Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Kemendikbud Gelar Festival Wastra Nusantara di Museum Balai Kirti

Penampilan tari tradisional dalam Festival Wastra Nusantara di Museum Balai Kirti. (dok. Kemendikbud RI)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelenggarakan Festival Wastra Nusantara di Museum Kepresidenan Republik Indonesia, Balai Kirti, Bogor, pada 8-14 April 2019.

BOGOR-KABARE.ID: Festival ini dibuka secara resmi oleh Presiden ketiga RI, Bapak BJ Habibie, ditandai dengan pemecahan kendil berisi kembang setaman.

Dalam pembukaan festival tersebut, Senin (8/4), Direktur Jenderal Kebudayaan (Dirjen Kebudayaan) Kemendikbud, Hilmar Farid, menjelaskan bahwa wastra adalah kain tradisional yang memiliki makna dan simbol tersendiri. Wastra dapat berupa batik, songket dan tenun. “Wastra dianggap bernilai tinggi karena setiap wastra sejatinya memiliki sejarah dan maknanya masing-masing,” ujar Dirjen Hilmar.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa festival ini merupakan pertama kali diselenggarakan dengan menampilkan koleksi wastra para ibu negara, mulai dari ibu negara pertama hingga ibu negara saat ini. Selain itu, juga ditampilkan koleksi para tokoh nasional dan kolektor yang diseleksi secara khusus oleh tim kurator.

“Maksud dari kegiatan ini sederhana, yaitu karena sudah tersimpan cukup lama di museum nasional. Persiapan cukup singkat dan menghadirkan tidak kurang dari 100 wastra. Saya sendiri memakai wastra dari Sumba Timur,” jelas Hilmar.

Di samping menampilkan koleksi tersebut, festival ini diharapkan dapat mengajak siswa untuk mengenal dan mempelajari wastra. “Maksud dari pameran ini yaitu bisa mengembalikan makna nilai yang ada di tradisi kita. Kita akan berkeliling untuk memamerkannya ke seluruh Indonesia mulai bulan Mei 2019,” ujarnya.

Baca juga: Samuel Wattimena Angkat Popularitas Tenun Bima di Festival Lawata 2019

Usai kegiatan, Ibu Suryan Widati Muhadjir, istri Mendikbud Muhadjir Effendy, mengungkapkan bahwa koleksi miliknya yang dipamerkan di museum ini merupakan koleksi ibu mertuanya. “Motifnya sudagaran. Jadi ketika Bapak Mertua mendalang, Ibu Mertua saya membatik atas bimbingan langsung maka tercipta batik. Halus sekali,” tutur Wida.

Dilanjutkan Wida, dirinya mengoleksi banyak wastra dari berbagai wilayah di nusantara.”Saya suka Topas NTT karena ketika dipakai di cuaca panas jadi dingin dan warnanya hidup. Pertimbangan memakai kain itu pertama motif. Kalau saya pakai kain, harus tahu ceritanya, misal tenun Maumere. Kalau tahu ceritanya, bisa istimewa memakainya,” jelas Wida.

Selain itu, dirinya mengapresiasi pemerintah daerah yang mengimbau penggunaan pakaian daerah. “Saya berharap acara ini menjadi langkah awal agar masyarakat dapat mencintai pakaian daerah,” pungkasnya.

Baca juga: Seniman Indonesia Meriahkan Pameran Buku Internasional di Tunisia

Festival Wastra Nusantara ini menampilkan wastra nusantara yang mempunyai simbol-simbol dan makna tersendiri dari berbagai provinsi, baik tenun, ulos, batik, dan songket. Kegiatan ini diisi dengan peragaan busana tokoh-tokoh inspiratif, seminar wastra nusantara, lokakarya membatik, serta bazar wastra nusantara.

Pada kesempatan ini, Dirjen Kebudayaan juga memberikan piagam penghargaan kepada dua orang penggiat wastra, yaitu Agustina Kahi Atanau atas Pengabdian Sepanjang Hayat dan kepada Ayu Tri Handayani atas Pengabdian Tanpa Batas. (rls/bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post