Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

JCP Edisi 12: Membahasakan Air Sebagai Kehidupan

Konser orkestra di Teater Besar Taman Ismail Marzuki. (Foto: Baskoro Dien/ Kabare.id)

Jakarta City Philharmonic edisi ke-12 mengangkat tema "Tirta", mengartikan air sebagai kehidupan dalam keberlanjutan ekosistem makhluk hidup di lingkungan.

JAKARTA-KABARE.ID: Konser bulanan orkes kota, Jakarta City Philharmonic (JCP) kembali digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Rabu (16/5/2018).

Berlangsung apik selama hampir 120 menit, JCP kali ini mengangkat tema "Tirta", mengartikan air sebagai kehidupan dalam keberlanjutan ekosistem makhluk hidup di lingkungan.

Musikolog JCP Aditya Pradana Setiadi pada pengenalan konser menjelaskan tentang empat repertoar yang menjadi suguhan JCP. Walaupun semua bercerita tentang air, tapi setiap komposisi memiliki khas dan berjaya di eranya. Tak lupa, kehadiran solois trompet, Eric Awuy memberikan warna tersendiri pada aksi JCP kali ini.

Romantik

Konser dimulai tentang cerita Sungai Moldau gubahan Bedrich Smetana yang terdiri atas enam puisi simfonik, Tanah Airku (My Homeland).

Adit mengungkapkan, komposer asal Republik Ceska itu hidup di era romantik yaitu pada 1820-1900, di mana musik yang digubah menggambarkan sesuatu di luar musik, misalnya keindahan alam dan perasaan manusia.

Kejayaan era romantik tertuang pada Sungai Moldau yang berkisah tentang keindahan sungai di Ceska. Dari tempo sedang, penonton bisa merasakan gemericik mata air yang bertemu di satu titik untuk sama-sama mengalir pelan ke sungai besar.

Meriah

Dari Sungai Moldau, penonton diajak untuk menyimak karya Alexander Arutiunian berjudul Konserto untuk Trompet dan Orkestra. Dalam suguhan ini, JCP berkolaborasi dengan Eric Awuy bersama konduktor Budi Utomo Prabowo membuat gedung konser terasa meriah.

Eric menyebutkan, lagu ini menjadi spesial karena Arutiunian menggambarkan tarian rakyat yang dinamis lewat suara trompet dan orkestra. Menurut Eric, pada sejarah musik klasik, konserto trompet memang tidak banyak, sehingga saat komposer asal Armenia itu merilis komposisi ini pada 1950, lagu ini menjadi suguhan wajib solois trompet di seluruh dunia.

Selain menampilkan karya komposer mancanegara, JCP juga menyajikan karya komposer Indonesia. Kali ini komposisi karya Mochtar Embut berjudul Anak Perahu menjadi pilihan yang pas untuk tema Tirta. 

Lagu Anak Perahu bercerita tentang kapal-kapalan kertas saat Jakarta banjir. Uniknya, musik yang didengar jauh dari suasana banjir yang cenderung karut-marut. Komposisi Anak Perahu justru sangat tenang dan bersifat meditatif.

Megah

Persembahan terakhir JCP untuk Tirta adalah karya milik Claude Debussy berjudul Lautan. Selain selaras dengan tema, karya ini disuguhkan untuk memperingati 100 tahun kepergian komposer asal Prancis tersebut. Terdiri atas tiga episode lagu, penonton diajak terombang-ambil dengan Fajar Menuju Tengah Hari di Laut, Permainan Ombak, dan Dialog Angin dan Laut.

"Pada akhir abad 19, Debussy mendobrak musik klasik. Dia menggambarkan banyak tekstur di warna musiknya. Sangat eksperimental. Kalau Debussy hidup di zaman sekarang, mungkin dia akan pakai synthesizer yang heboh," ujar Eric.

Konser Tirta ditutup dengan megah lewat komposisi Lautan. Pada bagian Dialog Angin dan Laut, penonton seperti diajak berada di tepi pantai untuk mendengarkan semilir angin dan suara ombak yang berkejaran.

Jadwal padat sepanjang tahun

JCP adalah proyek bersama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang dibentuk untuk melengkapi Jakarta sebagai kota metropolitan.

Seperti layaknya kota-kota besar di dunia, kehadiran sebuah orkestra profesional, dengan jadwal padat sepanjang tahun, merupakan kebutuhan kultural sebuah kota metropolitan modern.

Komisaris JCP dan Ketua Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta, Anto Hoed mengatakan, sebanyak delapan edisi, JCP akan mewarnai tahun ini di setiap bulannya.

"Seiring dengan berjalannya konser reguler tersebut, JCP senantiasa memperbaiki diri dengan meningkatkan kualitas seluruh pemain orkestra untuk mampu bermusik setinggi-tingginya", kata Anto Hoed. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post