Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
KABAR

Getaran Bumi Menurun 50 Persen Imbas Lockdown Covid-19

Jalanan di Jakarta terlihat lebih sepi saat PSBB pertama kali diberlakukan. (Foto: Istimewa)

Menurut sebuah studi baru oleh tim peneliti internasional, tingkat suara seismik Bumi turun rata-rata 50 persen antara Maret dan Mei 2020, selama lockdown Covid-19.

JAKARTA - KABARE.ID: Peneliti mengungkapkan bahwa lockdown di banyak negara akibat pandemi virus corona Covid-19 membuat getaran Bumi menurun sebanyak 50 persen. Penurunan ini tercatat terjadi pada Maret hingga Mei 2020. Pada bulan itu, alat seismograf mencatat penurunan getaran Bumi yang diakibatkan manusia.

Seismometer mengukur gelombang seismik dari peristiwa besar seperti gempa bumi, gunung berapi, bom, dan sebagainya. Pada saat yang sama, alat juga enangkap apa yang disebut suara seismik dari sumber sekitar seperti angin, sungai, gelombang laut, dan aktivitas manusia (terutama perjalanan dan industri).

Menurut sebuah studi baru oleh tim peneliti internasional, tingkat suara seismik Bumi turun rata-rata 50 persen antara Maret dan Mei 2020, selama lockdown Covid-19.

Pada 23 Juli 2020, Imperial College London yang mengambil bagian dalam penelitian ini, mengatakan penurunan getaran ini kemungkinan disebabkan oleh efek global total dari langkah-langkah jarak sosial, penutupan layanan dan industri, dan turunnya pariwisata dan perjalanan. Mereka mengatakan itu adalah periode paling tenang dan paling jelas dari suara seismik dalam sejarah.

Sebelum studi ini, para ilmuwan tahu bahwa suara yang dihasilkan manusia cenderung berkurang pada hari raya tertentu, misalnya, selama liburan Natal dan Tahun Baru atau lebih dari Tahun Baru Cina di Asia, penurunan juga terjadi di akhir minggu atau di malam hari. Namun, para peneliti mengatakan bahwa penurunan getaran yang disebabkan oleh lockdown Covid-19 merupakan puncak penurunan suara seismik.

Penelitian baru menunjukkan bahwa penurunan getaran terbesar terlihat di daerah padat, misalnya, Singapura dan Kota New York. Getaran getaran juga dicatat di daerah terpencil, seperti Hutan Hitam Jerman dan Rundu di Namibia.

Dilansir dari UPI, bahkan sensor seismik terkubur jauh di bawah tanah juga mencatat penurunan suara seismik yang disebabkan manusia.

Dilansir dari EarthSky, Stephen Hicks dari Imperial College London dan salah satu penulis studi ini mengatakan bahwa penelitian ini juga dapat membuat para ilmuwan lebih jelas untuk membedakan suara yang disebabkan manusia dengan alam. "Studi kami secara unik menyoroti seberapa banyak aktivitas manusia berdampak pada Bumi yang padat," ujar Hicks

Dalam studi ini, para peneliti melihat data seismik dari jaringan global 268 stasiun seismik di 117 negara. Mereka menemukan pengurangan kebisingan yang signifikan dibandingkan dengan sebelum lockdown di 185 stasiun tersebut.

Penurunan itu dimulai di China pada akhir Januari 2020, dan diikuti oleh Eropa dan seluruh dunia pada Maret hingga April 2020. Para peneliti melacak "gelombang" ketenangan antara Maret dan Mei ketika lockdown mulai berlaku di seluruh dunia. (*)

 

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post