Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Enthus Pergi Sebelum Membuat Buku Biografi

Bupati Tegal dan dalang kondang H.Enthus Susmono. (Instagram/@dyasoktaviani)

Ki dalang H.Enthus Susmono (52), yang sehari-hari menjabat Bupati Tegal sejak 2014, dan kini tengah berjuang maju kembali dalam Pilkada 2018, meninggal dunia mendadak Senin (14/5/2018) di RS Soeselo Slawi, pukul 19.10 WIB. Diduga akibat serangan jantung.

JAKARTA-KABARE.ID :  Kabar meninggalnya Enthus diposting oleh Pjs. Bupati Tegal Sinung N.Rahmadi, dan Dewan Kesenian Tegal. Segera tersebar ke tengah-tengah masyarakat yang sedang fokus menyimak perkembangan berita teror bom di tiga gereja di Surabaya dan rusunawa Sidoarjo, setelah teror di Mako Brimob Kelapa Dua minggu lalu.

Menurut rencana jenazah akan dikebumikan, Selasa siang di Tegal. Berbagai ucapan di media sosial, bertebaran mengiringi kepergian seniman berjuluk "Ki Dalang Edan". Umumnya mendoakan agar husnul khotimah. Sedangan Rita Sri Hastuti, wartawan senior mantan penyiar radio Delta, yang kini mengajar di Universitas Indonesia, menulis : "Nggak nyangka ya masih muda. Mungkin kecapean karena nyalon bupati lagi periode kedua, sambil ndalang terus".

Karena ketokohannya, Enthus banyak menerima penghargaan. Di antaranya Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2016, bersama 7 bupati wali kota (di antaranya Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dan Bupati Wakatobi- Sultra Hugua). Gelar Doctor Honoris Causa bidang seni-budaya dia peroleh dari International Universitas Missouri, Amerika Serikat (2005), dan Laguna College of Business and Arts, Calamba, Filipina (2005). Selain itu karya-karya wayangnya banyak mengisi Museum Tropen di Amsterdam, Belanda; Museum Wayang Walter Sngts di Jerman; dan Museum of International Folk Arts (MOIFA) di New Mexico, dll.

Ia dijuluki dalang edan, karena seenak udelnya mengkritik atau omong jorok saat di panggung. Simaklah di Youtube, ketika ia tampil bersama pesinden bule Megan dari Amerika Serikat. Dengan enteng ia menyebut kelamin pria menurut versi bahasa Jawa. Karena tidak tahu, Megan pun balik bertanya apa itu "anu". Dan Enthus pun semakin antusias membahasnya, "si anu" di depan para penonton yang mayoritas orang Jawa, dari anak sampai orang tua. Dan jangan kaget, jika pada kesempatan lain, pesinden-pesindennya tampil berkerudung, salawatan dengan fasih, dan dia banyak mengutip ayat-ayat suci.

Enthus yang lahir dan besar di tengah keluarga dalang wayang golek, saat menjadi Bupati menggunakan wayang untuk menyebarkan program-program pembangunannya kepada warga Tegal. "Itu sangat efektif, memberikan hiburan, tontonan, sekaligus media komunikasi atau bahasanya Pak Harmpko, tuntunan," ujarnya pada suatu saat. Sementara itu, saat dia melantik kepala-kepala dinas maupun stafnya, pernah mengambil tempat di kuburan, Mengapa? Agar mereka ingat bahwa jabatan itu amanah, yang kelak harus dipertanggungjawabkan tidak saja kepada atasan, tapi juga kepada atasan yang paling Atas (baca Tuhan).

Gaya sabetan Enthus yang memadukan sabet wayang kulit dan sabet wayang golek, juga bisa disebut keedannya yang lain lagi lho. Dengan sabetan gaya camputan itu, membuat pertunjukannya berbeda dengan dalang-dalang lainnya. Ditambah dengan kemampuannya mengolah komposisi musik, tata cahaya, dan memasukkan isu-isu aktual ke dalam lelucon maupun lakon, membuat pakelirannya memikat. Tak ayal, tahun 2005 terpilih sebagai dalang terbaik se Indonesia. Tahun 2008 mewakili Indonesia pada Festival Wayang Internasional di Denpasar Bali.

Selama hidupnya, Enthus juga banyak menciptakan karya kreatif, sebut saja, wayang kontemporer. Misalnya saja Wayang Rai Wong (2005-2006), Wayang George Bush (2006, 2008), Wayang Saddam Husein (2006,2008), Wayang Osama bin Laden (2002), Wayang Gunungan Tsunami Aceh (2006), Wayang Walisongo (2006) untuk pentas di pondok-pondok pesantren; Wayang Harry Potter (2006), Wayang Simphony (2007), Wayang Kebangsaan (2007), dan Wayang Barack Obama.

Berbagai pengalaman di dunia kesenian wayang, hingga pengalamannya di dunia pemerintahan, berkali-kali Enthus ingin membukukan. Namun setiap kali ketemu dan ditanyakan proges angan-angannya tentang bukunya itu, ia selalu menjawab dengan senyum: "durung mas (belum mas)." Semoga saja, kelak ada yanag mau dan mampu merealisasi buku Enthus dengan segala kebesaran dan keedanannya.  

Apa itu Wayang Kebangsaan? Menurut Enthus, merupakan konsep pagelaran wayang yang mengangkat isu-isu kebangsaan dan nasionalisme. Semoga saja, organisasi pewayangan Pepadi maupun Senawangi yang kehilangan salah satu dalang kreatifnya, akan melanjutkan wayang jenis ini, terutama untuk mengisi dan mengendalikan tahun 2018-2019 sebagai tahun politik. Baiklah, Selamat istirahat panjang Kang Enthus.

 

Yusuf Susilo Hartono

Yusuf Susilo Hartono

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post