Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Wisata_Kuliner

Indonesia Punya 252 Jenis Sate

Ilustrasi: salah satu jenis sate. (Pixabay)

Kekayaan kuliner Indonesia yang beragam bukan hanya tentang rendang yang terkenal di dunia atau nasi goreng. Sebuah studi baru telah mengungkapkan bahwa Indonesia juga merupakan rumah bagi 252 jenis sate.

JAKARTA-KABARE.ID:  Murdijati Gardjito, seorang profesor di bidang teknologi pangan dan sains di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki 252 jenis sate. Sebanyak 175 di antaranya bisa dilacak. Sisanya merupakan resep yang dikembangkan.

“Sate layak untuk mewakili harta kuliner Indonesia,” kata Murdijati dalam sebuah forum diskusi di festival kuliner nasi goreng dan sate, seperti diberitakan The Jakarta Post, Kamis (11/10).

Mengutip penelitian yang dia lakukan pada sate Indonesia dan menggunakan Database Kuliner Indonesia yang dia kerjakan dari 2014 hingga 2017, Murdijati mengatakan 175 varietas ditemukan di hampir seluruh pelosok Nusantara kecuali di Lampung dan Mandar.

Yogyakarta adalah wilayah di mana jenis sate paling banyak ditemukan, yakni mencapai 21. Diikuti oleh Semarang dengan 12 dan Bali serta Pekalongan dengan masing-masing 11 jenis.

Dari segi bahan, daging masih yang paling populer, dengan daging sapi peringkat pertama diikuti oleh ayam dan domba.

Rempah-rempah kebanyakan terdiri dari garam dan bawang putih diikuti oleh bawang, ketumbar dan gula kelapa.

Saus kacang peringkat pertama di antara saus, sedangkan bumbu pelengkap yang paling populer adalah saus kedelai manis, irisan bawang, cabai, tomat dan bawang goreng.

Murdijati, yang juga seorang peneliti di Pusat Studi Gizi dan Makanan Universitas (PSPG), mengatakan penelitian ini juga keluar dengan definisi sate baru sebagai lauk yang terbuat dari daging atau sayuran yang dimasak dalam bumbu-bumbu sesuai dengan daerahnya masing-masing.

“Yang unik adalah ada varian sate yang tidak memenuhi definisi hidangan tradisional. Ini adalah sate godog dari Aceh, yang direbus bukan dipanggang,” tambahnya.

Pada festival tersebut, pengunjung juga menemukan varian sate lainnya yang tidak memenuhi definisi, seperti sate sempol ayam, yang digoreng bukan dipanggang.

Di Yogyakarta, biasanya ditemukan sate goreng yang biasanya disajikan tanpa tusuk sate, tetapi, seperti sate panggang, juga disajikan dengan sayuran, seperti irisan cabai, bawang dan kubis bersama dengan pilihan kacang atau manis saus kedelai.

Berbagai macam sate juga dipamerkan di bazar festival untuk dinikmati oleh pengunjung.

Mereka termasuk sate jamur, cumi, ikan dan bakso serta sate buntel (sate daging cincang), sate klatak (sate kambing yang dipanggang di atas api terbuka, yang disebut klatak dalam bahasa Jawa), sate maranggi (sate daging yang diasinkan) dan sate kere (sate tahu).

Festival ini juga menyoroti nasi goreng khas Indonesia, mulai dari makanan laut, domba, dan Padang hingga nasi jagung goreng.

Murdijati mengatakan, penelitian yang dilakukan pada berbagai macam nasi goreng di Indonesia menemukan bahwa ada 104 jenis yang berbeda di seluruh negeri. Dari mereka, asal-usul dari 36 dikenal, sedangkan sisanya dikembangkan dari resep yang ada.

Dia menambahkan bahwa asal-usul nasi goreng yang diketahui semuanya ditemukan di Jawa dan Sumatera, yang mewakili 50 persen daerah kuliner di Indonesia. "Kebanyakan jenis nasi goreng ditemukan di Jawa," kata Murdijati.

Ketua panitia penyelenggara festival, Retno Indrati, mengatakan festival itu diselenggarakan bersama oleh Sekolah Teknologi Pertanian universitas, PSPG dan Direktorat Layanan Masyarakat bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

“Festival ini bertujuan untuk memperdalam pengetahuan dan pemahaman kita tentang makanan Indonesia, terutama sate dan nasi goreng,” tambah Retno.

Program lain termasuk seminar tentang sate dan nasi goreng, sarapan dengan tuan; kelas master dengan koki Indonesia yang terkenal, William Wongso; teknik pemotongan daging dan sate dengan chef Yanto Budidarma; makanan-styling dengan Rochmat Septiawan; fotografi makanan dengan Agung Portal dan parade sate dengan koki Sisca Soewitomo.

Direktur riset dan pengembangan Bekraf, Wawan Rusiawan, mengatakan industri kuliner telah memberikan kontribusi besar bagi sektor ekonomi kreatif namun pertumbuhannya hanya sekitar 4 hingga 5 persen per tahun. “Tantangan di masa depan adalah meningkatkan jumlah itu,” ujarnya.

Tantangan lainnya, kata Wawan, termasuk mendorong penggunaan e-commerce di sektor ini, yang sejauh ini hanya mencapai 38 persen.

Namun, fakta bahwa 90 persen praktisi bisnis kuliner Indonesia belum memiliki status badan hukum membuatnya lebih menantang, mengingat fakta bahwa industri kuliner negara telah menyerap 7,9 juta pekerja. (tjp/bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post