Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Kerajinan Getah Nyatu dan Identitas Suku Dayak

Foto: Pesona.travel/ Prawin

Masyarakat dayak memiliki banyak kearifan lokal dalam mengeksplorasi kekayaan alamnya. Salah satunya adalah kerajinan getah nyatu yang unik.

JAKARTA – KABARE.ID: Hutan tropis di Kalimantan menyimpan beragam pepohonan. Salah satu pohon yang ada di sana adalah pohon nyatu. Dari pohon ini, lahirlah beragam kerajinan tangan yang dikembangkan oleh masyarakat Dayak, terutama di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.

Salah satu kerajinan yang terkenal adalah getah nyatu dan pernah populer pada 1980-an. Saat liburan ke Kapuas, rasanya tidak lengkap jika tidak berbelanja dan mencari oleh-oleh kerajinan dari getah nyatu.

Pohon nyatu dipakai sebagai bahan utama pembuatan kerajinan getah nyatu. Pohon ini banyak dijumpai dan memiliki kemampuan berkembang biak dalam waktu yang sangat singkat. Dalam enam bulan, pohon nyatu sudah mencapai tinggi sekitar delapan meter, dan dianggap layak untuk dipangkas dan diambil getahnya.

Pemangkasan pohon nyatu tidak bisa dilakukan sembarangan. Panen pohon nyatu harus sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh tetua adat. Ini dilakukan demi menjaga tradisi sekaligus kelestarian lingkungan. Namun, belakangan banyak lahan pohon nyatu yang berubah menjadi kebun sawit.

Baca juga: Rumah Tradisional Aceh Selalu Menghadap Kiblat

Untuk menghasilkan kerajinan yang memiliki nilai ekonomis, getah nyatu harus diolah melalui beberapa tahap yang cukup rumit. Batang-batang pohon nyatu yang sudah dipanen dipisahkan dengan kulitnya. Batang tersebut lalu direbus. Untuk mendapatkan getah yang baik, proses perebusan batang pohon nyatu dilakukan sebanyak tiga kali.

Perebusan pertama dilakukan dengan mencampurkan minyak tanah, untuk memisahkan batang pohon dengan getahnya. Perebusan kedua menggunakan air, untuk memisahkan getah nyatu dengan minyak tanah.

Setelah getah nyatu terkumpul, dilakukan perebusan terakhir untuk menambahkan warna pada getah tersebut. Pewarnaan menggunakan bahan-bahan alami, yaitu berbagai daun yang memiliki kekhasan warna tertentu.

Proses selanjutnya adalah pembentukan, dan ini bisa dilakukan ketika getah nyatu masih dalam kondisi panas. Bentuk yang biasanya dipilih adalah perahu naga atau perahu burung tingang yang menggambarkan suasana perang.

Baca juga: Nyadran, Tradisi Umat Muslim di Jawa Menjelang Datangnya Bulan Ramadhan

Selain itu juga ada perahu yang digunakan dalam upacara tiwah, yaitu upacara mengantarkan tulang orang yang sudah meninggal. Bentuk yang lain adalah replika prajurit Dayak lengkap dengan cawat, mandau, dan talawang.

Selain warna-warna yang terang, kerajinan getah nyatu memiliki tingkat kedetailan yang tinggi. Bentuknya pun unik sehingga cocok untuk dijadikan pajangan atau pelengkap dekorasi ruang. Ada juga souvenir kecil yang menarik, misalnya gantungan kunci.

Sayang, kini ketersediaan getah nyatu tak sebanyak dulu karena jumlah pohon nyatu yang semakin terbatas. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post