Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Wisata_Kuliner

Jawa Timur Bakal Punya Dua Desa Wisata Edelweiss Baru

Edelweis, secara lokal dikenal sebagai Kembang Tana Layu, mengacu pada fakta bahwa bunga ini tidak mudah layu, dan dikenal sebagai bunga abadi. (JP / Nedi Putra AW)

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) bersiap untuk membuka dua Desa Wisata Edelweiss di Jawa Timur, yaitu Desa Ngadisari di Kabupaten Probolinggo dan Desa Wonokitri di Kabupaten Pasuruan.

JAKARTA-KABARE.ID: Acara peluncuran bertajuk "Land of Edelweiss Festival", akan berlangsung di Paviliun Desa Wonokitri pada 10 November 2018. Kepala TNBTS John Kenedie mengatakan kehadiran desa-desa wisata tersebut bertujuan untuk melestarikan bunga edelweiss di luar habitat alami mereka, yang ditemukan di seluruh area taman nasional.

"Selain itu, juga untuk melestarikan budaya Tengger lokal.. juga memberikan kesempatan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat," kata John seperti diberitakan The Jakarta Post, Kamis (8/11/2018).

John menambahkan bahwa ada tiga jenis edelweiss, yaitu Anaphalis Javanica, Anaphalis Visida dan Anaphalis Longifolia. Anaphalis Javanica secara lokal dikenal sebagai Kembang Tana Layu, mengacu pada fakta bahwa bunga ini tidak mudah layu, dan dikenal sebagai bunga abadi. "Kondisi ini membuat edelweiss sangat dicari, terutama di kalangan anak muda." Ia menambahkan bahwa jenis khusus edelweiss ini dilindungi oleh pemerintah.

Ia menjelaskan, bunga yang dibudidayakan adalah generasi kedua. Benih diambil dari area taman nasional melalui serangkaian uji coba budidaya dan perkembangan sejak tahun 2014, dengan 5.600 benih disediakan untuk setiap desa. "Proses ini dituangkan dalam surat keputusan dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)," tambahnya.

John mengatakan desa-desa wisata akan dikelola oleh pengasuh mereka sendiri, khususnya dari Kelompok Tani Edelweiss di dua desa. Tujuannya untuk menawarkan pengalaman yang berbeda kepada wisatawan yang berkunjung ke Bromo selain menikmati panorama dan matahari terbit.

Kepala Desa Wonokiri, Iksan mengatakan upaya budidaya edelweiss di desa itu juga menguntungkan secara ekonomi bagi masyarakat. "Sebelum tahun 2007, penduduk desa kami murni mengandalkan pertanian tanaman, tetapi setidaknya 60 persen sekarang dapat melihat peluang layanan pariwisata," katanya.

Iksan menambahkan bahwa pariwisata edelweiss akan digabungkan dalam satu unit dengan perusahaan milik desa. (tjp/bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post