Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
BISNIS

Jumlah Startup Indonesia Pertama di ASEAN

Menristekdikti saat beri penghargaan pada Indonesia Startup Summit (ISS) 2019 di Jakarta International Expo, Rabu (10/4). (Foto: Kemenristekdikti).

Dalam kurun waktu 4-5 tahun terakhir, Kemenristekdikti membina lebih kurang 1.307 startup dari berbagai bidang fokus. Jumlah ini berada pada peringkat pertama di ASEAN.

JAKARTA-KABARE.ID: Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, membuka Indonesia Startup Summit (ISS) 2019 di Jakarta International Expo pada Rabu (10/4). ISS 2019 dihadiri lebih kurang 5.000 peserta dan menampilkan enam puluh startup karya generasi milenial terbaik Indonesia.

Pada kesempatan itu, Menristekdikti melakukan uji coba motor listrik Gesit, salah satu startup kebanggaan tanah air karya Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) yang diproduksi PT. Wijaya Manufakturing. Gesit rencananya akan diluncurkan secara resmi pada bulan April ini.

Dalam sambutannya, Menristekdikti menyampaikan bahwa geliat startup di Indonesia tumbuh pesat dalam kurun waktu 4-5 tahun terakhir. Ia mengatakan Kemenristekdikti membina lebih kurang 1.307 startup dari berbagai bidang fokus. Jumlah tersebut, terus meningkat dari tahun 2015 yang hanya 52 startup. Bahkan jumlah startup di Indonesia berada pada peringkat pertama di ASEAN.

“Jadi, Indonesia menjadi nomor satu di Asia Tenggara di bidang startup. Sedangkan di dunia kita urutan ke lima pada bidang startup. Indonesia masuk ranking lima dunia dari startup-nya,” ujarnya.

Baca juga: Produk Indonesia Ikut Pameran Internasional di Afrika Selatan

Lebih lanjut ia menjelaskan, selama lima tahun terakhir, Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) yang dibiayai dan dibimbing oleh Kemenristekdikti membina starup di bidang pangan dan pertanian.

Kemudian di bidang obat-obatan, teknologi informasi, dan transportasi. “Kita bisa menghasilkan transportasi darat, yaitu motor listrik yang disebut Gesits. Ini adalah prinsipal pertama kali di Indonesia dalam sejarah. Kalau kita sebut motor listrik, sebut saja Gesits. Kalau kita sebut Gesits, pasti orang ingat motor listrik,” ungkap Menristekdikti.

Di samping Gesits, di bidang transportasi, juga ada kapal pelat datar yang dikembangkan oleh Teknik Perkapalan Universitas Indonesia (UI) bersama PT Juragan Kapal. Perusahaan tersbut sudah memiliki omzet Rp6,5 miliar, tertinggi kedua setelah PT Meta Sukses Pratama (MSP) yang memproduksi Satpam Pintar dengan omzet Rp7 miliar.

“Di samping motor Gesits, di laut kita juga punya kapal pelat datar. Barusan kami luncurkan dari Jakarta menuju Bintuni, Papua. Bahkan memasuki laut yang gelombangnya sampai empat meter. Kata nahkoda kapal, selama lima belas tahun dia menjalankan kapal, baru kapal ini yang paling nyaman dan terbaik,” ungkap Nasir di hadapan ratusan peserta.

Baca juga: Produk Furnitur Indonesia Digemari Masyarakat Norwegia

Sumbangan perguruan tinggi yang berkolaborasi dengan industri juga mencakup bidang lainnya, salah satunya di bidang energi antara Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan PT Pertamina, dengan Catalyst Merah Putihnya.

“Di bidang advanced material, termasuk di bidang nanoteknologi nanti yang dilakukan oleh para peneliti yang menghasilkan inovasi di bidang kesehatan dan material maju. Dan di bidang energi, mulai dari ‘solar cell’ dan baterai sudah ada juga. Renewable energy juga ada dari minyak kelapa sawit bisa digunakan menjadi bensin, solar, avtur, Katalis Merah Putih yang diinisiasi ITB oleh Profesor Subagjo,” ungkap Nasir.

Salah satu bidang yang para wirausahanya belum banyak dibimbing adalah di bidang pertanian. Salah satu startup, yaitu PT Djava Sukses Abadi memiliki merek tempe Mangano yang sudah diekspor hingga ke Korea Selatan.

“Di bidang pangan saya ambil contoh tempe. Semua makan tempe, kan? Tempe itu sekarang ada permintaan dari luar negeri, mengimpor dari Indonesia. Biasanya umurnya tiga hari, empat hari sudah busuk. Ini bisa satu bulan tanpa bahan kimia. Sekarang sudah diekspor ke Korea Selatan. Tempe dari Indonesia, dari startup yang dibina Kemenristekdikti,” papar Menristekdikti.

Baca juga: AMMDes Siap Dipasarkan Pada April 2019

Di hadapan para startup dan ratusan mahasiswa yang menjadi peserta Indonesia Startup Summit (ISS), Menristekdikti meyakini dan mendoakan para startup yang hadir pada acara tersebut dapat menjadi perusahaan besar dan konglomerat beberapa tahun ke depan.

“Indonesia Startup Summit ini tonggak startup yang kita bangun di Indonesia harus menggerakkan ekonomi di Indonesia berbasis riset dan teknologi. Saya berterima kasih kepada para startup. Mudah-mudahan para startup ke depan semakin sukses, mampu menggerakkan ekonomi. Mudah-mudahan dari sini ke depan Anda punya ‘silent hope’ untuk menjadi perusahaan besar di Indonesia,” papar Nasir.


Penghargaan 5 Startup Inspiratif Karya Anak Bangsa

Dalam kesempatan ISS ini, Kemenristekdikti mengumumkan dan memberi penghargaan kepada lima karya startup yang paling menginspirasi, antara lain:

1. The Most Inspiring Startup dengan nama produk Compac Motorcycle dan nama inventor Suwanto binaan Universitas Diponegoro.

2. The Most Breakthrough Startup dengan nama produk: Kapal Pelat Datar dan nama perusahaan startup PT Juragan Kapal yang mengembangkan produk bersama Program Studi Teknik Perkapalan Universitas Indonesia (UI).

3. The Most Social Impact Startup denan nama startup Aruna Indonesia, yaitu aplikasi yang mempertemukan nelayan langsung dengan konsumen yang dikembangkan oleh Farid Naufal Aslam, lulusan Universitas Telkom.

4. The Most Growing Startup dengan nama produk Gesits yang dikembangkan oleh Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dan diproduksi PT. Wijaya Manufakturing.

5. The Most Competitive Innovation dengan nama produk: Katalis Merah Putih dengan nama inventor Profesor Subagjo dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Indonesia Startup Summit ini turut dihadiri oleh pejabat Kemenristekdikti, perwakilan dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan, para rektor perguruan tinggi negeri dan swasta, inovator, peneliti, serta ratusan peserta dari kalangan mahasiswa dan masyarakat umum. (rls/bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post