Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Diah Wijayanti, Pelestari Tari Tradisional Indonesia

Penari dari Yayasan Belantara Budaya Indonesia. (Foto: Baskoro Dien/ Kabare.id)

Berawal dari mimpinya untuk meramaikan museum di Indonesia dengan membuat sekolah tari gratis. Kini Diah K Wijayanti telah memiliki 1428 siswa yang tersebar di beberapa kota di Indonesia.

JAKARTA-KABARE.ID: Enam siswi sekolah dasar kelas 4-6 berhasil memukau penonton saat membawakan tari kreasi Topeng Gong dan tari tradisional Ondel-ondel dalam acara Jelita Berkarya di Prajawangsa City, Jakarta Timur, Sabtu (7/4).

Mereka adalah siswi Yayasan Belantara Budaya Indonesia, sebuah yayasan yang didirikan oleh Diah K Wijayanti pada 2013, untuk memberikan pelatihan tari tradisional gratis.

Dalam acara yang dihelat untuk memperingati momentum Hari Kartini tersebut, Diah bercerita mengenai suka duka saat mendirikan yayasan yang kini telah memiliki 1428 siswa tersebut.  

“Meskipun saat itu (sebelum mendirikan yayasan) saya sudah bekerja sebagai fotografer profesional dengan bayaran yang cukup besar, tapi papah mengatakan, jangan pernah bilang sama diri kamu cukup. Kamu bisa melakukan sesuatu, apapun yang kamu inginkan,” kata Diah.

Diah K Wijayanti. (Foto: Baskoro Dien/ Kabare.id)

 

Motivasi sang ayah membuatnya berani untuk mendirikan Yayasan Belantara Budaya Indonesia (YBBI) dengan modal uang beasiswa untuk S2 arkeologi di Universitas Indonesia yang diterimanya.

Dana beasiswa yang cukup besar tersebut disisihkannya sedikit dengan niat meramaikan museum yang saat itu sepi peminat. “Awalnya kepikiran untuk buat yayasan, karena sebagai arkeolog saya heran, kok museum di Indonesia sudah bagus dan keren-keren, tapi sepi peminat,” ujarnya.

Latarbelakang sebagai penari juga mengispirasinya untuk mendirikan YBBI, sekaligus mengaplikasikan tesisnya untuk membuat sekolah tari tradisional gratis. “Kemudian saya datang ke RT, RW setempat persis kampanye. Saya katakan, pak, bu saya punya sekolah tari gratis datengin ya putra putrinya,” kata Diah.

Motivasi mendirikan sekolah tari gratis juga didorong untuk melawan budaya luar, seperti KPOP yang sedang merajarela saat itu. Mulanya Diah tidak yakin, apakah anak-anak Indonesia tertarik untuk datang ke sekolah miliknya. Ia lalu bergerak gerilya dengan mendatangi Paud-Paud dari satu kelurahan ke kelurahan lainnya.

“Sekolah gratis saya sempat viral di media sosial. Ga nyangka, hari pertama latihan menari dihadiri 100 siswa yang ingin bergabung. Mereka usianya mulai dari tiga tahun sampai tidak terbatas,” kata Diah.

Penari dari YBBI unjuk kebolehan di acara Jelita Berkarya di Prajawangsa City, Jakarta Timur, Sabtu (7/4). (Foto: Baskoro Dien/ Kabare.id)

 

Antusias masyarakat menyambut sekolah tari gratis terlihat di minggu ke dua, dengan penambahan siswa mencapai 200 anak yang bergabung. “Mungkin karena dari mulut ke mulut berhasil menyakinkan bahwa sekolah saya beneran gratis. Kadang-kadang kan orang suka mikir, gratis itu hanya pancingan, ujung ujungnya minta bayaran. Saya bilang beneran gratis bu, sampai nanti anaknya pentas pun ga akan saya pungut biaya apapun,” kata Diah.

Diah mengaku tidak pernah merasa kewalahan saat mengelola sekolah gratis miliknya yang kini tersebar di beberapa kota di Indonesia. Ia bahkan merasa sanggat senang dan bangga bisa melestarikan tarian tradisional Indonesia.

Untuk mengajari ribuan siswanya, Diah sengaja mempekerjakan penari profesional, karena mempercayakan tugas tersebut pada volunteer sangat susah baginya.

“Sampai detik ini volunteer adalah PR buat saya yang belum bisa diselesaikan. Jujur saja, saya sama volunteer cukup jengkel. Awalnya mereka semangat membantu, tapi di minggu ketiga selalu ada alasan untuk pergi. Padahal siswanya banyak, akhirnya says ga mau lagi percaya sama volunteer,” katanya.

Menurutnya, volunteer boleh ada di sekitarnya, tapi tetap memiliki guru profesional yang dibayar agar tidak mengecewakan banyak orang. “Susah sekali mencari yang benar-benar ingin menjadi volunteer. Kebanyakan mereka cuma mau eksis di media sosial, habis itu ga mau lagi menjadi volunteer,” katanya.

Diah K Wijayanti saat menceritakan perjuangannya mendirikan YBBI. (Foto: Baskoro Dien/ Kabare.id)

 

Siapapun bisa bergabung di YBBI dengan datang langsung ke YBBI tedekat, kemudian mengisi formulir, membawa kain, dan selendang. “Hanya itu saja, sudah terdaftar jadi anak Yayasan Belantara Budaya Indonesia,” katanya

Diah berjanji akan tetap pada pendiriannya untuk terus melestarikan tari tradisional dan tidak akan melencerng dari itu. Menurutnya, tari tradisional bukan tidak menarik bagi generasi muda tapi karena tidak ada influencer yang memberi contoh.

“Media, TV segala macem jarang menampilkan tari tradisional. Bagaimana generasi muda bisa tahu. Tari tradisional itu bukan tidak menarik, tapi karena tidak ada contohnya,” katanya.

Ia memiliki cita-cita, sekolah-sekolah di Indonesia punya hari wajib budaya tradisional. Sehingga belajar budaya itu tidak hanya teori, tapi lebih banyak pada praktek. "Karena anak-anak itu paling gampang belajar dengan cara melihat,” katanya.

Sesi foto bersama di acara Jelita Berkarya di Prajawangsa City, Jakarta Timur, Sabtu (7/4). (Foto: Baskoro Dien/ Kabare.id)

 

Untuk itu Ia ingin menambah jumlah sekolah gratisnya agar semakin banyak dan dapat menginspirasi banyak orang. “Program ini dari hulu ke hilir bagus banget buat pelestarian budaya, tradisi dan juga ekonomi, seperti pembuat kostum, alat penunjang dan lain-lain,” ujarnya.

Ia mengaku, belum puas jika belum bisa melestarikan satu tarian di daerah tempat sekolah tarinya berdiri. Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan budaua lokal di masing masing daerahnya. “Itu yang coba saya bangun. Setiap daerah yang kita buka sekolah tari, ada tarian wajib untuk daerah tersebut. Misalnya di Jakarta, ya tari wajibnya tari Betawi,” kantanya.

Hingga saat ini, misinya untuk membuat museum menjadi ramai telah tercapai. “Bayangkan kalau siswanya ada 300, berarti ibunya juga ada 300. Belum lagi bapaknya, adiknya dan kakanya yang ikut mengantar,” kata Diah.

“Saya juga sedang membangun komunitas untuk ibu ibu siswa saya. Jadi dampaknya beragam. Belajar tarinya dapet, museum dikunjungi, anak anak juga jadi punya kelompok bermain di luar sekolahnya,” ujarnya menambahkan.

Sukses di museum, Diah punya target baru yaitu di pusat perbelanjaan (mall), agar anak-anak yang main di mall bisa belajar tradisi Indonesia. Selain anak-anak, kalangan ibu-ibu juga menjadi targetnya.

Bagian yang paling dinanti dari latihan adalah pertunjukan tari. Hingga kini, para siswa YBBI rutin menggelar pertunjukan, minimal sebulan sekali untuk tampil di mall, acara fashion show, hotel berbintang, konferensi pers dan lainnya. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post