Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
KABAR

Kematian Anak Indonesia karena Corona Tertinggi di ASEAN

Ilustrasi new normal (SHUTTERSTOCK/ MIA Studio)

Terdapat 1.851 kasus Covid-19 pada anak berusia kurang dari 18 tahun. Dari jumlah tersebut, terdapat 29 kasus kematian akibat corona pada anak.

JAKARTA – KABARE.ID: Ketua Ikatan Doker Anak Indonesia (IDAI) Aman Bhakti Pulungan mengatakan bahwa tingkat kematian anak akibat virus corona di Indonesia merupakan yang tertinggi di negara ASEAN.

"Kalau dibandingkan negara lain, kita paling tinggi (tingkat kematian) dibandingkan Singapura, Malaysia, dan Vietnam," ungkap Aman.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga Sabtu (30/5/2020), terdapat 1.851 kasus Covid-19 pada anak berusia kurang dari 18 tahun. Kasus tertinggi dilaporkan terjadi di DKI Jakarta, yakni sebanyak 333 kasus. Dari jumlah tersebut, terdapat 29 kasus kematian akibat corona pada anak yang dilaporkan.

Aman mengungkap bahwa tingginya jumlah kematian pada anak di Indonesia karena sebagian besar kasus terlambat dideteksi sehingga ketika datang ke rumah sakit dalam kondisi berat.

Dalam laporan IDAI, sekitar 30 persen kasus kematian pada anak terjadi pada usia 0-1 tahun. Dalam wawancara dengan VOA Indonesia, Aman melihat pemeriksaan Covid-19 untuk anak di Indonesia masih sangat rendah. Anak hanya diperiksa ketika orangtuanya terbukti positif Covid-19.

"Karena memang jumlah anak yang diperiksa paling sedikit kan, dan banyak yang di screening di mall, kantor, asrama, pasar, bandara, anak-anak kan tidak masuk yang di screening. Jadi anak-anak yang kita periksa itu adalah anak-anak yang memang sudah ada gejala. Atau kalau misalnya orang tuanya ada gejala baru (diperiksa). Jadi tidak ada, karena kalau misalnya anak batuk pilek kan tidak semuanya langsung diperiksa kan," jelas Aman.

Selain terlambat terdeteksi, ada hal lain yang dialami anak Indonesia. Aman mengatakan bahwa sebagian besar populasi anak di Indonesia memiliki komorbit atau penyakit penyerta. Ini seperti kurang gizi, anemia, tengkes, diare, dan pneumonia.

"Kita harus sadar bahwa beban kesehatan pada anak Indonesia sangat tinggi. Jumlah kasus pneumonia dan diare pada anak di Indonesia juga tinggi, padahal gejala yang ditunjukkan pada Covid-19 hampir sama dengan penyakit ini," ungkap Aman.

Aman menilai, risiko penularan kasus pada anak semakin tinggi dengan banyaknya masyarakat yang tidak lagi menjalankan protokol. Meski sebagian besar anak berada di rumah, bukan tidak mungkin orangtua atau anggota keluarga yang tinggal bersama dengan anak harus menjalankan aktivitas di luar rumah.

Dari sinilah, potensi penularan Covid-19 muncul. Terlebih ketika orangtua yang membawa virus melakukan kontak langsung dengan anak sebelum membersihkan diri.

Kondisi ini diperparah dengan tak ada pengawasan pada aktivitas anak. Banyak anak yang bermain dan berkegiatan di luar rumah tanpa mengenakan masker yang benar.

Aman menambahkan, pengawasan pada anak yang masih sulit dilakukan untuk pencegahan Covid-19 seharusnya menjadi pertimbangan untuk tidak membuka sekolah dalam waktu dekat. Menurut Aman, setidaknya sekolah secara aktif baru bisa dibuka pada Desember 2020 dan dilakukan secara bertahap.

"Setidaknya harus ada satu tempat sebagai percontohan. Pastikan dulu protokol kesehatan bisa dijalankan secara maksimal. Penularan Covid-19 pada anak sama berisikonya dengan usia dewasa, bahkan bisa lebih berisiko karena sulit menerapkan protokol kesehatan pada anak. Biasanya anak cenderung tidak nyaman menggunakan masker terlalu lama dan tidak berkumpul dengan teman-temannya," tuturnya. (*)

 

Sumber: Kompas.com

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post