Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

IGF 2018 : Gamelan Jawa di Dunia Hari Ini

Musik untuk Instrumen Gamelan, Mikropon dan Amplifier (1994) karya Alvien Lucier. (Foto: kabare.id/ysh)

Bagaimanakah peta situasi gamelan Jawa di dunia hari ini? IGF 2018 di Solo, memberi jawaban. Di sana ada keragaman, eksplorasi, inovasi, dan lintas batas, yang memperkaya peradaban. Sekaligus bukti bahwa tradisi tidak pernah mandek dalam menjawab perubahan zaman.

KABARE.ID : International Gamelan Festival (IGF) 2018, yang berlangsung di Solo, Jawa Tengah, sejak tanggal 9 Agustus, mencapai puncaknya hari ini, Kamis, 16 Agustus 2018.  Hajatan seni yang menjadi bagian dari plaform Indonesiana, menampilkan pergelaran, seminar, pameran, workshop, hingga anjangsana situs dan interaksi dengan para pemangku kepentingan gamelan. Diikuti berbagai kelompok gamelan Jawa dari Indonesia, Amerika Serikat, Jepang, Ingris, Belanda, Australia, Irlandia, dan Hongaria.

Saat mendampingi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhadjir Effendy membuka FGI 2018 di Benteng Vastenburg, Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid menjelaskan bahwa IGF Solo merupakan kelanjutan IGF London sebelumnya. Sedangkan pilihan tema "Home coming (Kepulangan)", merupakan kepulangan yang menarik, karena tidak banyak di antara masyarakat kita yang tahu bahwa gamelan sudah begitu berkembang di luar sana, melebihi apa yang kita bayangkan."

Garin Nugroho, Wakil Direktur IGF 2018 Solo, di tempat dan waktu yang terpisah, menambahkan, gamelan dalam festival ini, tidak hanya dilihat semata-mata sebagai produk kesenian, tapi juga pengetahun dan peradaban.

Keragaman, hingga Eksplorasi Gamelan

Gamelan Widosari Belanda dengan pesinden Peni Candrarini,Indonesia. (foto:kabare.id/ysh)

 

Apa yang dapat kita lihat di lapangan, IGF 2018 menampakkan kekayaan gamelan Jawa dari sisi keragaman (gaya, teknik, passion, latar geografis, SDM, dll). Selain itu menampakkan semangat eksplorasi dan inovasi, terutama dilakukan oleh seniman-seniman akademis, maupun akademisi-akademisi asing yang menggeluti bidang etnomusikologi (khususnya gamelan). Sisi menarik lainnya adalah pemain dan pecinta gamelan tidak hanya dimonopoli orang Jawa, akan tetapi lintas batas (suku, agama, ras)

Pertunjukan pada hari kelima (13/8/2018), di Teater Besar ISI Surakarta, bisa dijadikan contoh kecil, yang mencerminkan aspek keragaman, eksplorasi, inovasi dan lintas batas tersebut. Terutama penampilan Gamelan Wesleyan dari Universitas Wesleyan, Connecticut, USA dan Gamelan Widosari (Belanda). Serta Peni Candrarini bersama kelompoknya Solkyaio (Surakarta) dan Gondrong Gunarto - Ghost Gamelan (Solo).

Gamelan Eksperimen dan Tradisi

Gamelan Universitas Wesleyan mengiringi beksan Menak Kocar yang ditarikan oleh Maho Ishiguro,PhD. (Foto: kabare.id/ysh)

 

Ensamble Gamelan Wesleyan, berdiri sejak tahun 1960-an. Anggotanya terdiri dari mahasiswa S2 dan S3 di bidang musik dan etnomusikologi, dosen, pegawai, dan beberapa teman. Berkebangsaan Amerika, Malaysia, Singapura, Tiongkok, dan Indonesia. Mereka itu Alec McLane, Joseph Getter, Gene Katrice Kamble, Jennifer Tom Handley, Christine Yong, Anton Kot, Maho Ishiguro, Darsono, Feiyang Xu, Denni Harjito, Urip Sri Maeny, Leslie Rudden, Carla Scheele, Anne Stebinger, Peter Ludwig dan Ender Terwilinger.  Saat ini dipimpin oleh artis residen I.M.Harjito dan Winslow-Kaplan Profesor Musik Sumarsam (kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur).  

Mereka menyajikan enam nomor gamelan : eksperimen dan tradisi. Pada bagian eksperimental kita bisa melihat komposisi gamelan yang didasarkan pada umpan balik karena pukulan (Ron Kuivila), bilangan matematis (Paula Matthusen), dan pada ruang resonansi (Alvin Lucier). Disusul tiga nomor gamelan tradisi : Gendhing "Silir Banten" Pelog Barang, Gending "Erang-erang Bagelen" minggah ladrang "Opak-Apem" pelog nem, ditutup beksan "Menak Koncar" oleh penari Moho Ishiguro,PhD (Wesleyen 2018/lektor Universitas Yale) diiringin ladrang Asmaradana, slendro manyuro.

Saat Ensamble Universitas Wesleyan menampilkan  tiga nomor eksperimen (kontemporer) tersebut, watak gamelan yang biasanya lembut, penuh perasaan, berubah menjadi penuh rasa pikiran, bahkan matematis dan menegangkan. Entah ada korelasinya atau tidak suasana panggung itu dengan peristiwa di kursi sebelah. Selama nomor eksperimen itu dimainkan, balita yang sebelumnya tenang dipangkuan ibunya, di kursi sebelah, jadi gelisah dan menangis, sehingga sang ibu (bule) membawanya keluar. Giliran tampil gending-gending tradisional, ibu-anak ini kembali ke kursi. Reaksinya, balita itu tenang, sesekali mengangguk-anggukkan kepala, atau menggerakkan badan dan tangan.

Gamelan Hantu dan Ritus

Peni Candrarini tampil bersama gamelan Solkyaio, Solo. (Foto: kabare.id/ysh)

 

Penampilan Gamelan Widosari dari Belanda, yang menampilkan gending berbahasa Inggris tapi ditembangkan Peni dengan cengkok Jawa, atau ketika yang nyinden adalah saksofon, memberikan pengalaman yang lain. Pengalaman sebuah akar yang bisa dieksplorasi lebih jauh secara bahasa dan musikal. Rasanya menjadi "gamelan asing", meski tidak seasing komposisi Alvin Lucier. Rasa asing yang lain muncul dari gamelan tradisi Gondrong Gunarto saat tampil dengan "gamelan hantu"-nya. Kostum hitam-hitam, liriknya Inggris, menambahkan instrumen Barat ke dalam instrumen gamelan. Ketika mereka memainkan nomor penutup "Dance koplo", dengan gamelan tradisi, dilengkapi puluhan remaja ngedance, suhu keterasingan itu drastis menjadi happy.

Jika Universitas Wesleyan melakukan "revolusi" pada definisi gamelan, penampilan dosen ISI Surakarta Peni Candrarini bersama kelompok Solkyaio, menambah bobot kejawaan itu dengan ritus - magis dan mengeksplorasi vokalnya dengan cengkak-cengkok yang sulit dicari tandingannya.  

IGF 2018 terselenggara atas kerja sama Kemdikbud, Pemerintah Kota Surakarta, Kabupaten Boyolali, Karanganyar, Blora, dll. Walhasil, dengan sekarang kita tahu posisi gamelan Jawa hari ini : tersebar di berbagai benua, beragam gaya dan teknik, lagu/komposisinya, para akademisi banyak melakukan penelitian dan pengembangan, semoga kita sadar bahwa dalam tradisi ada inovasi untuk menjawab perubahan zaman, dan peradaban.

Yusuf Susilo Hartono

Yusuf Susilo Hartono

  1. Avatar
    Arif Sudarmawan Thursday, 16 August 2018

    Upaya Kemdikbud agar Gamelan Jawa warisan leluhur tidak punah .Bahkan mendunia.Sudah dilakukan IGF 2018 di Solo jadi bukti. Kami jadi teringat sekolah kami SDN Kalitidu 1 Kecamatan Kalitidu Kab. Bojonegoro Jatim tahun 2016 mendapat bantuan alat Gamelan Jawa Pelog Slendro dari Kemdikbud.Siswa dan Masyarakat Kalitidu sampai sekarang tetap aktif tabuh Gamelan Jawa .Bahkan telah tercipta lagu karya sendiri yang merupakan maskot lagu Gamelan Jawa di sekolah kami " SDN Kalitidu 1 Maju"Terima kasih Bapak Dirjen Kemdikbud.Semoga upaya luhur ini senantiasa Allah meridhoi

  2. Avatar
    Sumarsam Sunday, 19 August 2018

    Pak Yusuf, saya senang artikel ini memusatkan perhatiannya pada Wesleyan Gamelan Ensemble. Saya minta ijin share foto-fotonya. Terimakasih.

KOMENTAR

Popular Post