Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
NASIONAL

Jokowi: Tindakan Intoleransi di Indonesia Terjadi Karena Peristiwa Politik

Presiden Joko Widodo kembali mengingatkan akan beragamnya bangsa Indonesia. (Foto: BPMI)

Presiden Jokowi menilai, munculnya intoleransi di Indonesia, lebih banyak didorong oleh peristiwa-peristiwa politik, seperti pemilihan bupati, wali kota, gubernur, dan presiden.

BOGOR-KABARE.ID: Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali mengingatkan akan beragamnya bangsa Indonesia. Keragaman yang dimiliki Indonesia, menurutnya, sering sekali dilupakan oleh masyarakat yang menyebabkan kita terkadang merasa tidak sebangsa dan setanah air.

"Kita sering lupa masalah ini.., menyebabkan kita ini kadang-kadang merasa tidak saudara. Padahal kita adalah saudara sebangsa dan setanah air," ujar Presiden saat menerima kedatangan para peserta Kongres Indonesia Millennial Movement Tahun 2018 di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin, 12 November 2018.

Jokowi menilai, banyak tindakan intoleransi di masyarakat terjadi bukan karena didorong oleh keinginan sendiri, melainkan terpengaruh oleh peristiwa-peristiwa politik yang terjadi. "Sebetulnya yang berkaitan dengan intoleransi, terutama di negara kita, lebih banyak didorong peristiwa-peristiwa politik. Pemilihan bupati, wali kota, gubernur, dan presiden. Kejadiannya banyak dimulai dari situ," tuturnya.

Menurutnya, kepentingan politik sesaat yang dijalankan dengan cara-cara yang tidak beretika menyebabkan masyarakat saling berbenturan. "Coba dilihat di media sosial isinya seperti apa. Ini pengaruh politik yang isinya sering mengaduk-aduk kita. Sering muncul intoleransi karena dibentur-benturkan. Ini yang sering saya sampaikan, berbahaya sekali," kata Jokowi, seraya menambahkan bahwa aset terbesar bangsa Indonesia adalah persatuan, persaudaraan, dan kerukunan.

Presiden Jokowi menerima panitia dan pemenang Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Tahun 2018 di Istana Bogor, Senin (12/11/2018). (Foto: BPMI)

 

Usai meneriman peserta Kongres Indonesia Millennial Movement Tahun 2018, Jokowi kemudian menerima panitia dan pemenang Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Tahun 2018 di Istana Bogor.

Dalam kesempatan itu, Jokowi mengatakan bahwa paduan suara dapat mengajarkan kita mengenai filosofi dari kerukunan yang dibutuhkan bangsa Indonesia. Seperti halnya mengharmoniskan karakter-karakter vokal yang beragam menjadi sebuah kesatuan yang lengkap dan indah.

"Suara sopran, alto, tenor, dan bas semua harus saling menghargai. Enggak mungkin satu minta dominan, satu lainnya minta terus-terusan. Harus saling menjaga dan mengurangi ego masing-masing untuk mendapat sebuah suara yang padu, harmonis, dan indah," tuturnya.

Turut hadir mendampingi Presiden, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, dan Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Ignatius Suharyo. (bas)

Sumber BPMI

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post