Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
NASIONAL

Imlek dan 'Hutang' Cina Kepada Gus Dur

Patung Ceng Ho di klenteng Gang Lombok Semarang. (Foto: ysh/kabare.id)

Klenteng-klenteng di Semarang, Jawa Tengah, khususnya Klenteng Tay Kak Sie (berdiri 1746) di Gang Lombok , dan Klenteng Sam Poo Kong -- keduanya dihiasi patung Cheng Ho, laksamana muslim Cina penyebar Islam di Nusantara -- bersiap merayakan Imlek.

SEMARANG, KABARE.ID : Sepanjang hari Minggu, 4 Februari 2018, cukup banyak turis domestik yang berkunjung ke dua klenteng tersebut. Jumlah pengunjung Klenteng Sam Poo Kong lebih banyak, meski berbayar Rp.28.000/orang (hari biasa Rp.25.000). Yang menarik, mayoritas pengunjungnya kaum muslim/muslimah. Tentu saja bukan untuk sembahyang, melainkan ingin mencari spot-spot foto/selfi, terutama di depan patung Cheng Ho, dan menonton atraksi barongsai, serta kuliner.

Seorang turis dari luar Semarang, yang mengaku bernama Bambang, lumayan bingung melihat realitas ini. Bagaimana mungkin klenteng sebagai tempat ibadah kaum Budha, Kong Hu Cu maupun Toaisme, justru turis yang datang  begitu banyak wanita berhijab, beserta keluarganya, suami dan anak, bahkan ada yang dengan cucu. Para turis, juga melakukan sholat di musholla, dalam komplek klenteng. Para penjaja kuliner di klenteng agung ini pun banyak yang berhijab. "Inilah Indonesia Mas," tutur kawannya seraya berspekulasi bahwa para turis muslim itu datang karena mengagumi Cheng Ho-nya. 

 

Gus Dur Mencabut Inpres Soeharto  

Klenteng Sam Poo Kong banyak dikunjungi kaum muslimah. (Foto: ysh/kabare.id)

 

Sejak tahun 2000 sampai sekarang, Warga Negara Indonesia (WNI) keturunan Cina -- ada juga yang menyebut China, Tionghoa, Tionghwa -- dapat kembali merayakan Imlek secara terbuka.

Imlek, merupakan perayaan tahun baru Cina, yang dirayakan oleh keturunan Cina di seluruh dunia. Perayaan imlek dimulai dari hari pertama bulan pertama di penanggalan Cina, dan berakhir dengan Cap Go Meh ditanggal kelima belas

Kebebasan merayakan Imlek secara terbuka, itu atas jasa salah seorang tokoh muslim KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat menjadi Presiden ke-4 Republik Indonesia. Gus Dur mencabut Inpres Nomor 14/1967 tentang Agama Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina yang berlaku di Era Orde Baru. 

Barongsai di klenteng Sam Poo Kong Semarang, difoto 4 Februari 2018. (Foto: ysh/kabare.id)

 

Sejak tahun 1968 - 1999, perayaan Imlek hanya bisa dilakukan secara "tertutup" dalam arti untuk lingkungan keluarga keturunan Cina sendiri. Presiden Soeharto waktu itu, memiliki pertimbangan seperti yang tertuang dalam Inpres tersebut. 

Pertimbangannya bahwa agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina di Indonesia yang berpusat pada negeri leluhurnya, yang dalam manifestasinya dapat menimbulkan pengaruh psikologis, mental dan moral yang kurang wajar terhadap warganegara Indonesia sehingga merupakan hambatan terhadap proses asimilasi, perlu diatur serta ditempatkan fungsinya pada proporsi yang wajar.

 

Program Pembauran

Sambil menggendong anaknya muslimah ini membaca riwayat Laksama Cheng Ho di Klenteng Sam Poo Kong Semarang. (Foto: ysh/kabare.id)

 

Presiden Soeharto pada masa itu memang sedang gencar-gencarnya melakukan program pembauran. Karena itu,  selain mengatur soal perayaan Imlek, juga mengatur perubahan nama Cina ke Indonesia, meskipun bagi yang tidak mau mengganti juga tidak dihukum atau dijatuhi sanksi lainnya, misalnya Kwik Kian Gie, kekeh tidak mau mengganti. Juga mengatur seni budaya Cina, antara lain barongsai hanya boleh dipentaskan untuk kalangan sendiri. Sekolah-sekolah berbahasa Cina ditutup. Bagi kaum Cina yang setuju dengan program tersebut, mereka mendukung dengan membaur bahkan menikah dengan "pribumi" dan tidak lagi "memuja keutara".  Selain itu kaum Cina didorong untuk fokus ke bidang ekonomi.

Dalam Keppres nomor 6 tahun 2000 tentang Pencabutan Inpres nomor 1 Tahun 1967 tertanggal 17 Januari 2000 tersebut, dengan semangat reformasi Gus Dur memiliki tiga pertimbangan. Dua diantaranya, menyebut bahwa penyelenggaraan kegiatan agama, kepercayaan, dan adat istiadat, pada hakekatnya merupakan bagian tidak terpisahkan dari hak azasi manusia. Kedua, inpres ini dirasakan oleh warga negara keturunan Cina  telah membatasi ruang geraknya dalam menyelenggarakan kegiatan keagamaan, kepercayaan dan adat istiadat.

Tidak hanya berhenti sampai di situ, Presiden Abdurrahman Wahid menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya). Disusul tahun 2002, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri mulai tahun 2003.

Di panggung hiburan ini, pada saat imlek akan disajikan berbagai atraksi untuk menghibur masyarakat pada saat perayaan Imlek. (Foto: ysh/kabare.id)

 

Atas jasanya tersebut, tak sedikit kaum Cina di Indonesia merasa hutang budi pada Gus Dur, kemudian mengapresiasinya sebagai pahlawan. "Beliau juga bapak kami (kaum Cina) di Indonesia," ujar salah seorang keturunan Cina usai menjalankan sembahyang di Klenteng Gang Lombok, Semarang, Minggu, 4 Februari 2018.

Pada saat euforia, klenteng Thay Kak Sie di Gang Lombok pernah memajang foto Gus Dur secara mencolok tak jauh dari tempat peribadatan. Kini foto itu tidak kelihatan lagi di situ. "Disimpan di kantor, bersama foto tokoh-tokoh Indonesia lainnya, termasuk para menteri, yang pernah datang ke klenteng ini," tuturnya di tengah nyala lilin-lilin dan bau hio yang semerbak.

 

 Yusuf Susilo Hartono    

Yusuf Susilo Hartono

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post