Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Dua Perupa Minahasa Menembus Jakarta

Karya John Semuel, "Menuju Kemenangan", akrilik di atas kanvas, 100 X 360 cm (4 panel). (Dok Perupa)

Perupa John Semuel dan Fadjar Sahante, sadar bahwa posisinya bersama seni rupa Sulawesi Utara, berada di "arus pinggir" seni rupa Indonesia yang terus bergerak mengglobal.

JAKARTA-KABARE.ID : Bertolak dari kenyataan dan kesadaran itu, keduanya berusaha keras supaya bisa di "arus tengah" dengan menggelar pameran di Jakarta selepas lebaran. Tepatnya di Balai Budaya, Jl. Gereja Theresia, 23-28 Juni 2018, bertajuk "#2 Minahasa : Menembus Batas", dengan kurator Yusuf Susilo Hartono.

Pameran yang didukung oleh Dinas Pariwisata Minahasa Utara dan DPRD Minahasa Utara ini, menurut rencana akan diresmikan oleh Bupati Minahasa Utara Vonnie Anneke Panambunan.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Minahasa Utara Theodora Luntungan berharap, "Semoga kegiatan ini boleh menjadi wadah pengembangan kemitraan pariwisata dalam upaya karya kreatif kita bersama."

Kedua perupa ini belajar seni rupa di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) IKIP Negeri Manado (sekarang Universitas Negeri Manado/Unima). John Semuel, mantan kuntua atau hukum tua (kepala desa), tinggal dan berkarya di Pulau Talise, berjarak sekitar 2.208 km dari Jakarta. Sedangkan Fadjar dari Pulau Bangka, tetangga Talise, merantau ke Manado, tinggal dan berkarya di sana, sambil menjadi pelayan gereja (penatua).   

Ketika Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud menggelar "Pameran Besar Seni Indonesia", John dipilih sebagai salah satu peserta di Manado (2016) dan Ambon (2017), sedangkan Fadjar dipilih sebagai peserta di NTT (2015) dan Manado (2016).

Bagi John Semuel, pamerannya di Balai Budaya ini yang kedua kalinya. Sedangkan bagi Fadjar, ini pameran pertama di Jakarta. Tahun 1990, John pameran bersama Sonny Lengkong (alm), John Rondonuwu (alm) dan Arie Tulus. Pameran "empat serangkai" itu, berhasil mengibarkan seni lukis Sulawesi Utara di tingkat nasional. Tentu saja setelah 28 tahun balik ke Jakarta, bersama Fadjar, dirinya, juga seni rupa Indonesia dan suasana Jakarta, sudah banyak perubahan.

Sampah dan Jebakan

Karya Fadjar Sahante, "Tak Terpisahkan", akrilik di atas kanvas, 110x90 cm. (Dok Perupa)

 

Menurut Yusuf, karya-karya John kali ini, melompat jauh dari karyanya sebelumnya. Baik dalam hal langgam gayanya, pilihan tema, teknik penggarapan medium, narasi warna, hingga pesan yang mau disampaikan. Akar perubahan itu, dipicu oleh spirit menjadi diri sendiri yang berkarakter. Maka dalam proses kreatifnya belakangan ini, ia melakukan perjalanan ulang alik, antara melihat keluar dan ke dalam diri, untuk mendapatkan kesadaran estetis sekaligus kesadaran etis, dan religius.

Karya-karyanya merupakan soliloqui tentang dirinya sendiri dan rahasia hidupnya, dengan simbol ikan, laut, sampah, dll. Saat melukis berukuran 3,6 meter, yang menggambarkan ikan Tindalung (Marliin Fish) dalam posisi menerobos sampah, mantan kuntua atau Kepala Desa di Talise, menangis lantaran seperti melihat dirinya sendiri, berjuang menerobos keluar dari jebakan kotoran-kotoran masa lalu. Melukis baginya, juga bisa dimaknai sebagai usaha mengeritik diri sendiri (self critic).

Sedangkan karya-karya Fadjar, langgamnya berubah, melunakkan yang "keras". Karyanya membuat bubu (Ide), kemudian ada ikan besar "terjebak" bubu, menggiring asosiasi kita pada pemberantasan korupsi dan permasalahannya.

Sedangkan pada lukisan sepanjang 7 meter dengan narasi kuda laut,  yang pada akhirnya "Un Happy Ending". Di sana Fadjar menyodorkan pertanyaan: apa itu kasih sayang? Dan bagaimana kasih sayang itu mewujud, sebelum, pada saat, dan setelah pergi. Di balik berbagai lukisan tentang ikan, laut, dan sampah sebagai metafor, terbersit ajakan untuk melihat ke dalam jiwa kita masing-masing. (rls/bas)

Baskoro Dien

KOMENTAR

Popular Post