Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Wisata_Kuliner

Desa Wisata untuk Melestarikan Peninggalan Budaya di Sekitar Yogyakarta

Puncak Kleco menawarkan pemandangan panorama Sungai Tinalah, yang membelokkan jalannya melalui hutan dan desa, sawah hijau dan pemandangan perbukitan Menoreh. (JP / Bambang Muryanto)

Sekelompok pria yang memakai kasatriyan tradisional Jawa menyanyikan lagu-lagu yang dikenal sebagai geguritan yang mengekspresikan harapan dan pujian kepada Tuhan. Ritual itu berlangsung di mata air alami bernama Ngancar di Desa Purwoharjo, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.

YOGYAKARTA-KABARE.ID: Mereka mengambil sedikit air dan menuangkannya ke kendi dan kemudian membawa kendi, bersama dengan bunga dan makanan sebagai ungkapan rasa syukur, ke puncak bukit Kleco, 700 meter di atas permukaan laut.

Setelah prosesi, penduduk dan wisatawan berpesta dengan nasi tiwul (nasi singkong) dan sayuran rebus. Pertunjukan yang terdiri dari tarian jathilan klasik (kuda mainan), musik tradisional, pembacaan puisi dan beberapa tarian lainnya dilakukan untuk menghibur penduduk dan wisatawan.

"Prosesi ini adalah bentuk penghargaan kepada Tuhan, karena mata air Ngancar terus menyediakan air sepanjang tahun untuk memenuhi kebutuhan penduduk di sekitar Bukit Kleco," kata penjaga dari Pangungan Ngancar, Wargilan, seperti diberitakan The Jakarta Post, Selasa (2/10).

Penduduk setempat juga membantu melestarikan sumber air dengan menanam pohon di bukit Kleco. Wargilan mengatakan bahwa siapa pun yang menebang pohon harus menanam yang baru untuk menebusnya.

Tarian 'jathilan' menggambarkan kisah pejuang perlawanan Pangeran Diponegoro. (JP / Bambang Muryanto)


Wahjudi Djaja, inisiator prakarsa pariwisata Kleco Peak, mengatakan warga telah melakukan prosesi dengan cara sederhana sejak 1942, tetapi dalam dua tahun terakhir, ada upaya untuk prosesi yang lebih canggih. Idenya adalah untuk mempromosikan Purwoharjo sebagai desa wisata yang dikelola oleh penduduknya, dengan Bukit Kleco sebagai daya tarik utama.

Pengunjung dapat menikmati panorama dari puncak bukit Kleco, menghadap Sungai Tinalah yang melengkung melewati pepohonan dan desa, sawah hijau dan pemandangan perbukitan Menoreh.

Pangeran Diponegoro, salah satu pahlawan nasional Indonesia, dikatakan pernah berhenti di puncak Kleco selama perjuangan gerilya di tahun 1820-an. Dia dipercaya membuat strateginya untuk melawan pasukan kolonial Belanda sambil menikmati keindahan puncak.

"Puncak Kleco adalah lokasi wisata dengan kombinasi panorama dan latar belakang sejarah yang menarik," kata Wahjudi.
 

Sekelompok laki-laki yang mengenakan pakaian tradisional Jawa untuk menyuarakan harapan dan pujian mereka kepada Tuhan. (JP / Bambang Muryanto)

 

Dia mengatakan bahwa desa wisata itu lebih dari sekadar menambah pendapatan penduduk. Desa wisata adalah pintu gerbang untuk memeriahkan situs bersejarah dan melestarikan budaya dan tradisi setempat.

Wahjudi menyatakan keprihatinan bahwa modernisasi dengan cepat menyerang Kulonprogo, setidaknya karena pembangunan bandara baru, New Yogyakarta International Airport (NYIA). Dia khawatir konsumerisme akan merusak identitas budaya warga di kabupaten setempat.

"Jika budaya (asli) mereka tertinggal, apa lagi yang bisa mereka banggakan?" kata Wahjudi menyuarakan keprihatinannya.

Responnya adalah pembentukan desa wisata di empat kabupaten, yaitu Nanggulan, Kalibawang, Samigaluh dan Girimulyo. Nama-nama dari empat kabupaten telah dimasukkan ke dalam portmanteau dari Dewi Nawangsari, karakter setengah dewi cerita rakyat Jawa.

Hari itu, di antara kelompok-kelompok Budoyo, mereka mengingatkan penduduk tentang asal-usul dan sejarah. (JP/bas)


The Jakarta Post

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post