Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
KABAR

Kartini Masa Kini Berbagi Inspirasi

Sesi foto dalam acara Jelita Berkarya di Prajawangsa City, Sabtu (7/4). (Foto: Baskoro Dien/Kabare.id)

Bulan April punya keistimewaan tersendiri bagi wanita Indonesia. Apa lagi kalau bukan diperingatinya Hari Kartini, yang jatuh pada 21 April, sebagai tonggak emansipasi wanita.

JAKARTA-KABARE.ID: Menyongsong perayaan menumental Hari Kartini, Synthesis Development menggelar bincang siang bersama tokoh wanita inspiratif Indonesia, dalam tajuk Jelita Berkarya di Prajawangsa City, Sabtu (7/4).

Pendiri Yayasan Belantara Budaya Indonesia (YBBI), Diah K. Wijayanti, tampil membuka perbincangan di hari Wanita itu. Diah adalah seorang fotografer, jurnalis dan juga pendiri sekolah tari dan musik tradisional yang dapat diikuti masyarakat secara gratis.

“Saya berharap banget semua golongan bisa belajar tari dan musik tradisional Indonesia,” ucap Diah mengungkapkan alasannya saat mendirikan YBBI.

Diah merasa budaya Indonesia kurang disukai oleh generasi muda, hal ini yang mendorongnya untuk mendirikan sekolah tari gratis. “Mereka lebih bangga menarikan modern dance. Bukannya itu tidak bagus, tapi tarian dan budaya warisan leluhur kita yang lainnya begitu kaya, begitu keren, dan begitu cantiknya,” ujarnya.

Bincang-bincang inspiratif acara Jelita Berkarya di Prajawangsa City, Sabtu (7/4). (Foto: Baskoro Dien/Kabare.id)

 

Selain Diah yang membagikan kisahnya, hadir pula Dhara Wyardhiati, fashion designer dan pemilik label clothing “Dhara” yang kerap mengangkat kain Nusantara, dalam bentuk batik maupun tenun, pada karyanya.

Dhara menegaskan bahwa, “Wastra Nusantara, kain tradisional Indonesia, merupakan warisan budaya zaman dahulu kala yang harus kita pelihara, harus kita jaga.”

Pada kesempatan itu Dhara menggelar fashion show mini yang menampilkan beberapa karyanya. Dari situ terpaparkan alasan mengapa wastra Nusantara, seperti yang diimbaunya, “Jangan sampai punah, atau bahkan dicuri oleh negara lain. Karena kain tradisional Indonesia tak hanya cantik, tapi juga mampu tampil berkelas.”

Mini fashion show di acara Jelita Beekarya. (Foto: Baskoro Dien/ Kabare.id)

 

Turut hadir sebagai pembicara lainnya, Fianty R. Gosal, Project and Operational Director Synthesis Development, yang membagikan inspirasi lewat pengalamannya berkarier di dunia konstruksi properti yang notabene didominasi oleh kaum Adam.

“Awalnya saya sempat merasa dipandang sebelah mata. Tapi seiring berjalannya waktu, itu bisa teratasi dengan bukti kinerja kita, yakni konsisten, tekun, disiplin, dan tegas.”

Bagi Fianty, kemauan untuk terus belajar akan menghilangkan stigma mengenai wanita yang tidak cocok atau kurang ahli di dunia konstruksi.

Salah satu karya Dhara yang ditampilkan di mini fashion show di acara Jelita Berkarya. (Foto: Baskoro Dien/Kabare.id)

 

Selain berbagi cerita, para wanita pendukung acara ini pun mengungkapkan rasa suka citanya atas digelarnya event tersebut. Tidak hanya dari sisi emansipasi yang menginspirasi, namun juga karena turut menyuarakan usaha para wanita dalam melestarikan budaya Indonesia yang tercermin lewat karya.

Seperti diungkapkan oleh Teresia Prahesti, Corporate Public and Media Relation Manager Synthesis Development, “Synthesis Development sebagai perusahaan developer properti ingin terus turut melestarikan sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya budaya Indonesia dengan karya properti yang dibangun juga dengan beragam program kegiatan, di tengah arus globalisasi yang kelihatannya semakin menggila,” tuturnya. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post