Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Film Lima, Menghidupkan Lagi Semangat Nasionalisme

Media screening dan konferensi pers film Lima. (Foto: Baskoro Dien/ Kabare.id)

Film ini mengangkat setiap butir ayat Pancasila menjadi sebuah cerita dalam satu film. Uniknya, setiap butir ayat Pancasila yang menjadi cerita dalam film ini juga disutradari oleh satu orang.

JAKARTA-KABARE.ID: Produser serta sutradara berkebangsaan Indonesia Lola Amaria memberi warna dunia perfilman Tanah Air dengan menghadirkan film berkualitas bertema Pancasila berjudul Lima.

Sebanyak lima sutradara, termasuk Lola, menggarap film ini, mereka adalah Shalahuddin Siregar, Tika Pramesti, Harvan Agustriyansyah, dan Adriyanto Dewo.

“Nilai-nilai Pancasila yaitu: Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah, dan Keadilan, jika diterapkan tidak akan ada lagi keributan,” ucap Lola Amaria dalam acara media screening dan konferensi pers film Lima di Jakarta, Kamis (24/5).

Film ini juga menampilkan lima pemeran utama yang menggambarkan cerita dari setiap butir ayat dalam Pancasila, yaitu Tri Yudiman sebagai Ibu Maryam, Baskara Mahendra sebagai Adi, Prisia Nasution sebagai Fara, Yoga Pratama sebagai Aryo, dan Dewi Pakis sebagai Bi Ijah.

“Awalnya kita ngobrol-ngobrol, saya pikir Pancasila itu bagus juga ya kalau divisialisasikan, tapi enggak bisa disutradari oleh satu orang melainkan lima orang, karena masing-masing butir ayat Pancasila itu pasti berat,” kata Lola.

Meski awalnya sempat berpikir sulit, akhirnya Lola berhasil menggarap film ini dengan sukses dan dijadwalkan tayang pada 31 Mei 2018, tepat sehari sebelum Hari Kelahiran Pancasila pada 1 Juni.

Film Lima bercerita tentang Fara, Aryo, dan Adi yang baru kehilangam ibu mereka, Maryam. Kesedihan juga dirasakan Bi Ijah, sang asisten rumah tangga.

Konflik bermula saat Maryam, muslim yang murtad lalu kembali memeluk Islam, hendak dimakamkan kemudian terbentur dengan norma hukum adat dan stigma agama yang keliru.

Masalah berkembang dengan topik masing masing: Adi dengan kemanusiaan yang adil dan beradab, Fara dengan isu persatuan Indonesia, Aryo dengan masalah musyawarah, dan Bi Ijah yang harus mencari keadilan bagi kedua anaknya.

Film ini juga banyak memasukan kritik sosial yang penting untuk disimak, salah satunya adalah mengkritik lembaga olahraga pemerintah yang korup. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post