Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
BISNIS

Jadikan Budaya Sebagai Panglima Politik

KH. Ahmad Mustofa Bisri (Kiai, Penyair dan Pelukis)

Lalu saya terpikir, kenapa kita tidak mengangkat budaya sebagai panglima. Budaya itu ada rasa dan segalanya, kalau politik tidak pakai rasa. Lihat saja politisi itu tidak bisa merasakan apa pun. Mereka bisa memerhatikan orang, tetapi tak bisa merasakan orang lain.

Jakarta - Sore itu, di Minggu kedua Oktober 2015, Gus Mus menyampaikan konsep revolusi mental, pemikiran tentang pendidikan, budaya, agama, Tuhan dan gagasan tentang keindonesiaan. Termasuk politik, filsafat, ekonomi, keteladanan,  kepemimpinan, hatinurani, dan manusia yang terpinggirkan untuk kepentingan sesaat. Banyak orang hanya menggunakan akal dan pikirannya, sementara nuraninya dimatikan. “Makna kehidupan berbudaya itu pada intinya peduli pada kehidupan yang berdasarkan nurani dan kalbu,” ujar kiai yang juga gemar melukis dan menulis syair.

Ayah 7 anak ini oleh Presiden Joko Widodo diberikan tanda kehormatan “Bintang Budaya Parama Dharma” pada  13 Agustus 2015 di Istana Negara. Sebuah kehormatan tertinggi bagi mereka yang berakhlak dan berbudi pekerti baik serta berjasa besar di bidang budaya. Bintang kehormatan ini setara dengan “Bintang Jasa Utama”, tanda kehormatan bagi warga sipil yang berjasa besar terhadap nusa dan bangsa.

Pria kelahiran Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1945, ini berharap kepala negara menjadikan budaya sebagai panglima. Menurutnya, masa Presiden Soekarno, politik sebagai panglima. Dikritik rezim Soeharto bahwa politik tidak membuat perut kenyang. Sebagai jawabannya, Presiden Soeharto menjadikan ekonomi sebagai panglima. “Saya terpikir, kenapa kita tidak mengangkat budaya sebagai panglima. Budaya itu ada rasa. Kalau politik tidak pakai rasa. Lihat saja politisi itu tidak bisa merasakan apa pun. Mereka bisa memerhatikan orang, tetapi tak bisa merasakan orang lain,” ujarnya. Demikian petikan wawancara dengan kiai “nyentrik”, salah seorang pendeklarasi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan juga perancang logo PKB yang digunakan hingga kini.

Mengapa Indonesia seharusnya menggunakan budaya sebagai panglima?

Pada zaman Bung Karno yang menjadi panglima adalah politik. Pak Harto mengkritik bahwa politik dijadikan panglima tidak bisa membuat perut kenyang. Maka Orde Baru mengangkat panglima baru, yaitu ekonomi. Nah, begitu era reformasi malah kembali ke politik sebagai panglima, bukan mencari hal baru. Ini menunjukan kita tidak kreatif.

 

Saya pikir, kenapa kita tidak mengangkat budaya sebagai panglima. Budaya itu ada rasa dan segalanya, kalau politik tidak pakai rasa. Lihat saja, politisi tidak bisa merasakan apa pun. Mereka bisa memerhatikan orang, tetapi tak bisa merasakan orang lain.

 

Budaya itu tak hanya melibatkan pikiran, keinginan, dan nafsu, tetapi juga hati nurani. Anda lihat semua kritikan terhadap hal-hal tidak baik dan tak manusiawi itu munculnya dari budayawan. Impian saya, kalau budaya menjadi panglima, nantinya orang akan berbudaya, karena apa saja akan berdasarkan budaya. Tidak seperti sekarang yang segala sesuatu dipolitisasi. 

 

Dipikirnya yang bisa memperbaiki kehidupan hanya ekonomi dan politik. Pada kenyataannya, ekonomi dan politik justru yang merusak, bukan hanya manusia tetapi juga alam. Ekonomi dimaknai dengan sangat dangkal. Ekonomi maknanya perut kenyang. Papan, sandang, pangan lebih diutamakan. Kenapa sesama anak bangsa di Indonesia berkelahi? Itu bukan karena urusan agama atau masalah kebangsaan, melainkan karena mengejar kepentingan perut.

 

Panutan itu ada pada pemimpin. Bagaimana menurut Gus Mus?

Para pemimpin seharusnya melihat konteks. Politik dijadikan panglima karena saat itu kita sedang membangun dan menata bangsa. Kita memang memerlukan politik agar bangsa Indonesia diakui internasional. Kita perlu politik untuk menyusun negara. Tetapi masalahnya, panglima politik belum tertata dengan baik, malah diganti dengan panglima ekonomi, yang diartikan pangan, papan, sandang. Selama 32 tahun kita didikte untuk mengutamakan urusan perut, tepatnya mengejar pangan, papan, dan sandang.

 

Kalau panglima sebagai budaya, kita memang dituntut untuk kaya, tetapi tidak kaya dalam hal materi, melainkan batin dan nurani. Kekayaan itu membuat kita melihat lebih banyak, menghargai alam dan sesama. Sayangnya, kita dididik dengan keteladanan Pak Harto. Beliau mengajak kita untuk mengejar kekayaan dari keteladanan dan keluarganya. Rakyat mecontoh pemimpinnya.

 

Beda kalau budayawan, mereka mendidik keluarganya untuk kaya dari dalam (batin). Sedangkan orang yang kaya dari luar itu, contohnya, orang sudah memiliki rumah bertingkat malah ikut antre bantuan langsung tunai (BLT). Itu menunjukan mereka miskin dari dalam. Sementara mereka yang kaya dari dalam tak pernah merasa kekurangan.

 

Untuk mewujudkan budaya sebagai panglima, apa yang harus dilakukan para pemimpin?

Mereka yang masih mempunyai rasa, nurani dan hati harus memberikan contoh. Budayawan tak cukup berbicara, tetapi memberikan contoh. Budayawan juga harus terbebas dari politisasi para pejabat. Karena mereka hanya akan jadi kroco.

 

Seperti apa orang yang hanya menggunakan akal dan pikirannya saja, sementara nuraninya dimatikan?

Ambil contoh pada karya seni. Banyak orang melihat karya seni mencetuskan pertanyaan, “Ini apa?” Padahal karya seni tidak selalu bisa ditelaah dengan pikiran. Cukup menggunakan rasa. Itu artinya, apabila kita hanya menggunakan satu alat kemanusiaan saja (materi), sementara yang lain tidak digunakan (batin dan nurani), maka kehidupan menjadi tidak seimbang.

 

Gus Mus mengatakan bahwa agama, terutama Islam, mulai tidak berbudaya. Jika, sebagai muslim yang diklaim sebagai umat berbudaya sudah seperti ini, apa berarti kondisi di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan? Gus Mus sepertinya  pesimistis sekali?

Ya, memang. Bahkan Syafii Maarif –mantan ketua umum Muhammadiyah, Red.-- sangat pesimistis. Kita ini beragama tidak, berbudaya tidak. Jika tidak menyertakan kalbu dan nurani, kita itu manusia seperti apa? Saya  

sampai bikin lukisan “Berzikir Bersama Inul”. Makna lukisan itu, orang mengunakan daging, tidak roh dan jiwa. Tapi banyak yang tersinggung dengan lukisan itu. Saya dikritik macam-macam. Mereka tidak memahami makna lukisan itu untuk menyindir kondisi Indonesia saat ini.

 

Kalau sebegitu parahnya, berarti pemerintah saat ini yang memiliki jargon Revolusi Mental itu sudah benar?

Program itu menyontek tulisan saya yang pernah diterbitkan Suara Merdeka beberapa tahun lalu. Ketika reformasi baru terjadi, saya pernah menulis: kalau kepala manusia Indonesia tidak dicopot dan diganti dengan kepala baru, insya Allah sampai kiamat Indonesia akan tetap seperti ini.

Ini kepala yang sudah dibina Pak Harto yang mendewakan uang susah dibuang.

 

Sebaiknya kita seperti apa?

Kita harus menjadi manusia baru yang melihat dunia ala kadarnya. Melihat harta kekayaan sebagai sarana untuk kepentingan kebahagiaan. Kita tak boleh jadi budaknya materi, budaknya dunia. Kita tak akan pernah merdeka sepanjang bersedia dijajah duit. Duit itu sekarang saingannya Allah. Tuhan melarang sesama saudara berkelahi, tetapi ketika duit menyuruh berkelahi, niscaya akan berkelahi.

 

Apa yang harus dilakukan agar mental ini terevolusi?

Pemerintah harus mengubah konsep kemanusiaannya. Diri kita harus mulai meresapi bahwa kekayaan itu bukan yang dilihat atau materi, tetapi kekayaan itu dari batin. Kalau pemerintah ingin merevolusi mental, mereka harus mengkaji ulang konsep-konsep keduniaan, Tuhan, manusia, bangsa, dan tanah air. Selama ini mereka seperti tak tahu konsep yang dijalankan. Kalau tidak tahu, bagaimana mereka mau merevolusi? Apa yang direvolusi?

Itu perlu dijelaskan oleh pemerintah.  

Soalnya kalau tidak pernah mengkaji ulang konsep-konsep itu, bisa jadi selama ini yang dianggap benar adalah hal yang salah. Sementara yang salah dijadikan pegangan kebenaran dalam kehidupan berbangsa.

Konsep paling sederhana yang perlu direnungi itu adalah dunia ini untuk kita atau kita untuk dunia. Jawab itu saja dulu. Tuhan dalam kitab suci selalu menyebutkan, Tuhan menciptakan semua ini untuk kita (manusia). Tuhan menciptakan sapi untuk kita. Tumbuhan untuk kita. Bukan kita untuk tumbuhan. Apa saja untuk kita.

 

Sepertinya bangsa ini tidak bisa berubah?

Sebenarnya tidak juga, masih ada harapan. Mengubah dunia itu bermula dari diri sendiri. Saya selalu mengambil contoh Nabi Muhammad. Beliau melakukan perubahan sendirian. Saking ingin berubahnya, Beliau tak peduli dianggap gila. Selanjutnya, sikap beliau diikuti istri, para sahabat, kemudian umatnya. Kalau mengikuti Nabi Muhammad yang memulai dari diri sendiri, insya Allah akan ada perubahan.

 

Bagaimana dengan pendidikan? Apakah dapat membantu misi revolusi mental?

Pendidikan memang bisa dijadikan pintu masuk agar Indonesia lebih berbudaya. Di sekolah-sekolah memang ada pelajaran agama, tapi isinya daging, bukan jiwa. Makanya banyak orangtua yang mengirim anaknya ke sekolah-sekolah keagamaan. Mereka ingin anaknya tidak hanya dibuat pintar, tetapi agar jiwa anaknya terpenuhi.

 

Mengajarkan jiwa, bukan daging. Ini seperti apa?

Ada nyanyian: bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.... Ini kan penegasan dari para pendiri untuk membangun badan setelah jiwa. Tetapi sekarang yang utama itu badan. Jadi manusia Indonesia sekarang bekerja atau berkehidupan untuk membangun badan, bukan jiwa. Untuk keperluan badan sudah banyak, tetapi membangun jiwa belum.

Pertanyaannya, siapa seharusnya yang bertanggung jawab mengurus bangunan jiwa ini? Kementerian Agama? Mereka terlalu sibuk mengurus bisnis haji. Ibadah yang selayaknya jadi pondasi jiwa malah dibisniskan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) bikin label halal, ini buat apa? Wong yang halal lebih banyak dari yang haram. Gampang kok memilah label haram, nggak perlu lembaga. Ini berarti orang-orang itu mencari kerjaan atau memang mereka kurang kerjaan.

 

Pendidikan untuk membangun jiwa. Tentu ada hubungannya dengan pendidikan agama. Bagaimana menurut Gus Mus?

Kita punya istilah, ilmu agama dan ilmu umum. Itu darimana logikanya? Kok, ada ilmu agama dan umum. Dikotomi tersebut sampai ada pembedaan toko buku dan toko kitab; madrasah dan sekolah umum. Padahal madrasah itu sekolah, sekolah itu madrasah. Toko buku, ya, toko kitab; toko kitab, ya, toko buku.

Dalam Islam tidak ada dikotomi agama dan ilmu. Semua ilmu itu fardu (kewajiban). Memang ada yang fardu ain dan fardu kifayah. Fardu kifayah itu tidak semua orang wajib memelajarinya. Misalnya, ilmu kedokteran, kita tidak wajib mendalaminya. Tidak semua orang harus tahu, tetapi perlu ada. Kalau ilmu tentang Tuhan, itu fardu ain. Setiap pribadi tidak boleh tidak memelajarinya.

Lalu ini dirusak Belanda –zaman kekuasaan Belanda, Red.—. Ilmu umum dan pesantren (agama), jadi ada dikotomi. Pembicaraan agama hanya dari mereka yang sekolah di pesantren. Sementara mereka yang di sekolah umum, kurang fasih soal agama.

Masih belum percaya kalau agama cuma embel-embel? Lihat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Untuk sektor agama, isinya cuma pembangunan masjid, jalan menuju mesjid, rehabilitasi musala. Itu kan menyedihkan. Cara berpikirnya semrawut. Masa iya, membangun jalan ke masjid akan menciptakan manusia Indonesia yang beragama dan berbudaya.

Kita perlu meninjau kembali pola pikir kita. Untuk melakukan revolusi mental, konsep-konsep yang ada ditinjau. Kita harus melihat semua konsep secara menyeluruh. Revolusi mental baru bisa terjadi apabila kita mengetahui konsep awal. Dari konsep tersebut ditelaah apa yang ingin diubah. Revolusi itu kan perubahan secara drastis. Kalau mau terjadi, ya, harus dicabut dulu akarnya. Ini tidak mudah.

Selama ini saya berdakwah tidak untuk membenci dunia, tetapi mengkaji ulang konsep kita tentang dunia. Kita dudukan dunia sesuai proporsinya. Uang sesuai proporsinya. Materi itu untuk apa? Uang itu untuk apa? Kita untuk materi atau materi untuk kita?

 

Jadi revolusi mental bukan khayalan?

Bukan. Bukan khayalan. Itu bisa terjadi.  Bagaimana agar revolusi terjadi? Harus dimulai dari diri kita. Kalau diri kita tak direvolusi maka itu hanya khayalan.

 

Bagaimana dengan kondisi di Indonesia yang dianggap sudah tidak lagi memiliki toleransi, terutama pada kehidupan beragama?

Kembali lagi ke prinsip awal. Anda beragama pakai apa? Kalau Anda beragama pakai akal saja, maka tak jalan. Kalau Anda beragama pakai hati saja, juga tak jalan. Itu yang terjadi saat ini. Agama jadi perdebatan, bukan sesuatu yang dihayati. Makanya harus dikaji ulang konsep kita tentang Tuhan. Menurut Anda, Tuhan berapa? Tuhan seperti apa? Yang Maha Esa itu artinya apa? Kenapa saya ber-Tuhan dianggap tak ber-Tuhan?

 

Kasus pembakaran masjid di Tolikara, Papua. Apakah akibat konsep ketuhanan yang tidak jelas? Atau akibat toleransi beragama sudah tidak ada?

Pemikiran-pemikiran sempit tentang Tuhan itu yang menyebabkan pertikaian. Konsep itu yang seharusnya dikaji ulang, direvolusi. Semua aspek harus dikaji ulang. Kenapa ada kementerian agama? Kenapa agama di APBN dan APBD hanya sekadar sektor? Kenapa ada sekolah Islam?  Kampus beragama, universitas Islam? Itu yang saya pertanyakan. Konsep beragama itu apa? Apakah agama dan Tuhan sebuah institusi? Kalau Anda mau merevolusi, coba tanyakan ke orang-orang yang pandai beragama dan para pejabat: Agama itu sarana atau tujuan hidup? Itu pertanyaan pertama yang konkret. Berani tidak kita bilang bahwa agama itu hanya sarana dan tujuannya Tuhan?

 

Kalau kita harus menyusun kembali nilai kemanusiaan, berarti kita perlu memahami arti manusia. Menurut Gus, apa itu manusia?

Manusia itu makhluk ciptaan Tuhan. Hamba Tuhan yang diangkat sebagai wakilnya di muka bumi. Jadi ada dua dimensi dari manusia. Dimensi hamba, kalau kita tinjau dari Tuhan. Tetapi ditinjau dari selain Allah, manusia itu penguasa.

Tetapi yang sering terjadi, kita terlalu sadar akan kepenguasaan kita. Namun kerap lupa tentang kehambaan kita. Terlalu sadar sebagai hamba, tetapi lupa sebagai wakil Tuhan yang berkuasa. Sebagai penguasa, kita harus menjaga agar bumi ini tetap baik, hubungan antarmanusia, hubungan manusia dengan alam dan lainnya harus harmonis. Karena itu Tuhan menundukan penghuni alam lainnya kepada manusia. Kalau tidak, kita sangat kecil sekali dibandingkan dengan sapi, gajah, dan lainnya. Sapi, gajah dan lainnya menurut dengan kita karena mereka dipaksa Tuhan untuk tunduk kepada manusia.

 

Sekarang ini sepertinya kita beragama tetapi melupakan Tuhan?

Semangat keberagaman kita tak imbang dengan pemahaman keagamaan kita. Orang menggebu-gebu beragama, tetapi dia tidak tahu apakah yang dilakukannya disukai Tuhan atau tidak. Kenapa? Itu karena dia tak mengenal Tuhannya. Oleh sebab itu, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengenal Tuhan. Bukan syarat rukun wudhu, atau cara salat. Tetapi yang terjadi di sekolah-sekolah, kita diajarkan cara-cara tersebut. Kemudian kita telaah, apakah mereka yang sudah tahu dan hapal cara-cara tersebut dianggap beragama? Apa dengan tahu rukun berwudhu dia lantas mengenal Tuhan?

Ada banyak orang yang menganggap dirinya Tuhan. Mereka menganggap hal-hal yang membuatnya marah,  juga memancing kemurkaan Tuhan. Ada orang yang ingin menyenangkan Allah, tetapi malah berkelahi dengan sesama hamba Allah.  

Saya tidak habis pikir dengan orang-orang yang rebutan mencium hajar aswad. Sebenarnya, saya ingin bertanya, mereka yang ingin mencium hajar aswad karena untuk menyenangkan Allah atau menyenangkan diri sendiri? Ketika rela berdesak-desakan, bahkan sampai tega menginjak jamaah lain demi mencium hajar aswad. Apa Allah senang kita berperilaku begitu? Atau karena kita memang senang begitu?

 

Apa saran Gus Mus kepada pemerintah untuk memperbaiki situasi ekonomi yang sedang tidak bagus ini?

Pemerintah melakukan fungsinya selayaknya pemerintah. Kita tak perlu memberitahu, pemerintah semestinya memahami fungsi dan tugasnya. Kalau tidak tahu, mereka tak usah jadi pemerintah. Mereka harus mengingat sumpahnya, kalau jadi pemerintah itu harus apa? Janjinya apa?

Heran, orang yang bernafsu kuasa banyak sekali. Tetapi tak bisa menjelaskan setelah berkuasa, mereka mau melakukan apa.

 

Kalau boleh tahu, apa sih harapan Gus Mus untuk masyarakat Indonesia agar lebih berbudaya?

Ya itu, revolusi mental harus dilakukan segera. Kita harus menyadari siapa kita. Sering-sering lah bertanya tentang keduniaan, kemanusiaan, dan Tuhan.

 

Masih sering mengajar?

Iya dong. Tugas saya itu mengajar. Tiap malam, kecuali Selasa dan Jumat malam.

 

Kalau boleh tahu, apa keinginan Gus Mus?

Saya sih maunya terjadi persaudaraan. Antara manusia dengan manusia, atau manusia dengan alam. Semuanya berdiri sama di depan Tuhan yang satu. Antara manusia dengan manusia. Manusia dengan alam hidup baik sesuai apa yang diciptakan Tuhan untuk itu. Manusia diciptakan untuk mengelola dunia ini dengan baik, jangan merusak. Kita diciptakan Tuhan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling bersahabat, jadi harus bersahabat. Terlalu banyak atribut dan pemisahan bisa bikin aku sungkan dengan kamu, aku dan kamu jadi berjarak, aku juga bisa melihat kamu bukan manusia, dan kamu menganggap aku bukan manusia. Banyak sekali yang dilihat, tapi semuanya tak jelas.

 

Gus Mus ke mana-mana bawa ipad dan familiar dengan smartphone.

Kita harus mengikuti perkembangan zaman. Jangan apatis, harus dirangkul, selama memberikan manfaat. Saya aktif di facebook, sering berinteraksi di twitter. Teranyar, saya bikin sayembara tentang puisi dari Tunisia di facebook.

 

Jadi fatwa tentang facebook itu haram tidak berlaku untuk Gus Mus?

MUI itu isinya orang pensiunan yang kurang kerjaan. Saya sering diledek teman-teman, “Kiai kok main facebook. Mainnya bareng cucu lagi.” Tapi biarkan saja.

Saya ini termasuk kiai pertama yang main komputer. Dulu saya menulis pakai mesin tik, dan itu menyiksa sekali karena ribet. Giliran ke Jakarta, teman saya pamer komputer. Katanya ini alat baru yang bikin mudah proses menulis, nggak perlu lagi tip ex kalau salah, dan bisa diganti sesuka hati. Setelah itu, saya langsung beli, kira-kira tahun 80an. Pikiran saya hanya untuk mengetik, saya tak tahu kalau komputer ternyata bisa digunakan untuk hal lain. Saya belajar sendiri soal komputer. Kalau komputernya error, saya telepon teman yang di Jakarta itu.

Kiai yang punya ipad pertama kali juga saya. Kemudian saya provokasi kiai lainnya untuk pakai ipad. Prinsipnya, semua yang ada di dunia ini untuk kita. Semua yang ada di dunia untuk meladeni kita. Jangan kita yang dikendalikan benda-benda. Semua yang bisa kita manfaatkan, harus dimanfaatkan untuk fungsi dan tugas kita sebagai khalifah, wakil Tuhan. Twitter dan facebook itu seperti pisau. Bisa untuk melukai, juga memberikan manfaat. Saya harus masuk ke twitter dan facebook, dengan harapan melalui kata-kata saya bisa menenangkan pisau yang sedang berdarah (orang-orang yang berbicara buruk atau saling bertikai kata di twitter).

 

Yang benar itu Islam sebagai budaya atau budaya Islam?

Agama itu tidak untuk Tuhan, tetapi untuk kita. Orang mengira salat untuk Tuhan. Tuhan tak butuh itu. Yang butuh kita, makanya kita salat. Sekarang ramai sebutan Islam nusantara, ya itu sah saja. Karena Islam dilakukan oleh orang Indonesia. Logikanya, Islam yang sudah membumi dan menjadi budaya. Jadi ada nilai-nilai keislaman yang oleh masyarakat tak dipertanyakan lagi asal muasalnya. Misalnya, hidup bergotong royong di desa. Nah, orang desa tak pernah mempermasalahkan dalil gotong royong karena sudah jadi budaya. Dalil menghormati tamu, dan nilai yang di desa. Dalam Islam, tradisi yang tak menyalahi tuntunan Tuhan itu dibiarkan. Kalau bisa diakulturasi, ya, diakulturasi. 

 

Penyair favoritnya siapa, Gus?

Saya suka syair dan menulis. Saya suka syair Rendra, Sapardi, dan sebagainya. Saya sedang tertarik puisi dari penyair Tunisia. Puisi dari Tunisia yang saya sayembarakan di facebook adalah yang sedang saya suka.

 

Teks: La Ode Idris Pewawancara: Tiara Maharani Kusuma Foto: Budi Prast

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post