Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
NASIONAL

Kemenristek Akan Bentuk Konsorsium Vaksin Merah Putih

Foto: Infopublik.id

Kementerian Riset dan Teknologi akan membentuk Konsorsium Vaksin Merah Putih terkait dengan pengembangan Vaksin Covid-19.

JAKARTA - KABARE.ID: Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) akan membentuk Konsorsium Vaksin Merah Putih terkait dengan pengembangan Vaksin Covid-19.

“Dalam rangka pengadaan vaksin COVID-19 di Indonesia, kita mencoba mengembangkan vaksin dengan pendekatan cepat, efektif, dan, mandiri. Kenapa kemandirian penting? Karena Indonesia adalah negara dengan penduduk 260 juta yang tentunya semuanya membutuhkan vaksin, dan ada kemungkinan apabila vaksinasi dilakukan lebih dari 1 kali per orang, maka kebutuhan vaksin COVID-19 ini bisa mencapai jumlah 300-400 juta ampul. Dan otomatis, ini membutuhkan kemandirian. Baik dalam sisi produksi, maupun juga dalam sisi pengembangan bibit vaksinnya,” kata Menristek pada acara konferensi pers di BNPB Jakarta, Rabu (2/9/2020).

Dalam konferensi pers dengan tema “Mutasi Coronavirus D614G”, Menteri Bambang menyebutkan, pengembangan bibit vaksin Merah Putih dikerjakan oleh Lembaga Eijkman yang berada di bawah Kemenristek. Lembaga Eijkman saat ini sedang mengerjakan vaksin dengan platform sub-unit protein rekombinan, baik yang berbasis sel mamalia, maupun berbasis sel ragi.

Selain Lembaga Eijkman juga ada empat institusi lain yang mengembangkan Vaksin Merah Putih. Mereka itu adalah pertama Universitas Indonesia yang mengembangkan 3 plaform, yaitu platform DNA, platform RNA, dan platform virus-like particle. 

Kedua, tim dari Institut Teknologi Bandung, ITB, yang mengembangkan dengan plaform adenovirus. Ketiga, tim dari Universitas Airlangga yang juga mengembangkan platform adenovirus, dan keempat adalah tim dari LIPI, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, yang mengembangkan dengan platform protein rekombinan.

“Jadi kita bersyukur ada banyak peneliti kita, peneliti luar biasa kita yang berupaya untuk meneliti. Harapannya bisa mengembangkan dan melahirkan bibit vaksin, yang nantinya siap untuk diproduksi,” paparnya.

Dalam konteks produksi, seperti sudah disampaikan oleh Dirut Bio Farma dalam berbagai kesempatan, tahun 2021 kapasitas Bio Farma diperkirakan bisa memproduksi sampai 250 juta unit atau 250 juta ampul. Untuk bisa menunjang Bio Farma, Konsorsium Vaksin Merah Putih juga akan merangkul perusahaan-perusahaan swasta, nasional.

“Tentunya, mereka-mereka ini sedang mengajukan izin ke BPOM, Badan Pengawasan Obat Makanan, untuk bisa mendapatkan izin yang namanya CPOB, Cara Produksi Obat dengan Baik. Kita harapkan pada waktunya mereka siap memproduksi vaksin, dan tentu nantinya bisa produksi di Indonesia, memenuhi kebutuhan seluruh penduduk, bahkan kemungkinan lebih dari 1 kali vaksinasi per penduduk,” ujarnya.

Demikian juga yang sedang dikembangkan oleh Bio Farma, ini akan melengkapi apa yang dikembangkan oleh Konsorsium Vaksin Merah Putih. Dimana untuk mengejar aspek kecepatan dalam pengembangan vaksin, maka Bio Farma seperti saat ini sedang melakukan kerjasama dengan Sinovac, dengan bibit vaksin yang dikembangkan Sinovac, demikian juga dengan beberapa pihak lainnya. Tentunya yang paling penting, vaksin yang ditemukan mudah-mudahan adalah vaksin yang efektif, vaksin yang benar-benar cocok untuk menahan COVID-19.

“Khusus untuk vaksin yang dikembangkan oleh Eijkman, bisa kami sampaikan tahapannya saat ini sekitar 40% dari keseluruhan tahapan. Sedang disiapkan untuk ke sel mamalianya, dan harapannya akhir tahun bisa menyelesaikan uji pada hewan, sehingga di awal tahun depan, insya Allah, Lembaga Eijkman bisa menyerahkan bibit vaksinnya kepada Bio Farma untuk di scale-up, untuk level produksi, kemudian dimulai uji klinis. Tentunya uji klinis tahap 1, 2, dan 3. Dan kita harapkan di triwulan 3, 2021, harapannya kita sudah bisa memproduksi tahapan awal dari Vaksin Merah Putih ini untuk keperluan public,” tuturnya. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post