Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Pendidikan

Kemendikbud Kembali Gelar Program Gerakan Seniman Masuk Sekolah

Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud, Hilmar Farid. (foto: Infopublik.id)

Tahun ini, pelaksanaan Gerakan Seniman Masuk Sekolah cukup terhalang karena Covid-19.

JAKARTA - KABARE.ID: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan kembali menggelar Program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS). GSMS merupakan program seniman memberikan pembelajaran seni budaya melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.

GSMS ini, bertujuan untuk membantu memfasilitasi keterbatasan sekolah dalam menghadirkan guru seni kebudayaan dan memperkuat karakter pelajar Indonesia dengan cara memberikan pembelajaran seni di sekolah.

Seniman yang dimaksud di sini ialah orang yang memiliki bakat seni dan berhasil menciptakan dan menyelenggarakan karya seni (perupa, penyair, penyanyi, dan sebagainya). Pembelajaran seni yang diajarkan pada kegiatan ekstrakurikuler di sekolah (SD hingga SMA/SMK), antara lain seni pertunjukan, seni rupa, seni sastra, maupun seni media.

Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud, Hilmar Farid mengatakan, GSMS sudah berlangsung selama empat tahun.  Tahun ini, pelaksanaannya cukup terhalang karena Covid-19.

“Gagasan dasarnya untuk mempertemukan seniman dengan siswa agar mendapatkan pengalaman tentang bagaimana berkreasi, merumuskan ide sampai eksekusi,” kata Hilmar dalam konferensi pers secara daring di Jakarta, Rabu (2/92020).

Disebutkan, program tersebut dilaksanakan, karena adanya keterbatasan guru kesenian di sekolah, dan banyak diantara guru yang mengajar bukan dari bidang kesenian. Selain itu, maksud dari program ini, bukan untuk melatih agar siswa menjadi seniman, melainkan sebagai medote untuk pendidikan karakter atau ekspresi diri dengan cara artistik.

“Kami sudah adakan diskusi, tapi belum ada putusan, bahwa program ini akan diperluas karena menyangkut Metode Pendidikan Karakter yang akan ditingkatkan oleh Kemendikbud,” papar Hilmar.

Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Kemendikbud, Restu Gunawan menambahkan, tahun 2020 ini jumlah GSMS mengalami penurunan karena anggarannya terkena dampak refocusing anggaran untuk penanganan Covid-19.

Disebutkan, kegiatan GSMS tahun ini, bekerjasama dengan 16 Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota yang akan melibatkan 210 orang seniman dari masing-masing daerah yang akan mengajar 4.200 peserta didik di 210 sekolah jenjang SD, SMP, SMA/SMK swasta dan negeri.

Program GSMS dilaksanakan melalui 3 tahapan: 1). Persiapan dan penyelenggaraan workshop, 2). Pembelajaran, 3). Tahap Presentasi Hasil Belajar. Penyelenggaraan workshop untuk seniman dilakukan secara TOT (Training of Trainee) oleh Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan selama bulan September.

TOT ini diharapkan dapat menghasilkan seniman yang siap mengajarkan seni budaya kepada para siswa. Materi pembelajaran yang diberikan seniman kepada siswa didik berupa materi yang telah disepakati oleh Dinas, sekolah, dan seniman berupa seni pertunjukan (tari, musik/seni suara, teater), seni rupa, seni media, atau sastra.

Metode pembelajaran GSMS oleh seniman kepada siswa dilakukan secara daring maupun luring (tatap muka). Pembelajaran didampingi oleh asisten seniman yang berasal dari sekolah, dengan pengawasan dari Dinas Pendidikan Provinsi/Kab/Kota.

Pada akhir proses pembelajaran, Dinas pendidikan dapat menyelenggarakan pertunjukan/pameran hasil pembelajaran para siswa dengan seniman dengan tetap mengikuti protokol kesehatan pengendalian COVID-19 dan membuat dokumentasi berupa video.

Program GSMS ini, diharapkan dapat meningkatkan wawasan peserta didik/siswi tentang seni budaya serta memberikan motivasi untuk berprestasi di bidang seni. Selain itu, dengan belajar seni diharapkan dapat memperkuat karakter siswa. Seni merupakan salah satu pilar penting dalam penguatan karakter bangsa.

Pada masa pandemic COVID-19, pelaksanaan GSMS dilaksanakan dengan cara berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, mekanisme pembelajaran GSMS dilakukan secara daring oleh seniman dengan dapat didampingi oleh asisten seniman berasal dari sekolah, dengan pengawasan dari Dinas Pendidikan, dan dapat dilakukan secara luring (tatap muka) secara langsung dengan pelaksanaan tetap mengacu pada protokol kesehatan. 

“GSMS ini, diharapkan dapat meningkatkan wawasan peserta didik siswa/siswi tentang seni budaya, serta memberikan motivasi untuk berprestasi di bidang seni. Selain itu, dengan belajar seni diharapkan dapat memperkuat karakter siswa/siswi. Seni merupakan salah satu pilar penting dalam penguatan karakter bangsa,” ungkapnya. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post