Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Wisata_Kuliner

Diplomasi Antarnegara Malalui Kuliner

Ilustrasi: Lodeh Salmon menu sajian dari Gallery Prawirotaman Yogyakarta. (dok. Kabare.id/ Budi Prast)

Kuliner merupakan media diplomasi sosial ekonomi paling halus untuk mempopulerkan Indonesia sebagai destinasi pariwisata yang menarik di dunia. Kuliner juga memberikan kontribusi terbesar dalam kegiatan pariwisata, yakni sekitar 30-40 persen.

JAKARTA-KABARE.ID: Kementerian Pariwisata (Kemenpar) melakukan diplomasi antar-negara melalui promosi kuliner dengan melibatkan para diaspora -warga Indonesia yang tinggal di luar negeri- untuk mempromosikan kuliner dengan cara membuka restoran di Negara yang mereka tinggali.

"Kita tidak punya banyak restoran di luar negeri. Untuk menyikapi hal tersebut, kita melakukan co-branding dengan restoran di luar negeri. Ini merupakan diplomasi kuliner yang kami lakukan.. bahkan lebih baik lagi jika kita memberikan insentif kepada diaspora yang membuka restoran menu Indonesia di luar negeri," kata Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya pada Wonderful Indonesia Gastronomi Forum 2018 di Aryaduta Hotel, Jakarta Pusat, Kamis (22/11/2018).

Menpar Arief Yahya mencontohkan kesuksesan Thailand yang memiliki nation's food Tom Yam yang dipopulerkan oleh lebih dari 16.000 restoran diaspora mereka di seluruh dunia. “Tumbuh pesatnya restoran Thailand ini tidak lepas dari peran pemerintah (mereka) yang memberikan soft loan sekitar Rp1,5 miliar untuk setiap restoran,” kata Menpar Arief Yahya.

Selain melakukan co-branding 100 restoran dispora Indonesia, hal lain yang menjadi perhatian Kemenpar adalah penetapan nation’s food rendang, nasi goreng, sate, soto dan gado-gado serta 3 destinasi kuliner Indonesia yaitu Bali, Bandung dan Joglosemar (Jogya, Solo dan Semarang).

Bentuk kerjasama yang terjadi adalah, para diaspora bisa menggunakan branding Wonderful Indonesia untuk meningkatkan nilai merek restoran. Sedangkan, para mitra juga bisa mempromosikan pariwisata melalui 5 nation's food.

Apresiasi yang sama juga diberikan oleh Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno Marsudi. Ia berpendapat agar nama makanan Indonesia yang dipromosikan dipertahankan nama aslinya, seperti nasi goreng, gado - gado, dan lain-lain.

“Dalam promosi, kita tetap harus memperhatikan keaslian makanan, tampilannya, serta bagaimana makanan tersebut dijual. Biasanya sebuah makanan akan naik nilai jualnya kalau ada cerita di baliknya. Kembangkanlah Indonesia yang majemuk dan damai. Mari dukung diplomasi kuliner Indonesia," tandas Menlu Retno. (rls/bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post