lain di tempat lain,” ujarnya.

Baca juga: Warga Amerika “Ketagihan” Kue Tradisional dan Kopi Indonesia

Bicara soal mengawali bisnis restoran di Paris, Melda pun bercerita panjang. Perjuangannya diawali dari kegiatan semacam bazar di Kantor UNESCO di Paris. Saat itu dia berjualan mie instan, dan responsnya bagus. Lalu dia coba kembangkan dengan jualan ke teman-temannya. “Responsnya kok semakin bagus,” ungkap Melda.

Dari situlah dia semakin serius membuat restoran dengan konsep “warung makan” bernama Borneo a Paris. Selain membuka restoran, Melda juga menerima pesanan secara online di platform AlloResto, UberEat, dan Glovo. (rls/bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post