Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Pendidikan

Hikayat Asal – Usul Nama Jakarta

Foto: britannica.com

Sepanjang sejarahnya, nama Jakarta berganti berulang kali. Pergantian nama terkait dengan momen peristiwa sejarah yang berlangsung saat itu.

JAKARTA – KABARE.ID: Jakarta tercatat sejarah telah mengalami beberapakali perubahan. Sebelum berada di bawah kekuasaan Kerajaan Galuh-Pakuan di abad ke-12, nama kota ini adalah ‘Sunda Kelapa’. Saat orang Portugis pertama kali mengunjungi Kerajaan Galuh-Pakuan di tahun 1511, berdasarkan laporan yang disimpan di Torre de Tombo Lisabon kota itu disebut dengan nama ‘Kalapa’ (Adolf Heuken, 2001).

Namun semenjak pelabuhan Sunda Kelapa dikuasai oleh Raden Fatahillah di tahun 1527, namanya diubah menjadi ‘Jayakarta’. Orang Barat yang singgah menyebut kota ini dengan nama ‘Jacatra’. Sampai tahun 1619 orang Belanda masih menyebut dengan nama itu. Akan tetapi sejak Jan Pieterszoon Coen dengan membawa 1.000 pasukan menyerang Kerajaan Banten dan menghancurkan Jayakarta pada 1619, praktis kota ini dikuasai Belanda. Melalui kesepakatan De Heeren Zeventien (Dewan 17) dari VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie), maka pada 4 Maret 1621 namanya diubah menjadi ‘Batavia’.

Nama ini berasal dari nama etnis Jermanik yang bermukim di tepi Sungai Rhein, dan dianggap sebagai nenek moyang bangsa Belanda dan Jerman, ‘Bataf’. Bangsa Belanda sangat mengagungkan nenek moyangnya sehingga mereka merasa perlu mengabadikan nama Batavia di negeri jajahannya, termasuk di Indonesia.

Pada 1869, dalam kerangka memperingati 250 tahun usia Batavia, maka dibangunlah monumen JP Coen. Konon, monumen itu berlokasi di halaman Kementerian Keuangan saat ini, Lapangan Banteng di Jakarta Pusat. Di atas fondasi beton yang kokoh, berdiri patung Coen yang dengan angkuhnya menggambarkan keberhasilannya menaklukkan Jayakarta. Patung ini menjadi simbol dimulainya penjajahan Belanda yang pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) dihancurkan.

Baca juga: Nadiem Makarim Tekankan Konsep Bermain dalam PAUD Agar Anak Gemar Sekolah

Tercatat sejarah, nama Batavia paling lama dikenakan. Tiga abad lebih, nama Batavia digunakan untuk menyebut nama kota ini. Setidaknya bermula pada 1619, atau sumber lain mengatakan tahun 1621, hingga tahun 1942. Yaitu sejalan dengan kebijakan de-Nederlandisasi oleh Pemerintah Jepang, nama kota sengaja diganti dengan bahasa Indonesia atau Jepang. Walhasil, pada 1942 nama Batavia berubah menjadi ‘Djakarta’ sebagai akronim ‘Djajakarta’. 

Menurut Lasmijah Hardi dalam ‘Jakartaku, Jakartamu, Jakarta Kita’ (1987), pergantian nama itu bertepatan dengan perayaan Hari Perang Asia Timur Raya pada 8 Desember 1942. Nama lengkap kota itu ialah ‘Jakarta Tokubetsu Shi’. Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia ke-2 dan Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, nama Jakarta tetap lazim dipakai orang Indonesia dengan meninggalkan nama Jepang-nya.

Memasuki zaman Indonesia merdeka, Menteri Penerangan RIS (Republik Indonesia Serikat) saat itu, yaitu Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu, menegaskan bahwa sejak 30 Desember 1949 tak ada lagi sebutan Batavia bagi kota ini. Sejak saat itu, nama Ibu Kota Republik Indonesia adalah Jakarta.

Pemberian nama Jakarta ini kembali dikukuhkan pada 22 Juni 1956 oleh Wali Kota Jakarta Sudiro (1953-1960). Saat itu, sebelum 1959, posisi Jakarta masih merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Pada 1959, status Jakarta mengalami perubahan dari sebuah kota praja di bawah wali kota ditingkatkan menjadi Daerah Tingkat Satu yang dipimpin oleh gubernur. Gubernur pertama ialah Soemarno Sosroatmodjo. Pada 1961, status Jakarta diubah kembali, dari Daerah Tingkat Satu menjadi Daerah Khusus Ibu Kota (DKI).

Sedangkan penetapan tanggal 22 Juni itu sengaja didasarkan pada momen peristiwa kemenangan Raden Fatahillah saat mengusir Portugis dari Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527. Seperti diketahui, untuk memperingati momen itu nama Sunda Kelapa kemudian diubah menjadi Jayakarta. Dan hingga kini setiap tanggal 22 Juni praktis diperingati sebagai HUT Ibu Kota Republik Indonesia. (*)

 

Sumber: Indonesia.go.id

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post