Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Ini Dia 10 Naskah Terpilih Program Hooq Filmmakers Guild 2018

Foto: genero.com

Tahun lalu, naskah yang mengikuti Hooq Filmmakers Guild meraih sejumlah penghargaan, antara lain; Grand Prize for Best Television Pilot di Rhode Island International Film Festival, Best Comedy Programme untuk Indonesia dan Best Actress in a Leading Role untuk Singapura di Asian Academy Creative Awards.

JAKARTA-KABARE.ID: Layanan video on demand, Hooq mengumumkan 10 judul naskah yang telah terpilih untuk dikembangkan menjadi episode perdana dalam Hooq Filmmakers Guild tahun kedua.

“Kami dengan senang hati mengumumkan 10 naskah terbaik yang selanjutnya akan dikembangkan menjadi episode perdana,” ujar Jennifer Batty, Chief Content Officer Hooq dalam siaran pers yang diterima Kabare.id, Jumat (20/11/2018). 

Berikut 10 naskah yang terpilih dalam Hooq Filmmakers Guild 2018:

Shunya (Zero) (India)

Naskah karya Sidhant Chowdhry & Prashansa Sharma dari Daku Productions ini adalah komedi berunsur India. Naskah ini, berkisah tentang dua orang pesimis dan frustasi yang membuka pertapaan palsu di negeri para dewa spiritual. Ulah mereka itu tanpa sengaja membawa keduanya ke sebuah pengalaman yang mengubah kehidupan manusia.

Klenix (Indonesia)

Naskah karya Elvin Kustaman dari Yoodeo ini merupakan drama supranatural tentang seorang jenius TI yang tanpa sengaja menciptakan aplikasi yang memungkinkan penggunanya dapat melihat hantu. Ia kemudian memutuskan untuk mengkomersialkannya. Namun, tindakannya itu mendapatkan pertentangan dari manusia juga para mahluk gaib.

Baca juga: Bentara Budaya Jakarta Pamerkan Koleksi Batik Peranakan

The Headscarf (Indonesia)

Drama komedi kekinian yang ditulis oleh Taqarrabie, Khalid Kashogi, Agasyah Karim dan Pasha Yudadibrata ini bercerita tentang Emma, seorang anak yang mendapat ultimatum dari ayahnya untuk memakai jilbab atau tak diakui sebagai anak.

Setelah berkompromi, Emma setuju mengikuti Pesantren Islam selama 3 bulan. Di pesantren itulah, Emma menjalani kehidupan dengan teman barunya yang behijab. Ia juga dihadapkan dengan lingkungan pertemanan yang lebih hedonistik, antara pemahaman tentang agama yang kian berkembang dan hasrat materialistis dalam kehidupan.

The Loser Minister (Indonesia)

Finalis ketiga dari Indonesia dengan genre serial komedi karya Nadia Vetta ini bercerita tentang kondisi bangsa saat ini.

Ketika Menteri Komunikasi Indonesia memblokir platform blogging kesukaannya, seorang selebriti media sosial yang kontroversial mengeluarkan video dengan kata–kata kasar yang kemudian menjadi viral. Tak disangka, unggahannya itu membuat sang selebriti ditunjuk sebagai Menteri Komunikasi yang baru oleh Presiden.

Babi! (Malaysia)

Naskah yang ditulis oleh Roger Liew, Shaiful Yahya dari Ava Visual ini merupakan cerita drama politik dengan unsur komedi.

Naskah ini berkisah tentang seorang politikus yang memiliki banyak skandal dan dicopot dari jabatannya. Tidak hanya itu, tokoh dalam film ini juga terjerat kasus korupsi yang membuatnya tidak dapat melarikan diri. Ia kemudian memutuskan berhenti dari dunia politik dan menebus kesalahannya dengan memulai usaha berjualan nasi lemak telur asin.

Per Kilo (Philippines)

Ditulis oleh tim yang terdiri dari Dustin Celestion, Remton Siega Zuasola dan Abigail Lazaro dari Make Waves Pictures, drama kriminal ini bercerita tentang dua sosok berbeda, yakni seorang tukang daging dan seorang yang bercita-cita menjadi bintang laga. Keduanya dikisahkan menyelamatkan seorang anak dari jaringan pedofil internasional yang menjadikan mereka sasaran gerombolan penjahat.

Baca juga: Nyi Roro Kidul “Menjelma“ di Korea Selatan

Queen of Crowns (Singapore)

Naskah drama komedi ini ditulis oleh Ric Aw dan Ong Yuqi dari The Creative Room. Naskah ini bercerita tentang seorang pekerja rumah tangga asal Filipina yang terobsesi menjadi ratu kecantikan. Klimaksnya terjadi ketika ia berusaha menyembunyikan ambisinya dari sang majikan yang terobsesi dengan karir, Florence Tan.

She’s a Terrorist and I Love Her (Singapore)

Naskah kedua dari Singapura karya Luff Media ini bergenre komedi. Naskah ini, bercerita tentang seorang pria putus asa yang menikahi seorang teroris. Dengan cinta sejati sebagai satu-satunya senjata, ia harus berjuang untuk memenangkan “hati dan pikiran” istrinya guna menyelamatkan Singapura.

Lucky Girl (Thailand)

Naskah bergenre drama kriminal karya Issaraporn Kuntisuk dan Chuenjai Studio ini merupakan kisah kelam tentang sosok wanita muda yang menyadari bahwa kematian memberinya keberuntungan. Sang wanita itu kemudian memiliki kekuatan untuk merubah nasib dan takdir.

Split Second (Thailand)  

Naskah kedua asal Thailand bergenre komedi laga karya Dorsakun Srichoo ini bercerita tentang petualangan seorang pemeran badut amnesia dari grup Likay (musik rakyat Thailand). Diceritakan ia menjadi pahlawan penolong gadis yang ditawan oleh seorang pembunuh dalam sebuah pertunjukan.

Baca juga: Review Pentas Teater Bunga Penutup Abad 2018

Dari 10 naskah tersebut akan dipilih 5 naskah terbaik untuk diproduksi menjadi episode perdana yang akan tersedia di Hooq pada quartal pertama tahun depan. Nantinya akan dipilih lagi karya terbaik yang akan diproduksi secara lengkap.

Jennifer Batty menjelaskan, Hooq Filmmakers Guild adalah bentuk dukungan perusahaan terhadap industri film lokal dengan memberikan kesempatan untuk sineas di Asia menunjukkan karya mereka. 

“Kami sangat terkesan dengan naskah-naskah yang kami terima dan kami yakin pelanggan Hooq akan menikmati 5 episode perdana terbaik. Tunggu serial lengkapnya yang akan tayang secara langsung di awal tahun depan,” ujarnya.

Banjong Pisanthanakun, juri asal Thailand, yang sukses menjadi box office melalui Shutter mengatakan, keragaman dan kualitas naskah yang mereka terima tahun ini jauh melebihi harapan. “Dengan berbagai genre dan alur cerita, dari drama, horor, komedi, hingga fiksi ilmiah, kami telah melihat talenta yang luar biasa di Asia melalui kompetisi ini,” ujarnya.

Baca juga: “Bali: Beats of Paradise” Dapat Sambutan Hangat di Filipina

Sementara, juri asal Indonesia Mouly Surya, yang meraih banyak penghargaan untuk film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak mengaku kagum dengan kualitas naskah yang diikutsertakan dalam kompetisi ini.

“Ini merupakan tahun kedua saya menjadi juri dan saya terus dibuat kagum dengan standar naskah yang tinggi dan saya senang mengetahui ada banyak talenta berbakat di industri perfilman ini,” ujar Mouly.

Juri asal Filipina Agot Isdiro menambahkan, naskah – naskah terpilih tidak hanya luar biasa, tapi juga orisinal dan memiliki cita rasa dan unsur budaya Asia yang khas. “Kreativitas dari peserta tahun ini sangat mengesankan dan saya sangat menantikan untuk melihat episode perdananya,” katanya.

Juara Hooq Filmmakers Guild 2018 akan dinilai berdasar pada relevansi dan daya tarik terhadap penonton di Asia, kreativitas dalam alur cerita mengenai Asia, dan sudut pandang yang orisinal. (bas)

 

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post