Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Harmonisasi Manusia dan Alam "HiruPikuk"

Foto: Komunitas Salihara

HiruPikuk adalah interpretasi fisik ketidakmampuan manusia menjaga harmonisasi dengan alam. Karya ini hendak mengingatkan bahwa kitalah yang menentukan sebuah kelegaan saat bernapas dan saat berada di ruang hidup yang kian sesak.

JAKARTA - KABARE.ID: Lima orang dalam ruangan hitam dan suara nafas yang tajam memulai awal karya koreografi ini. Alur gerak tubuh yang tegas, disertai tatapan mata yang tajam membuat ruangan terasa sesak. Kostum yang mereka “permainkan” seolah-olah menyatakan persoalan yang sangat simbolik.

Menonton pertunjukan virtual ini seakan-akan merasakan kabut asap menyelimuti para penari. Barangkali penonton juga merasakan suasana panas dari gerak-gerak para penari. Tapi sesungguhnya kita tengah melihat kepanikan dalam bentuk yang indah.

Peristiwa kebakaran di provinsi Riau selalu menjadi momok tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Awan hitam-pekat yang menyelimuti setiap tahun itu membuat kita bertanya-tanya, bagaimana seharusnya hubungan manusia dengan alam?

HiruPikuk adalah interpretasi fisik ketidakmampuan manusia menjaga harmonisasi dengan alam. Karya ini hendak mengingatkan bahwa kitalah yang menentukan sebuah kelegaan saat bernapas dan saat berada di ruang hidup yang kian sesak.

Koreografi yang berdurasi kurang lebih 21 menit ini menggambarkan kegelisahan Riyo Tulus Pernando (koreografer) tentang kebakaran hutan yang sering melanda provinsi Riau dan sekitarnya. Sebagai seseorang yang dibesarkan di daerah Kampar, Riau, ia tentunya mengalami langsung kejadian tersebut: menghirup udara yang sudah bercampur dengan asap kebakaran hutan.

Di dalam wacana kerusakan lingkungan tersebut, sang koreografer sesungguhnya juga menjelajahi ragam gerak tari Melayu. Tak heran apabila kita merasakan adanya unsur tari Zapin yang dikembangkan oleh Riyo Tulus Pernando, sang koreografer yang memulai belajar tari di Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR).

Riyo Tulus Pernando adalah koreografer muda berbakat yang kini tengah meniti karir profesionalnya. Pengalamannya pun tidak bisa dianggap sebelah mata. Ia pernah menjadi asisten koreografer Eko Supriyanto dalam perhelatan festival Teluk Jailolo. Ia juga pernah menjadi pelatih penari pada Pembukaan Asian Games 2018. Kini di tengah kesibukan sebagai koreografer, ia juga sedang menyelesaikan studinya di Bidang Koreografi, Institut Seni Indonesia, Surakarta, Jawa Tengah.

Tentang Salihara Arts Center

Salihara Arts Center merupakan sebuah Institusi kesenian dan kebudayaan yang selalu menampilkan kesenian terkini dari Indonesia dan dunia, baik yang bersifat pertunjukan maupun edukasi, dalam lingkungan kreatif dan sejuk di tengah keramaian selatan Jakarta. (*)

 

Sumber: Komunitas Salihara

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post