Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Wisata_Kuliner

Istana Sang Raja Gula Semarang

Taman Oei Tiong Ham, Gergaji, Semarang. (Leiden University Libraries / KITLV)

Kompleks istana Oei Tiong Ham luasnya mencapai 81 hektar, sama luasnya dengan Kelurahan Senen di Jakarta. Kompleks istana ini terdiri dari rumah, kebun, dan beberapa bukit kecil. Dari perbukitan di taman, terlihat pemandangan kota bawah Semarang.

SEMARANG – KABARE.ID: Nama yang selalu lekat dengan Semarang adalah Oei Tiong Ham, Raja Gula pada awal abad ke-20. Oei Tiong Ham adalah pemilik kebun tebu, pabrik gula, perbankan, dan asuransi. Hartanya pada saat itu mencapai 200 juta gulden hingga gelarnya bertambah jadi Pria 200 Juta.

Istana Gergaji di Jalan Kyai Saleh, Semarang adalah kediaman Oei Tiong Ham. Kompleks ini setidaknya punya empat sebutan, yakni Gedong Gergaji, Istana Oei Tiong Ham, Kebon Rojo, dan Bale Kambang. Nama terakhir hingga kini masih dipakai sebagai nama perkampungan di bekas lahan milik Oei Tiong Ham.

Kerajaan bisnis Oei Tiong Ham bermula dari perusahaan dagang Kian Gwan di Semarang yang didirikan sang ayah, Oei Tjie Sien pada 1 Maret 1863. Oei Tiong Ham (1866-1924) mengembangkannya jadi kerajaan bisnis Oei Tiong Ham - Concern dengan bisnis utama ekspor gula pasir dan pemegang hak monopoli perdagangan candu (opium pachter) dari pemerintah kolonial Belanda.

Pemilik semula Gedong Gergaji adalah Hoo Yam Loo, pedagang yang mendapat hak monopoli perdagangan candu. Ketika Hoo Yam Loo mengalami kerugian besar sehingga dinyatakan bangkrut, semua hartanya disita untuk kemudian dilelang pada 1883, termasuk rumah besar di daerah Gergaji.

Baca juga: Menikmati Keindahan Danau dan Gunung di Plawangan Senaru

Oei Tjie Sien membeli Gedong Gergaji lima tahun setelah dia membeli dan menempati landhuis yang sebelumnya milik Johannes di bukit Penggiling, Simongan. Saat itu Sarang Garuda belum dibangun.

Oei Tiong Ham tidak memperindah istananya dengan gaya arsitektur Tionghoa seperti layaknya orang-orang Tionghoa kaya pada waktu itu. Dia tetap mempertahankan arsitektur kolonial, bangunan besar dengan kolom-kolom besar di teras; serta pintu, jendela, dan langit-langit tinggi, juga pintu gerbang dari besi.

Gedong Gergaji terdiri dari satu rumah induk dan dua paviliun di kiri-kanan gedung utama yang dihubungkan lorong beratap. Dua paviliun masing-masing digunakan sebagai ruang makan dan untuk menjamu tamu.

Beranda bangunan utama berisi meja-kursi, pot-pot bunga di atas kaki yang semua terbuat dari porselen Eropa dan Tiongkok, serta patung-patung Eropa menempel di kiri kanan dinding teras.

Baca juga: Fakta Menarik di Balik Nama Air Terjun Grojogan Sewu

Setelah melewati pintu, terdapat sebuah ruangan luas dengan empat kamar besar saling berhadapan. Di belakang ruang tersebut ada satu ruang luas dengan meja kursi dari bambu dan rotan tempat Oei Tiong Ham menerima tamu.

Di belakangnya terbentang kebun dan beberapa bangunan, yakni dapur dan ruang-ruang khusus untuk menyimpan bahan makanan, seperti daging, sayur mayur, dan ikan yang memerlukan pendingin agar dapat disimpan untuk beberapa waktu.

Saat itu kulkas belum dikenal di Semarang, maka digunakanlah balok-balok es yang harus sering diganti. Di ruang tersebut dibuat pula saluran-saluran khusus untuk mengalirkan air lelehan es.

Pada 1921, Oei Tiong Ham meninggalkan Semarang, pindah ke Singapura bersama istrinya, Lucy Hoo. Ia meninggal di sana tiga tahun kemudian akibat serangan jantung dan dimakamkan di kawasan Simongan, Semarang, bersama ayahnya.

Baca juga: Restoran ini Hadirkan Sensasi Meracik Sendiri Sushi Bagi Para Pengunjungnya

Setelah hampir 100 tahun berdirinya Oei Tiong Ham - Concern, pengadilan ekonomi di Semarang pada 10 Juli 1961 menyita seluruh aset kekayaan milik Oei Tiong Ham, termasuk istananya, dengan dakwaan melakukan praktik kejahatan ekonomi.

Sejak itulah, tanah luas bekas taman berubah menjadi perkampungan penduduk yang padat. Gedungnya sempat dijadikan Balai Prajurit dan asrama milik Kodam Diponegoro.

Kini, kepemilikan bekas istana Oei Tiong Ham beralih ke pengusaha kelahiran Semarang, Budi Poernomo (Hoo Liem). Hanya saja, kompleks yang semula seluas 81 hektare, sekarang tersisa 8.000 meter persegi, termasuk di dalamnya Rumah Gergaji.

Gedung utama yang sekarang disewakan untuk pertemuan atau resepsi pernikahan sudah berubah jadi bergaya Versailles. Ruang belakang bangunan utama dengan daun jendela khas, sekarang jadi tempat les balet. Kamar mandi dengan baknya, konon dahulu di dasarnya jadi tempat Oei Tiong Ham menimbun emas, perhiasan, dan hartanya. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post