Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Kerbau Bule ‘Bintang’ Perayaan Malam Satu Suro di Solo

Dokumentasi, perayaan Malam Satu Suro di Solo dengan Kerbau Bule sebagai ‘Bintang’ acara. (Instagram/solonyaman)

Kerbau Bule, atau dikenal dengan nama Kerbau Kyai Slamet, adalah ‘bintangnya’ perayaan Malam Satu Suro, di Solo. Tugasnya adalah memimpin barisan pembawa pusaka Keraton Kasunanan Solo.

SOLO-KABARE.ID: Malam Satu Suro sendiri adalah istilah untuk tradisi perayaan pergantian Tahun Baru Islam, yang dikenal di masyarakat Jawa. Tahun ini, perayaan Tahun Baru Islam atau 1 Muharram 1440 Hijriyah jatuh pada hari Selasa, 11 September 2018.

Biasanya, masyarakat berbondong-bondong ke sekitar Keraton dan ke jalanan untuk menyaksikan kirab yang dipimpin oleh Kerbau Bule.

Kerbau bule tidur. (Foto: Instagram/damarstyo)


Dinukil dari laman bobo.grid.id, selain warna kulit dan bulunya yang ‘berbeda’, ternyata kerbau ini memiliki sejarah yang panjang dalam kehidupan Keraton Kasunanan dan masyarakat suku Jawa. Kerbau Bule merupakan peninggalan dari raja-raja sebelumnya yang ditinggalkan turun-temurun.

Penyematan nama Kyai Slamet pada kerbau ini juga ada ceritanya. Hewan kesayangan Raja Pakubuwono II ini merupakan hadiah dari Kyai Hasan Besari Tegalsari Ponorogo untuk sang Raja sebagai cucuk lampah atau pengawal dari sebuah pusaka keraton yang namanya Kyai Slamet.

Karena itulah, masyarakat menyebutnya Kerbau Kyai Slamet, termasuk juga untuk para keturunannya yang ada di Keraton Solo saat ini.

Uniknya lagi, kirab Malam Satu Suro di Solo hanya dijalankan sesuai kemauan si Kerbau. Maka tak heran jika kirab tersebut terkadang dimulai tengah malam, saat Kerbau Bule mau ke luar dari kandangnya.

Kirab pusaka dan Kyai Slamet Kasunanan Surakarta. (Instagram/satria.seys)

 

Menurut Sasono Pustoko Keraton Surakarta Gusti Pangeran Haryo (GPH) Puger, tradisi ini muncul pada awal Kerajaan Mataram Islam. Pada masa itu, kerbau dan pusaka diartikan sebagai simbol keselamatan.

Pada masa itu juga ada pusaka dan kerbau yang dinamai Kyai Slamet, yang hanya dikeluarkan pada masa genting seperti bencana alam atau wabah penyakit.

Sementara, menurut Sudarmono, sejarawan dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, kerbau memiliki ikatan yang erat dengan sejarah kerajaan di Jawa. Di Kerajaan Demak, misalnya, ada cerita tentang Kerbau yang tidak bisa dikalahkan oleh prajurit kerajaan yang akhirnya dikalahkan oleh Jaka Tingkir.

Kerbau juga menjadi simbol kekuatan masyarakat Jawa yang sebagian besar pekerjaanya adalah petani.

Menurut Sudarmono, kerbau Kyai Slamet adalah visi dari Raja Keraton Kasunanan pada masa itu untuk mewujudkan keselamatan, kemakmuran dan rasa aman bagi masyarakatnya. (bas)


 

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post