Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
MATA AIR

Kepompong Kupu-Kupu

Ilustrasi. (pxhere.com)

Oleh: Reza V. Maspaitella

Di sebuah taman depan rumah, saya melihat seekor kupu-kupu kuning terbang dengan gerakannya yang indah seperti  penari balet yang bahagia. Hinggap sejenak pada kelopak bunga yang satu, lalu terbang kembali hinggap pada bunga yang lain, dan akhirnya membubung tinggi, hilang di balik pohon besar.

Saya diam-diam mengagumi warnanya, bentuknya, kelincahannya. Dari situ saya teringat kepada Yang Menciptakan Kupu-kupu, yang tak lain Yang Menciptakan diri saya, kita semua, bahkan semua makhluk yang ada di muka bumi, di udara, hingga semua planet yang ada. Jadi kupu-kupu dan manusia, saudara kandung yang berbeda bentuk dan jenisnya. Kupu dikuasai oleh instink, sedangkan manusia dikuasai akal budi yang menghasilkan kebudayaan.

Untuk mencapai keindahannya itu, kupu-kupu ternyata harus melewati sebuah proses metamorfosis, dalam arti proses menjadi sempurna. Berawal dari telur,  berkembang menjadi larva (ulat) yang mengonsumsi cangkang sendiri sebagai makanan pertamanya. Setelah itu menjadi pupa (kepompong),  akhirnya menjadi kupu-kupu. Pada siang hari kupu-kupu terbang mencari makanan, dan beristirahat di daun pepohonan pada malam hari.

 Manusia dan perusahaan, juga mengalami pertumbuhan, perkembangan, bahkan mungkin juga “metamorfosis” dalam bentuknya yang berbeda. Dalam konteks Majalah Kabare, sejak kelahirannya di Yogyakarta   2012, hingga tumbuh besar di Jakarta, hingga pindah berkantor pusat di Jakarta 2015 sampai sekarang dapat dimaknai sebagai proses metamorphosis. Kini, kupu- kupu Kabare itu semoga bisa terbang di langit Indonesia hingga mancanegara membawa kabar baik: kebudayaan yang berkemajuan. Itulah “mata air” kini dan esok.

 

Salam budaya

 

 

*Tulisan ini pernah dimuat Majalah Kabare edisi Juni 2017.

Kabare.id

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post