Monday 8 May 2015 / 22:03
  • Hingga Jumat (3/4), 1.986 orang di Indonesia Positif Covid-19, 134 orang sembuh, dan 181 meninggal.
Pendidikan

Dosen ITS Buat Kapal Perang Canggih, Bisa Menyelam dan Terbang

Foto: its.ac.id

The Croc adalah kapal perang canggih buatan Dosen ITS yang dapat berubah menjadi tiga mode sekaligus, yakni kapal selam, kapal hidrofoil, dan kapal biasa pada umumnya.

SURABAYA – KABARE.ID: Wisnu Wardhana, Dosen Teknik Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil merancang kapal perang canggih yang dapat berubah menjadi tiga mode sekaligus, yakni kapal selam, kapal hidrofoil, dan kapal biasa pada umumnya.

“Tentu hal tersebut sukses menjadi temuan baru pada dunia perkapalan internasional,” klaim Wisnu dengan bangga.

Dikutip dari keterangan resmi its.ac.id, kapal perang yang diberi nama The Croc itu mulai dirancang sejak tahun 2011 dan ditargetkan selesai dibangun tahun ini. Saat ini proses pembuatan sudah mencapai 90 persen. Kapal ini dilengkapi dengan dua mesin 350 tenaga kuda, panjang 12 meter dan lebar 3 meter.

Dijelaskan Wisnu, kapal hidrofoil sendiri merupakan kapal yang memiliki bagian seperti sayap yang dipasangkan pada penyangga di bawah lambung kapal. Ketika kapal meningkatkan kecepatannya, kapal hidrofoil dapat menimbulkan gaya angkat yang menjadikan lambungnya terangkat dan keluar dari air. “Sehingga kapal terlihat seperti melayang,” imbuhnya.

Wisnu menjelaskan, kapal tersebut terbuat dari aluminium dan dirancang memiliki bobot yang ringan supaya bisa melayang, sedangkan sayapnya sendiri terbuat dari baja karbon. Ketika digunakan sebagai kapal selam, air dimasukkan ke dalam kapal untuk menurunkan posisi kapal tersebut. “Kedalamannya pun bisa mencapai sepuluh meter,” ungkap Wisnu.

Ketika menyelam, lanjut Wisnu, kecepatan kapal bisa mencapai 15 knot. Sedangkan dalam mode hidrofoil, kecepatannya bisa mencapai 35 sampai 45 knot. Wisnu mengungkapkan bahwa kapal ini cocok digunakan sebagai kapal pengintai yang bisa dipakai untuk menangkap para pencuri ikan di perairan Indonesia. Alasannya, kapal pencuri ikan tidak akan mengetahui kedatangan dari kapal perang ini ketika dalam mode selam, sehingga pencuri ikat tersebut tidak akan kabur ketika The Croc ini datang.

Dalam proses pembuatannya, Wisnu juga bekerja sama dengan TNI-AL, Kemenristek, dan beberapa pihak lainnya. Ia berharap, The Croc sebagai kapal perang buatan dalam negeri ini bisa membantu dalam menjaga pertahanan dan keamanan NKRI. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post