Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Festival Imlek Tanjung Pinang Ditutup dengan Semarak Budaya Nusantara

Pertunjukan budaya bujang dara yang merepresentasikan budaya Melayu di festival Cap Go Meh Tanjung Pinang. (Foto: Kemenpar RI)

Perayaan Cap Go Meh di Tanjung Pinang dimeriahkan budaya nusantara, mulai dari barongsai, bujang dara, hingga reog dan kuda lumping.

TANJUNG PINANG-KABARE.ID: Festival Imlek di Tanjung Pinang, resmi ditutup dengan perayaan Cap Go Meh yang dipusatkan di Jalan Merdeka, Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau, Selasa (19/2) malam.

Perayaan Cap Go Meh diwarnai semarak budaya nusantara, mulai dari barongsai yang merepresentasikan budaya Tionghoa, bujang dara yang merepresentasikan budaya Melayu, hingga reog dan kuda lumping yang berasal dari Pulau Jawa.

Informasi yang dihimpun Kementerian Pariwisata, Rabu (20/2), perayaan Cap Go Meh di Tanjung Pinang dipadati ribuan warga lokal, wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara. Hadir juga Wali Kota Tanjung Pinang Syahrul dan perwakilan dari Kemenpar.

Pertunjukan budaya Reog Pomorogo yang berasal dari Pulau Jawa di Festival Cap Go Meh Tanjung Pinang. (Foto: Kemenpar RI)


Rangkaian Festival Imlek di Tanjung Pinang sudah dihelat sejak 5 Februari 2019. Di sela-sela Festival Imlek, juga dihelat Festival Pulau Penyengat pada 14-18 Februari lalu.

Wali Kota Syahrul menegaskan, pariwisata merupakan sektor yang amat penting bagi Tanjung Pinang. Terlebih sektor tersebut memberikan dampak langsung kepada masyarakat baik secara ekonomi maupun sosial.

"Terima kasih atas dukungan penuh Kemenpar. Semoga Tanjung Pinang bisa terus didukung dalam event pariwisata berikutnya," kata Syahrul.

Penampilan barongsai yang merepresentasikan budaya Tionghoa di Festival Cap Go Meh Tanjung Pinang. (Foto: Kempar RI)


Menteri Pariwisata Arief Yahya menuturkan, perayaan Cap Go Meh secara otomatis akan mengangkat pariwisata Tanjung Pinang, atau Kepulauan Riau secara umum. Terlebih, banyak wisatawan mancanegara yang turut hadir pada kegiatan ini.

“Kita berharap semua wisatawan yang hadir merasa puas dengan pawai budaya yang ditampilkan. Sebab, sejauh ini budaya masih jadi magnet terbesar untuk menarik wisman. Tak kurang dari 60 persen wisman datang ke Indonesia karena budaya,” tandasnya. (rls/bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post