Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Karya Seni Pembentuk Identitas Negara

Monumen Tonggak Samudra

Monumen patung tak melulu diartikan sebagai karya seni yang mempercantik ruang. Patung bisa menjadi simbol suatu kawasan, bahkan kharakter suatu bangsa. Hanya saja karya seni bernilai tinggi kerap dibiarkan layaknya barang tak bernilai.

Jakarta - Monumen Tonggak Samudra karya Gregorius Sidharta dinilai berhasil mewujudkan konsep seni sebagai identitas sebuah daerah. Patung yang awalnya diletakan di pinggir pelabuhan peti kemas Tanjung Priok mengalunkan ekspresi kota Jakarta sebagai jantung perdagangan Indonesia.

Sejak dinasionalisasi oleh pemerintah pada 1952,  Tanjung Priok menjadi pelabuhan air modern terbesar di Indonesia. Ia tak hanya jadi lalu lintas kapal-kapal besar di wilayah perairan Nusantara, tetapi juga roda penggerak perekonomian negara. Pengiriman barang dan perdagangan laut berpusat pada pelabuhan Tanjung Priok. 

Dalam menciptakan Tonggak Samudra, Sidharta melihat lebih jauh fungsi Pelabuhan Tanjung Priok. Proses perwujudan patung ini tampaknya dimulai dari kejayaan kerajaan-kerajaan di Nusantara yang terkenal sebagai pelaut ulung. Puncak kejayaan itu terjadi di masa Kerajaan Sriwijaya, yang mempunyai angkatan laut tangguh dan wilayah perairan yang luas.

Memori kejayaan laut itu diekspresikan Sidharta dalam bentuk simbol. Tonggak Samudra juga sejalan dengan pesan yang ingin disampaikan Presiden Soeharto, untuk memperlihatkan kekuatan Tanjung Priok melalui karya seni. Sebagai pemimpin, Soeharto rupanya ingin agar dunia memandang Pelabuhan Tanjung Priok secanggih pelabuhan-pelabuhan lain di kota besar di dunia. 

Karya Sidharta menghenyakan publik karena ia berhasil melepaskan diri dari aliran realis, dan memilih merepresentasikan identitas negara ini dengan gaya semi-abstrak. Pendiri Asosiasi Pematung Indonesia (API) ini mengejutkan karena melakukan tekanan perbidangan bentuk cekung dan cembung.

“Seperti ada kebosanan dalam diri Sidharta untuk terus berkarya dalam gaya realis. Pelan-pelan ia mengubah gayanya dan menjadi lebih kubistis (simestris),” kata pengamat seni Bambang Bujono. 

Di masa penciptaan Tonggak Samudra, dunia seni patung sedang kehilangan gairah. Keterampilan teknik yang melibatkan emosi memengaruhi penciptaan patung-patung di masa itu, terutama Sidharta.

Patung ini juga mengucapkan ketajaman sensitivitas Sidharta pada unsur tradisi. Namun, pengalamannya selama di Belanda membuatnya menatap masa depan. Itulah sebabnya, Tonggak Samudra terlihat modern dan tradisional di saat bersamaan. 

 

 

Foto: Dhodi Syailendra

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post