Monday 8 May 2015 / 22:03
  • Hingga Selasa (31/3), 1.528 orang di Indonesia Positif Covid-19, 81 orang sembuh, dan 138 meninggal.
BISNIS

Jadilah Ayam yang Jago, Bukan Pecundang

Arfial Arsad Hakim memandang karya Sulistyo. (Foto Kabare/ Baskoro)

Arfial Arsad Hakim adalah seniman yang menfokuskan diri selama 50 tahun dengan menciptakan karya bertemakan alam. Baginya memandang alam adalah suatu yang bisa menentramkan hati dan sebagainya. Sehingga tidak lagi menjadi seperti pemandangan alam seperti potret biasa.

Jakarta - Arfial Arsad Hakim adalah seorang pelukis yang mengangkat tema pemandangan alam sebagai objek lukisnya. Arfial belajar melukis di sanggar lukis sekitar tahun 1968. Bergulir dengan hijrahnya Arfial meninggalkan kota kelahirannya, Medan, ke berbagai kota bahkan luar pulau: Palembang, Bandung, dan Solo yang telah menjadi kota tinggalnya selama puluhan tahun hingga saat ini. Di setiap kota tersebut, Arfial tetap setia dan konsisten mencipta karya-karya rupa. Dengan karakter yang berbeda di setiap kota, tentu hal tersebut menorehkan warna tersendiri pada setiap visualisasi karya-karyanya.

Seniman lukis yang baru saja menggelar pameran tunggal di Galeri Nasional dalam rangka memperingati hampir 50 tahun berkarya ini berpendapat bahwa, alam yang ditangkap olehnya adalah alam yang kemudian ia sederhanakan tidak lagi menjadi naturalis atau apa adanya, tapi Arfial menangkap sesuatu yang lebih ke esensinya. Bahwa alam itu sebuah ciptaan Yang Maha Pencipta yang sangat besar sehingga kita itu menjadi kecil di dalamnya.

Berikut adalah petikan wawancara tim Kabare.co saat berbincang dengan Arfial ketika dimintai pendapatnya mengenai karya lukis Sulistyo dalam acara pameran tunggal Sulistyo bertajuk Jagonya Jagoan di Jakarta, Selasa (1/2).

 

Dari kacamata pandangan anda, Apa yang ingin Sulistyo sampaikan melalui pameran kali ini?

Saya sebagai pelukis dan kebetulan sama sama dari Solo, artinya Sulistyo juga teman baik saya. Seperti sudah dijelaskan oleh pelukinya sendiri bahwa, tema yang dia angkat ayam jago itu pada awalnya orang kan hanya melihat sekedar ayam jago. Tapi Sulistyo mensiasati tema itu menjadi tema yang memiliki filosofis yang lebih dalam. Bahwa, ayam jago itu siap mati, seperti yang Sulistyo katakan, ayam jago itu kalau tidak mati ya jadi kemoceng. Jadi betul betul untuk dirinya bermakna.

Tapi itu filosofi yang dilihat secara umum. Kalau kita bicara ke teknis saya melihat karya Sulistyo itu secara teknis kuat dan juga matang. Dan dia mengambil inti dari sebuah objek dalam hal ini kebetulan ayam jago yang pada awalnya mungkin kurang terpikirkan oleh orang lain. Walaupun sebenarnya kita pernah tahu juga, bahwa lukisan ayam jago pernah dilukis juga oleh pelukis lain yakni Popo Iskandar dari Bandung. Tapi pada saat itu Popo Iskandar lebih banyak dikenal sebagai pelukis yang mengangkat tema kucing.

 

Bagaimana pandangan bapak tentang tema yang dipilih Sulistyo dalam pameran kali ini. Apakah cocok dengan moment Indonesia saat ini?

Sulistyo melihat ayam jago tidak hanya sekedar ayam. Tapi dia mengkaitkannya dengan filosofisnya. Kalau tadi dia (Sulistyo) sudah mengatakan bahwa, dirinya sudah menekuni tema ayam jago lebih dari sepuluh tahun terakhir, artinya tidak hanya saat ini, artinya dia melihat bahwa jago itu sesuatu yang lebih panjang, bukan sekedar hari ini. Bahwa yang ia angkat "jadilah jagoan" dan itu semua orang, tentunya untuk memotivasi seluruh rakyat Indonesia. Bahwa kita itu berusaha menjadi orang yang jago, jangan jadi yang pecundang, ini luas ya, kepada siapapun, entah siapapun dia yang Sulistyo maksudkan.

 

Ada salah satu lukisan ayam dengan latar belakang peta Indonesia, Bagaimana kaca mata anda melihat karya ini?

Melalui Jagoan Indonesia, yakni lukisan Sulistyo yang menggambarkan ayam jago dengan latar belakang Indonesia misalnya. Sulistyo ingin mewakili semua jagoan yang ada di Indonesia. Hanya saja bagi masyarakat awam tentu bisa lain makna yang dibaca lewat lukisan itu.

Dikatakan oleh penyelenggara juga, bahwa jagoan Indonesia harusnya juga berani keluar, bukan hanya bertarung di dalam negeri saja. Jagoan yang digambarkan oleh Sulistyo menurut kacamata saya itu bukan digambarkan sebagai negara. Tapi lebih kepada orang-orang, dan orang-orang itulah yang disimbolkan untuk kita, orang-orang Indonesia.

 

Kalau Sulistyo mengangkat tema ayam, lalu anda mengangkat tema alam. Apa yang ingin anda sampaikan lewat lukisan anda?

Pertama, bahwa kita diharapkan untuk sadar kepada alam. Kita tidak bisa lepas dari alam, kita harus bersahabat dengan alam. Karena itu saya masih sangat menekuni dan mengangkat tema alam.

 

Anda mengatakan telah berkarya hampir 50 tahun. Apakah semua karya anda bertemakan alam?

Iya, selama 50 tahun saya bergelut sebagai pelukis selalu menggambar alam sebagai tema saya.

 

Apa yang membuat anda tekun menggambar alam selama anda berkarya?

Pertama, saya melihatnya dari sebagian besar masyarakat Indonesia tinggal dan dekat dengan alam bebas, bukan perkotaan yang memiliki hutan beton. Sebagian besar rakyat Indonesia masih tinggal dekat dengan alam, seperti di desa, di pantai, di gunung. Karena alam bagi saya sangat memberikan inspirasi untuk sebagai sumber penciptaan.

 

Apakah anda pernah mengangkat tema tentang kemarahan alam, seperti yang kita tahu manusia saat ini gemar merusak alam?

Yang saya angkat itu sisi baik dari alam, bahwa alam itu memberikan kebaikan dan ketenangan. Kalau alam itu rusak, lalu kenapa dia memberikan kemarahan itu sebetulnya karena kita. Kalau kita bisa bersahabat dengan alam pastinya alam itu tidak akan merusak. Kan jadi banjir, jadi kerusakan apapun itu karena ulah manusia itu sendiri.

 

Bagaimana cara masyarakat membaca pesan dari karya karya lukisan yang anda buat?

Ya, kalau kita melihat sebuah lukisan naturalis, atau misalnya potret, itu kan dengan mudah yang terlihat oleh mata bisa tergambar maksud yang ingin disampaikan. Tapi melihat lukisan yang sudah di luar itu tidak bisa dengan hanya sekedar melihat saja, artinya pertama, kita harus tahu konsep si senimannya. Kita juga harus tahu perkembangan seni yang ada. Dan paling tidak, kita harus sering berintraksi dengan senimannya.

Sesudah itu kita akan bisa merasakannya. Tapi paling tidak kalau lukisan saya, pada saat saya pameran di Galeri Nasional anak SMP pun bisa merasakan. Pada waktu itu orang-orang mengatakan "wah enak ya, sejuk ya, tenang ya" itu mulai dari anak-anak SMP, Mahasiswa, bahkan orang dewasa bisa merasakannya. Karena apa? Objek alam yang saya lukiskan itu belum terlalu saya abstraksi sampai untuk sulit dimengerti walaupun karya saya bukan dalam bentuk lukisan naturalis.

Baskoro

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post