Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Pendidikan

Kemendikbud Gelar Kemah Karakter Virtual Anak

Ilustrasi: Berkemah di perkarangan rumah. (Istimewa)

Kemah Virtual Anak digelar untuk memperingati Hari Keluarga Nasional yang jatuh pada 29 Juni dan Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli, Acara ini diikuti secara virtual oleh 2982 peserta dari 34 provinsi, yang terdiri dari jenjang PAUD hingga SMA.

JAKARTA - KABARE.ID: Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendikbud) menyelenggarakan Kemah Karakter Virtual Anak Indonesia pada 6 - 9 Juli 2019. Kegiatan ini digelar untuk memperingati Hari Keluarga Nasional yang jatuh pada 29 Juni dan Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli,

Acara ini diikuti secara virtual oleh 2982 peserta dari 34 provinsi, yang terdiri dari jenjang PAUD/PAUDLB, SD/SDLB, SMP/SMPLB, SMA/SMALB dan SMK/SMKLB.

Sekretaris Jenderal Kemendikbud, Ainun Na’im mengungkapkan bahwa kegiatan seperti ini diperlukan oleh anak-anak agar mereka tetap aktif mengembangkan diri dengan suasana yang menyenangkan.

“Suasananya menyenangkan tapi tetap termotivasi menyelesaikan menghadapi tantangan yang ada, mengembangkan diri agar nanti menjadi generasi yang lebih baik untuk membawa Indonesia ke masa emasnya,” kata Ainun, seperti dikutip dalam rilis Kemendikbud di Jakarta, Kamis (9/7/2020).

Sementara itu, Kepala Puspeka, Hendarman, menjelaskan bahwa tujuan diadakannya acara ini yaitu untuk menjalin hubungan semakin erat para siswa dengan orang tua dan anggota keluarga dalam praktik baik sehari-hari.

“Jadi tugas yang diberikan itu memang dikaitkan dengan keluarga. Kami merasakan bahwa memang peran keluarga sangat penting apalagi di dalam masa pandemi ini,” terangnya.

Sementara itu, Pendiri Yayasan Semai Jiwa Amini, Diena Haryana, memaparkan, ciri anak yang sehat adalah anak yang gembira dan tetap berempati kepada sesama. “Kita adalah anak yang cinta sesama, cinta damai, cinta lingkungan hidup dan pantang menyerah ketika menghadapi kesulitan hidup karena kita adalah anak-anak Indonesia,” tutur Diena.

Selanjutnya Diena menegaskan, bahwa anak Indonesia harus bebas dari adiksi, termasuk adiksi gawai karena anak-anak yang mengalami adiksi tidak lagi memiliki kedisiplinan maupun kebiasaan baik.

“Bagaimana bisa mewujudkan Indonesia yang kuat? Bagaimana bisa menjadi manusia yang hebat untuk Indonesia? Adiksi apapun merusak jiwa raga kita. Oleh karena itu, kita harus menjaga diri kita dari adiksi apapun dan katakan pada diri sendiri "Aku harus tangguh!,” pungkasnya. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post