Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Gamelan Puspa Sari Kembali “Hidup” Setelah Tidur 20 Tahun

Foto: Kemenlu RI

Grup Gamelan Bali Puspa Sari kembali hadir di Italia setelah tidak aktif selama sekitar 20 tahun terakhir.

ITALIA-KABARE.ID: Grup binaan KBRI Roma ini terdiri dari para warga Italia dan masyarakat Indonesia setempat yang akan mempromosikan budaya Indonesia khususnya melalui musik gamelan dan tarian Bali.

Gamelan Puspa Sari 2.0 diresmikan oleh Duta Besar RI untuk Italia, Esti Andayani pada Senin (11/3) di KBRI Roma. Acara peresmian disaksikan oleh sekitar 150 tamu undangan yang kebanyakan berasal dari kalangan generasi muda Italia.

Acara diawali dengan Upacara Matur Piuning, sebuah tradisi adat untuk meminta restu kepada Yang Maha Kuasa bagi kelancaran aktivitas grup gamelan.

Upacara tradisional Bali ini dipimpin oleh Pemangku, Ida Bagus Sumahendra yang menghaturkan tiga rangkaian doa: Penglukatan sebagai doa dan ritual pembersihan instrumen gamelan dari hal-hal yang negatif; Pasupati yaitu doa dan ritual bagi instrumen gamelan agar diberikan 'taksu' / daya tarik dan aura positif sehingga menghasilkan bunyi yang indah didengar; serta doa penutup untuk kelancaran acara.

Baca juga: KBRI Lima Buka Kursus Gamelan Bali

Duta Besar Esti Andayani dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Professor Giovanni Giuriati - Dosen Etnomusikologi Universitas La Sapienza Roma, dan kepada para pemuda dan masyarakat Indonesia dan Italia atas dukungan dan peran serta aktif dalam menghidupkan kembali grup Gamelan Bali Puspa Sari setelah cukup lama tertidur.

Dubes Esti juga berharap grup gamelan ini dapat berpartisipasi aktif dalam berbagai rangkaian kegiatan promosi Indonesia, khususnya dalam rangka Peringatan 70 Tahun Hubungan Diplomatik RI - Italia sepanjang tahun ini.

Pemain Gamelan Puspa Sari 2.0 terdiri dari 18 orang musisi muda, Indonesianis, dan mahasiswa asal Italia serta beberapa masyarakat Indonesia. Mereka memainkan dua kidung, yaitu: Tabuh Gilak dan Ramayana.Daniele Zapatore, mahasiswa program doktoral etnomusikologi Universitas La Sapienza, Roma menjadi penata musik sekaligus inisiator bagi kembalinya grup ini. Ia sempat belajar seni budaya Bali melalui Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia dari Kementerian Luar Negeri RI pada tahun 2018.

Masyarakat Bali setempat juga tak ketinggalan berpartisipasi mulai dari menyiapkan prosesi upacara, hingga menari. I Ketut Yuni Paccioti, seorang perempuan Indonesia yang telah tinggal di Italia sekitar 30 tahun menampilkan tarian Margapati dengan sangat menarik.

Baca juga: Publik Belanda “Ngiler” Makanan Khas Nusantara

Di penghujung acara, hadirin diajak menikmati sajian khas Bali berupa nasi tumpeng, lengkap dengan ayam betutu, sate lilit, sayur lawar, telur rawis, tempe orek, sambal matah, dan kacang goreng.

Sajian yang disiapkan dengan cita rasa Bali yang kental dengan resep khusus dari Pemangku Ida Bagus Sumahendra ini mendapatkan pujian dari banyak orang.

Para tamu undangan yang hadir menyampaikan apresiasi atas pertunjukan ini. Francesca, salah seorang siswa dari SMA Avogadro menyatakan bahwa dirinya sangat terkesan dengan prosesi upacara dan pertunjukan gamelan yang sangat unik.

Ludovica, siswa SMA yang tergabung dalam Interact Rotary Club Roma mengapresiasi pertunjukan yang sangat menarik dan menyatakan keinginannya untuk mempelajari Indonesia lebih dalam lagi.

Sementara itu Camilla, mahasiswa sekolah mode KOEFIA menyatakan kekagumannya pada budaya Indonesia dan akan membuat rancangan busana dengan kain Indonesia yang akan ditampilkan di Rome Fashion Week bulan Juli 2019. (rls/bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post