Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
NASIONAL

Idul Fitri di Tengah "Idul" Piala Dunia

Suasana nonton bareng pertandingan sepak bola Piala Dunia 2018. (Instagram)

Ada yang tidak biasa dalam perayaan Idul Fitri 1439 H ini. Khususnya bagi umat muslim, yang juga "umat sepak bola". Urusan silaturahmi diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Supaya pada setiap malam bisa merayakan "Idul" Piala Dunia (World Cup) di Rusia, lewat tayangan televisi/ sosial media.

KABARE.ID : Keluarga Citarum, sebut saja begitu, yang tengah bersilaturahmi di sanak familinya di Depok, pada hari raya ketiga, buru-buru pamitan. Karena beberapa anggota keluarga mereka harus segera ikut merayakan "Idul Piala Dunia". Kebetulan yang akan tanding malam itu idola mereka : Jerman, melawan Meksiko. Meski mereka tinggal di pinggiran Jakarta, dan tidak pernah sekalipun ketemu tim sepak bola Jerman, tapi mereka "Jerman banget", atau fanatik Jerman.

Sampai di rumah, segala urusan Idul Fitri dilupakan sejenak, untuk memasuki ritual "Idul" Piala Dunia di depan layar televisi, ditemani camilan kue lebaran. Suasana hangat terjadi karena dalam rumah itu, tidak semua pro Jerman, ada juga yang pro Meksiko. Tidak kalah dengan gegap gempitanya dibanding pada suporter di Stadion Luzhniki, Moskwa, di rumah keluarga Citarum seringkali meledak teriakan, jeritan, sorak sorai, seiring dengan tarian bola bundar di atas lapangan rumput hijau.

Singkat cerita, sorak-sorai itu mendadak senyap, setelah gawang Jerman jebol. Pemain sayap serang Meksiko Hirving Lazano, yang dikawatirkan pelatih Jerman, benar-benar mencetak gol dengan indah. Sampai peluit ditiup pada akhir permainan, Jerman tetap nol. Kekalahan Jerman ini tentu saja mencoreng prestasi Jerman yang sebelumnya tak pernah kalah pada laga perdana Piala Dunia. Wajarlah jika kesedihan melanda sebagian anggota keluarga Citarum, dan jutaan penggemar berat Jerman di seantero penjuru dunia. Sementara yang menjagokan Meksiko dalam rumah itu ketawa-tawa sambil meledek, "Makanya, gak usah mendewa-dewakan Jerman".  

Jika Idul Fitri hanya dirayakan oleh umat Islam, maka "Idul" Piala Dunia dirayakan oleh lintas agama, linta bangsa, lintas aliran, lintas kelas, lintas politik, hingga lintas yang lain-lainnya di seluruh dunia.

Bagi penggila sepak bola, yang biasanya susah bangun malam untuk sholat tahajut misalnya, demi sepak bola -- selama Piala Dunia -- mereka bisa bangun malam, bahkan begadang sampai pagi. Rela mengantuk di tempat kerja, daripada kehilangan momentum di lapangan hijau, demi kesayangannya yang dibela mati-matian, sementara mereka (yang disayangi, dibela itu) sama sekali tidak mengenal, apalagi memikirkan.

"Idul" Piala Dunia yang dimulai sejak 14 Juni, akan berlangsung sampai 15 Juli 2018. Meski dibayangi oleh ancaman teror NIIS, juga berbagai kecaman pada Presiden Rusia Vladimir Putin, acara berlangsung aman dan meriah. Bahkan umat sepak bola Amerika Serikat berduyun-duyun ke Rusia, meskipun negaranya memperingatkannya.

Lebaran di Rusia

Manti, hidangan khas saat Idul Fitri di Rusia. (Instagram)

 

Seperti diketahui, jumlah umat Islam di Rusia saat ini sekitar 15 juta orang. Idul Fitri jadi hari libur nasional, dan biasanya dirayakan selama tiga hari berturut-turut. Rentang waktu puasa di Rusia, setiap hari, sekitar 20 jam, sedangnya di Indonesia, hanya 12 jam.

Seperti juga di Indonesia, lebaran di Rusia juga ditandai dengan aneka kuliner lezat khas Rusia, yang disantap usai salat Ied. Jika di berbagai daerah di Indonesia, Idul Fitri dirayakan dengan kuliner opor ayam, lontong dan ketupat (di beberapa daerah ketupat baru muncul sepekan kemudian pada lebaran ketupat), sedangkan di Rusia kuliner yang biasa dihidangkan adalah masakan daging kambing, salad, sub, dan manisan. Ada pula manti, sejenis dumpling kukus berisi daging kambing dan sapi.

Lebaran di Rusia, juga dihiasi tradisi unik : saling berbagi kado kepada sanak famili. Di Indonesia hal ini juga dilakukan oleh para pemudik, yang memberikan oleh-oleh kepada sanak keluarganya di kampung halaman. Jika di Rusia, hijab atau scraf lazim dijadikan oleh-oleh, di Indonesia bisa sarung, baju koko maupun kopyah untuk pria, dan hijab atau jilbab, baju muslimah untuk perempuan.

Yusuf Susilo Hartono

Yusuf Susilo Hartono

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post