Monday 8 May 2015 / 22:03
  • Hingga Jumat (3/4), 1.986 orang di Indonesia Positif Covid-19, 134 orang sembuh, dan 181 meninggal.
BISNIS

Jadilah Manusia “VIP”

Subronto Laras, Komisaris Utama PT. Indomobil Sukses Internasional Tbk

Tak ada yang tak kenal nama Subronto Laras di dunia industri otomotif di Indonesia. Namanya telah identik dengan Indomobil dan merek mobil Suzuki. Subrontolah yang telah membesarkan merek mobil itu di tanah air sejak mulai terjun ke dunia otomotif tahun 1972.

Jakarta - Pria yang gemar jogging, tenis, renang, rally, dan bulu tangkis ini mengemukakan, kesuksesan yang digapainya berawal dari kerja tim dan kualitas sumber daya manusia yang mumpuni. Ketika menerima Kabare di kantornya, Jakarta, awal April lalu, Subronto banyak bicara soal pentingnya SDM yang mumpuni, mulai dari karyawan sampai pemimpin perusahaan. Kenapa? Karena keberhasilan itu adalah buah dari kerja tim.

“Bagi saya, tidak mungkin seseorang bisa maju tanpa bantuan dari orang lain. Saya diberikan kenikmatan dan posisi seperti sekarang ini ‘kan bukan karena saya sendiri, tapi karena orang lain juga. Jadi, kalau kita mau bersosialisasi, membangun hubungan yang baik dengan orang-orang harus kita lakukan dengan tidak tanggung-tanggung,” ujar Komisaris Utama PT Indomobil Sukses Internasional Tbk yang lahir di Jakarta pada  5 Oktober 1943 itu.

Subronto yang berasal dari keluarga pecinta otomotif – ayahnya almarhum R Moerdowo adalah importir mobil --  banyak membahas pentingnya hubungan karyawan dan pemimpin agar bisa bersinergi, konsep pengembangan SDM yang dinamakannya “4 Olah “, pentingnya kebudayaan dalam pembangunan Indonesia, dan revolusi mental yang diusung oleh Presiden Joko Widodo. Lalu apa pula yang dimaksudkannya dengan konsep manusia “VIP”? Berikut ini petikan wawancara dengan pengusaha yang terjun ke dunia bisnis media dan penyuka musik itu:

 

Biasanya pada bulan Mei ramai dengan aksi buruh. Bagaimana Bapak melihat situasi tenaga kerja sekarang ini?

Banyaknya demo yang terjadi karena informasi negatif lebih banyak  dari informasi positif. Itu terkait dengan peraturan pemerintah yang dimaknai berbeda. Jadi karena miss information. Pada zaman saya dahulu ada gugus kendali mutu atau quality control circle. Artinya pekerja itu mencoba untuk me-manage sendiri dan harus membawa ke sebuah tujuan utama. Zaman dahulu lebih ke cost efficiency. Pekerja harus tahu kualitas apa yang harus dikembangkan, bagaimana dan apa yang harus dilakukan agar lebih efisien dan hemat.

Jadi, kitalah yang harus menjadi kepala di dalam rumah tangga kita. Dalam hal ini adalah lingkungan kerja. Pimpinan harus mengerti dan tahu persis apa yang harus dilakukan dan bagaimana bersosialisasi dengan para karyawan, menganggap mereka sebagai mitra kita, karena tanpa mereka kita tidak bisa berjalan sendiri.

 

Bagaimana Bapak membina hubungan dengan karyawan di lingkup Indomobil?

Bagi saya yang terpenting dalam hubungan perusahaan dengan karyawannya ialah komunikasi. Terkadang kita harus mendengarkan mereka. Jangan menguras tenaga orang tapi tidak mau memikirkan kesejahteraannya. Namun ada juga masalah yang sekarang ini sedang dibincangkan yaitu mengenai kenaikan gaji di 2017 menjadi 30 % , tunjangan rumah untuk karyawan ditetapkan menjadi perubahan tetap dan juga stop PHK massal.

Bagi saya, tidak mungkin seseorang bisa maju tanpa bantuan dari orang lain. Saya diberikan kenikmatan dan posisi seperti sekarang ini kan bukan karena saya sendiri, tapi karena orang lain juga. Jadi kalau kita mau bersosialisasi, membangun hubungan yang baik dengan orang-orang harus kita lakukan dengan tidak tanggung-tanggung.

Misalnya saat saya diundang ke acara sunatan anak dari seorang karyawan, kalau saya memang bisa datang ya saya datang. Untuk hari-hari besar pun kami tidak pilih-pilih, kalau Lebaran ya buat acara bersama karyawan. Natalan juga begitu, kita adakan acara untuk karyawan yang non muslim. Bagaimana menyejahterakan karyawan itulah yang kami pikirkan.  Kalau karyawan nyaman, mereka bekerja pun akan maksimal.

Zaman dahulu kalau kita mau berkomunikasi dengan seluruh pekerja di Indonesia, kita tinggal menghubungi yang dulu namanya serikat buruh, sekarang serikat pekerja. Karena zaman dahulu serikat hanya itu saja, sekarang ini banyak partai dan serikat-serikat. Jadi saya menyarankan supaya para karyawan bergabung di serikat ini supaya mereka ada wadahnya jika terjadi sesuatu, dan bisa berkomunikasi melalui wadah ini.

 

Untuk situasi sekarang ini, apa pengaruhnya terhadap dunia Industri?

Banyak perbedaannya. Zaman dahulu kita happy-happy, ada kesepakatan yang disebut KKB, yaitu Kesepakatan Kerja Bersama. Kesepakatan tersebut dibuat bersama para menteri juga, jadi kesepakatan tersebut sah. Ada dua kepentingan di situ, ada kepentingan perusahaan, ada juga kepentingan karyawan. Harapannya agar perusahaan bersama dengan para karyawannya bisa maju, sama-sama sejahtera. Ada juga peraturan-peraturan yang jelas mengenai THR, bonus tahunan, pensiun dan lain sebagainya.

Salah satu peraturan sampai saat ini menjadi masalah bagi beberapa perusahaan, karena dinilai tidak efisien, yaitu  peraturan mengenai pesangon yang diberlakukan rumus 2P + 1J. “P” adalah pesangon dan “J” adalah jangka. Kalau anda bekerja di perusahaan selama 10 tahun, pesangon yang diberikan maksimal 9 tahun, pesangon yang didapatkan 18 x gaji ditambah jangka. Jadi, bisa mendapatkan 20 x gaji. Hal tersebut berlaku juga untuk yang bekerja 20 tahun atau lebih. Jadi pesangon maksimal 20 x gaji.

 

Bapak sukses membangun Indomobil dan merek Suzuki begitu kuat, bisa diceritakan?

Pada zaman saya dulu, saat saya membuat Suzuki Carry, saya melakukan pendekatan dengan koperasi angkutan. Saya memulainya pertama kali di Manado. Kita melakukan pendekatan dulu. Kepuasaan pelanggan adalah pendekatan dengan mereka. Saya bikin sama dealer, kalau mobil sudah menempuh jarak 200.000 km dan tidak turun mesin,  saya kasih hadiah emas. Jadi, mereka rawat dengan baik mobil-mobilnya. Konsep dasarnya kita buat bagaimana caranya supaya pelanggan yakin dengan kita.

Dulu ada mobil Katana. Itu ‘kan mesinnya sangat bandel. Saya taruh mesin Katana, ke dalam Karimun dan Carry. Makanya,  orang-orang sampai sekarang masih mencari-cari mobil tersebut karena mesinnya yang bagus tadi. Pada saat ini sudah tidak ada lagi yang seperti itu sejak dipegang oleh orang asing. Mungkin mereka belum memahami masyarakat Indonesia yang membutuhkan mobil yang bandel namun harga terjangkau. Dalam hal penjualan saat ini Toyota yang masih juara, baru kemudian Honda dan disusul yang lainnya. Sedangkan Suzuki juara di mobil yang kelas murah namun dengan mesin yang kuat.

 

Bisa diceritakan filosofi hidup Bapak?

Pada saat saya dikirim ke negara maju di Inggris, saya bertemu dengan menterinya, beberapa tokoh. Saya banyak belajar dan dibekali banyak hal. Kita diajari bagaimana jadi pemimpin. Ada masalah dalam mendidik para pemuda pada zaman itu. Masalahnya disebut “4 Olah “. Olah pertama yaitu Olah Kalbu. Jika mengikuti ajaran agama Islam, tanpa ada yang menyuruh kita sudah melakukan kewajiban kita dan juga berperilaku sesuai dengan ajaran agama. Yang kedua yaitu Olah Pikir, pada masa itu harapannya pemuda mempunyai olah pikir yang positif. Yang ketiga Olah Etika, generasi muda banyak yang kurang disiplin, karena orang tua juga sibuk. Jadi, karakter anak pun tidak menjadi perhatian. Yang terakhir Olah Raga di mana fasilitasnya kurang didukung. Banyak anak muda kita yang akhirnya main bola di jalanan karena fasilitasnya terbatas. “4 Olah” inilah yang menjadi masalah terbesar sampai saat ini.

Di kantor saya sengaja membuat tempat supaya karyawan bisa berolahraga, ada juga band. Saya mengusahakan bagaimana supaya karyawan bisa enjoy bekerja di sini. Mereka membentuk tim dan Kita libatkan mereka dalam pertandingan-pertandingan.

 

Sebelum tahun 2008,  posisi Industri otomotif kita di ASEAN bagaimana?

Sebetulnya sebelum krismon posisi kita sangat kuat, 2 sampai 3 kali  di atas Thailand. Pada saat itu yang menjadi Pimpinan Asian Otomotif itu adalah Indonesia. Selama dua periode saya juga menjadi Ketua GAIKINDO. Sekarang ini kalau Thailand mau membuat mobil yang orisinal, kita mau membuat mobil Indonesia. Karena di sini ada pemikiran, kalau terlampau mewah ada kesenjangan. Maka pemerintah membuat perbedaan pada harga mobil. Kalau mau beli mobil mewah dari Jepang, itu harganya bisa  tiga kali dari yang di Jepang dan di sini. Kalau mau beli mobil yang ada di Indonesia, harganya relatif lebih murah. Untuk barang mewah juga diberlakukan undang-undang khusus untuk barang mewah.

Kembali lagi ke ASEAN. Dulu orang berpikir, ASEAN ini menjadi suatu kekuatan ekonomi di Asia, khususnya Asia Tenggara. Ini menjadi kawasan yang kuat karena jumlah penduduknya hampir 600 juta orang.  Kalau mau dibandingkan dengan pasar Eropa, ini akan menjadi kekuatan sendiri. Dan kebetulan 45 % dari penduduk di ASEAN  merupakan penduduk Indonesia. Kalau mau bicara pasar yang paling gampang patokannya:  makin banyak populasi makin banyak orang mau investasi. Di ASEAN, investor   tinggal pilih,  mau Thailand, Malaysia, Vietnam, Filipina, Myanmar, Laos, Indonesia atau Kamboja. Jadi, pilihan makin terbuka. Kekuatan ASEAN terletak di China. Beberapa negara ini berkiblat ke China.

Sedangkan di Indonesia, wilayah Sumatera yang menjadi lahan besar bagi Malaysia. Negeri itu  ingin membangun jembatan dari Johor Baru ke Riau, namun tidak mendapatkan persetujuan. Yang sekarang sedang jadi masalah yaitu Filipina yang mau menyambung ke Bitung, Sulawesi Utara. Jika disetujui, mereka menjanjikan untuk menginvestasi pelabuhannya. Mereka akan menyiapkan fasilitas roll on roll off kapal. Filipina jago dan kuat dalam hal agro bisnis. Jika negeri buka link bisnis di sini yang terbaik adalah melalui Sulut.  Mereka bisa saling share.

Sebenarnya negara kita juga negara yang kuat karena daerahnya sangat subur. Namun kembali lagi, karena pada zaman dahulu kita dijajah oleh kaum feodal, maka mentalnya juga jadi mental feodal. Negara penjajah melihat rempah-rempah kita itu sangatlah kaya, dan mereka dapat membaca  masyarakat kita pada saat itu masih lemah. Mereka mengambil kesempatan tersebut untuk menjajah negara kita. Baru setelah kita dijajah, kita jadi terbuka matanya.

 

Bapak begitu identik dengan Indomobil, sekarang masih aktif?

Jadi di Indomobil sekarang ada holding-nya. Holding-nya ini dulunya adalah anak perusahaan. Namun seiring berjalannya waktu semua habis. Perusahaan-perusahaan Jepang yang ada sekarang di sini karena saya yang mengundang. Jadi yang mereka kenal pada awalnya hanya saya. Sekarang ini jika orang mendengar nama saya, pasti mereka mengaitkannya ke Suzuki dan Indomobil. Kalau mereka mau mencari saya pasti semua dari Aceh sampai Papua mengirim suratnya ya ke alamat ini. Padahal pada kenyataannya tidak seperti itu.

Perusahaan diserahkan ke pemegang saham terbesar, yaitu orang asing, yang di sini adalah orang-orang Jepang. Sejak itu saya sudah tidak leluasa, tidak  mempunyai power. Saya hanya bisa menyaksikan saja, ada perubahan yang positif, ada perubahan yang negatif.

Saat saya sudah pensiun pun, beberapa karyawan saya meminta bantuan saya. Mereka minta diberikan ilmu bagaimana membangun sebuah perusahaan kecil menjadi besar. Kita membentuk perusahaan bersama, namun yang namanya Principals kan punya misi bagaimana membesarkan perusahaan yang mereka pegang. Jadi mereka pun mencari perusahaan Jepang besar untuk membuat komponen-komponennya. Tidak masalah karena memang mereka mungkin tidak mau rugi. Apalagi sekarang ini segala sesuatu membutuhkan prosedur dan proses yang panjang.

Contohnya, membuat sebuah perusahaan logistik membutuhkan interconnectivity, membutuhkan izin sana sini, pelabuhan-pelabuhan, pemerintah dan lain sebagainya. Untuk mengirim mobil-mobil pun ada peraturannya. Satu container memuat 20 mobil hanya boleh 1 rit. Untuk truk dan container barang juga tidak boleh beroperasi sebelum pukul 10 malam. Meskipun rambunya sudah dicabut, peraturan tertulisnya masih ada.

 

Bagaimana dengan kegiatan olahraga?

Sekarang in saya masih aktif berolahraga, terutama tenis, saya menjadi pengurus sampai saat ini. Saya juga aktif di IMI (Ikatan Motor Indonesia), IMI yang membuat saya populer di daerah-daerah, karena saya yang menyelenggarakan balapan-balapan di jalan raya di daerah tersebut. Atau balapan antara kampung. Rakyat sekitar menjadi senang karena ada tontonan gratis yang menarik. Jadi mereka meminta saya untuk menyelenggarakan lagi balapan-balapan seperti itu. Bagi mereka ini adalah hiburan yang menyenangkan. Makanya,  mereka berkumpul untuk menyaksikan balapan tersebut. Saya juga senang mengendarai sepeda. Bagi saya, kegiatan-kegiatan ini hanya untuk kill the time.

Saya juga dulu pernah aktif di musik. Saya mempunyai band dan band tersebut dikontrak oleh Malaysian Club. Mereka sangat senang mendengar lagu-lagu Indonesia. Memang mendengarkan musik merupakan obat anti stress. Sangat perlu buat kita yang aktif bekerja untuk meluangkan waktu mendengarkan musik.

 

Bapak juga aktif di dunia pers dengan mendirikan sejumlah koran?

Dalam hal bisnis (media),  saya ini istilahnya pemimpin perusahaan. Ada 3 pemimpin, Pak Sugangga sebagai Pemimpin Umum, saya Pemimpin Perusahaan dan yang terakhir Pemimpin Redaksi. Kita kemudian berkembang dan membuat Solo Post. Ada juga Harian Jogja. Jika bicara soal bisnis di Indonesia tim saya dalam media, tim wartawan, tim logistik, tim usahanya, managemennya dan direktur utamanya dekat dengan saya.

Saya masih memiliki intuisi bisnis. Saya memikirkan untuk mengembangkan usaha percetakan, surat kabar. Zaman dahulu susah menjual koran ke Indonesia Timur. Jadi, kita bikin percetakan jarak jauh di Makassar, Surabaya, dan Semarang. Kami membuat sesuatu untuk bagaimana agar bisa berkomunikasi dengan masyarakat luas.

 

Pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo saat ini kan aspek budaya mau dijadikan panglima, bagaimana menurut Bapak?

Sebetulnya harusnya dari dulu ya seperti itu. Culture itu kan tidak bisa dibedakan. Balik ke “4 Olah” yang tadi saya katakan. Kita sadar dan yang paling terpatri di benak  saya (4 Olah). Yang paling membuat kecewa adalah kalbu,  olah pikir dan juga pekerti yang sudah tidak karuan.

 

Revolusi mental sendiri bagaimana penerapannya?

Bagi saya yang utama nomor satu itu education-nya. Pendidikan itu yang harus bisa kita lakukan. Persoalan juga harus dapat kita mengerti, tantangannya apa, harus kita kuasai. Jadi tidak bisa main-main lagi dan harus mengubah sikap kita. Saya terpatri dengan konsep yang namanya VIP. “V” adalah Visioner. Kita harus punya visi yang jelas ke depannya seperti apa, apa yang harus kita lakukan. “I” adalah Integrity, yaitu setiap orang harus punya integritas. Kita harus siap menjadi orang yang jujur dan lain sebagainya. Terakhir “P” adalah Perseverance bahwa kita menghadapi tantangan itu tidak akan pernah habis. Tantangan ke depan pasti akan selalu ada. Jadi apapun juga yang mau kita lakukan, ya, harus bisa diwujudkan, karena itu adalah mimpi kita. Tiga hal ini saja yang benar-benar terpatri dalam pikiran saya.

Teks: Mada Mahfud; Foto: Dhodi Syailendra

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post